Tinta Media – Direktur Pamong Institute, Wahyudi Al-Maroky, mengkritik narasi yang menyebut Iran “keras kepala” karena melawan tekanan Amerika Serikat (AS).
“Ada yang bilang Iran keras kepala karena melawan penjajahan Amerika yang menyerang mereka,” ujarnya dalam video Iran yang Keras Kepala atau isi Kepala & Hati kita yang keras? Di laman tiktok pribadinya Wahyudi Al-Maroky, Ahad (26/4/2026).
Menurutnya, tudingan tersebut justru menunjukkan adanya standar ganda dalam memandang perjuangan suatu bangsa mempertahankan kedaulatannya. Ia mencontohkan, jika para pejuang Indonesia dahulu tidak bersikap keras menghadapi kolonialisme Belanda, maka kemerdekaan tidak akan pernah tercapai.
“Seandainya dulu para pejuang kita tidak keras kepala melawan penjajah Belanda, mungkin hari ini kita (Indonesia) juga tidak merdeka karena tunduk dan patuh kepada para penjajah,” jelas Wahyudi
Ia menilai, narasi yang mendiskreditkan perjuangan melawan imperialisme berpotensi mengaburkan substansi persoalan, yakni adanya penolakan terhadap penjajahan dan liberalisme.
Menurutnya, publik seharusnya melihat perjuangan semacam itu sebagai bentuk resistensi yang patut diapresiasi, bukan justru dilemahkan melalui stigma negatif.
“Kalau kita belum mampu membantu para pejuang melawan penjajahan dan liberalisme, lebih baik diam, jangan justru tidak mengapresiasi dengan mengatakan mereka keras kepala,” tandasnya.
Terakhir, Wahyudi melontarkan pernyataan retoris terhadap cara pandang yang justru bisa lebih kaku dibanding pihak yang dilabeli keras kepala.
“Jangan-jangan hati kita yang keras, atau isi kepala kita yang keras sehingga menuduh orang keras kepala,” pungkasnya [] Ikbal.
![]()
Views: 5
















