FIWS: Iran Sulit Kalahkan AS Tanpa Persatuan Politik Global Umat Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Ustadz Farid Wajdi menilai Iran sulit mengalahkan Amerika Serikat (AS) karena tidak memiliki kekuatan politik global dan dukungan para penguasa Muslim dari negeri-negeri Islam yang lain.

Hal itu ia sampaikan dalam program Mbois di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Jumat (8/5/2026), bertajuk Umat Islam Lemah, bukan karena AS kuat, tetapi karena ini. Iran jadi bukti nyatanya! bersama Insan Maulana.

Farid berharap Iran mengalahkan AS. “Karena bagaimanapun Amerika adalah negara yang paling memusuhi umat Islam sekarang ini. Kalau ada negara yang mampu mengalahkan Amerika tentu suatu hal yang positif,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan pentingnya berpikir objektif. “Apakah yang bisa dilakukan Iran sekarang ini sudah cukup untuk mengimbangi atau mengalahkan Amerika apalagi pada level regional dan global, itu tampaknya masih jadi harapan,” katanya.

Menurutnya, Iran saat ini baru mampu melakukan perlawanan saat diserang dan merepotkan AS. “Sementara yang dibutuhkan umat Islam sekarang bukan sekadar merepotkan Amerika atau perlawanan balik, tapi bagaimana dominasi Amerika ini bisa dihilangkan atau paling tidak diimbangi oleh dunia Islam,” tegasnya.

Kekuatan Militer dan Ekonomi Masih Timpang

Farid memaparkan ketimpangan kekuatan internal Iran dan AS. “Dari kekuatan militer, anggaran militer AS 800 sampai 900 miliar dolar AS, bandingkan dengan Iran sekitar 15 sampai 24 miliar dolar AS. Itu jauh dan menentukan kapasitas militer sebuah negara,” jelasnya.

Ia juga membandingkan kepemilikan kapal induk dan pesawat tempur. “Amerika memiliki 11 kapal induk sementara Iran tidak punya. Amerika memiliki ribuan pesawat tempur modern. Sementara Iran memiliki keterbatasan,” bebernya.

Secara ekonomi, AS tetap unggul meski tidak mudah. “Ekonomi Amerika tentu jauh lebih besar atau unggul dibanding dengan Iran,” katanya.

Dominasi Global AS Jadi Penentu

Farid menegaskan pertarungan dua negara sangat ditentukan faktor global yang masih dikuasai AS.

“Saat sekarang faktor global dunia itu masih ada di tangan Amerika. Karena Amerika masih mendominasi kekuatan-kekuatan global dunia yang memang mereka rancang sejak awal,” ujarnya.

Ia mencontohkan PBB, IMF, World Bank, dan dominasi dolar. “PBB itu organisasi global dunia yang secara politik dalam kendali negara-negara pemenang perang yang memiliki hak veto. 58% lebih kurang cadangan devisa dunia itu memakai dolar. Jadi dolar itu masih menjadi kekuatan penting dan itu masih dalam kontrol Amerika,” paparnya.

Selain itu, AS memiliki sekutu kapitalis seperti Eropa dan NATO. “Kalau ada ancaman yang mereka persepsikan sebagai ancaman terhadap kekuatan kapitalisme global, baik Amerika dan Eropa ini akan bersatu untuk menghadapi itu,” tegasnya.

Penguasa Muslim Pro-AS Jadi Penghambat

Menurut Farid, penguasa negeri Muslim yang pro-AS menjadi faktor penghambat.

“Seandainya penguasa-penguasa Arab menutup saja langit internasional mereka, artinya pesawat Amerika tidak boleh lewat. Itu akan membuat Amerika mengalami kesulitan besar untuk menyerang negeri-negeri Islam, termasuk Iran,” ujarnya.

“Atau negara-negara Arab menutup pangkalan-pangkalan militer Amerika di negaranya, maka ini akan menyulitkan Amerika dalam melakukan serangan militer,” tambahnya.

Ia juga menyoroti kendala geografis. “Ketika Iran ingin benar-benar menghancurkan Israel, ini jadi kendala karena hampir negara-negara di sekitar Israel dalam kendali Amerika. Maka rudal-rudal Iran ditembak Yordania. Untuk serangan darat, hampir semua wilayah Palestina dikelilingi negara Arab yang penguasanya tunduk kepada Amerika,” jelasnya.

Khilafah Solusi Kekuatan Umat Islam

Farid menegaskan bahwasannya umat Islam tidak bisa hanya bersandar pada satu negara seperti Iran yang berbasis nation state.

“Iran masih berbasis kepada nation state. Artinya Iran akan lebih memperhitungkan kepentingan nasionalnya dibanding kepentingan dunia Islam secara keseluruhan. Faktor nation state ini menjadi penghambat persatuan kaum Muslimin,” ungkapnya.

Solusinya, Farid menegaskan, umat Islam harus memiliki ideologi berbeda dengan kapitalisme, mencampakkan sistem nation state, dan memutus ketergantungan pada organisasi global Barat.

“Tentu itu hanya bisa kalau umat Islam punya satu negara. Itulah yang akan bisa menyatukan kekuatan-kekuatan umat Islam ini,” tegasnya.

Karena itu, gugahnya, menegakkan Khilafah ala Minhaji Nubuwwah wajib dan rasional. “Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menyebut ulama mazhab telah sepakat wajib atas kaum Muslimin mengangkat khalifah. Karena khalifah menyatukan kaum Muslimin, membangun negara global yang bisa mengimbangi Amerika,” kutipnya.

“OKI tidak bisa diharapkan karena gabungan negara-negara berbasis nation state yang masing-masing berpikir kepentingan nasionalnya, apalagi dalam kendali Amerika,” imbuhnya.

Ia menutup dengan penegasan bahwa persatuan hakiki hanya dengan Khilafah. “Tidak terbayang hal itu terjadi kecuali umat Islam ini dipersatukan oleh negara Khilafah ala Minhaji Nubuwwah,” tutupnya. [] Langgeng Hidayat

Loading

Views: 8

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA