Tinta Media – Lebaran sudah usai. Kesibukan dan persiapan saat Lebaran pun telah selesai. Namun, pengeluaran yang cukup besar saat Lebaran membuat sebagian masyarakat harus berupaya sedemikian rupa untuk memenuhinya. Banyak yang berutang sebagai salah satu pilihan. Langkah ini sejatinya bukan hal yang tabu sepanjang dikelola dan diukur secara tepat. Pasalnya, tanpa pertimbangan dan perencanaan yang baik, utang akan menjadi persoalan yang menjerat di kemudian hari.
Karena banyaknya pengeluaran, keluarga memutuskan untuk berutang. Sedikit demi sedikit, akhirnya menjadi bukit. Kenaikan utang keluarga ini bukan tanpa alasan. Daya tahan ekonomi sebagian rumah tangga Indonesia masih lemah, harga barang terus naik, ongkos mobilitas bertambah, nilai tukar mata uang fluktuatif, dan jaring pengaman sosial belum sepenuhnya tepat sasaran.
Efeknya, banyak keluarga menghadapi tekanan sosial dan beban ekonomi yang cukup berat setelah menikmati keberkahan hari raya. Fenomena ini diperparah oleh pengaruh digitalisasi ekonomi yang menawarkan kemudahan utang, namun sering kali berujung pada jebakan finansial.
Bukannya meningkatkan kesejahteraan, perputaran ekonomi rakyat justru difasilitasi melalui utang, sementara pertumbuhan upah stagnan.
Tips mengurangi pengeluaran yang berlebih pascalebaran:
Pertama, evaluasi ulang rencana belanja pascalebaran. Tahan keinginan untuk membeli barang yang sifatnya tidak begitu penting, misalnya mobil baru, ganti motor, atau renovasi rumah. Jika belum mendesak, tunda dulu dan simpan uangnya.
Kedua, jangan bergantung pada utang konsumtif. Jangan gunakan kartu kredit atau pinjol untuk membiayai gaya hidup. Utang konsumtif hanya akan membebani kita.
Ketiga, diversifikasi mata uang jika memungkinkan. Bagi yang memiliki akses, memiliki sedikit tabungan dalam bentuk dolar AS atau emas batangan dapat menjadi pilihan. Namun, ingat, jangan berspekulasi. Ini hanya untuk proteksi.
Keempat, fokus pada produktivitas. Alangkah lebih baik memikirkan bagaimana cara menambah pendapatan. Ekonomi rumah tangga harus tetap berjalan. Jika hanya mengandalkan gaji bulanan, dalam kondisi inflasi tinggi, hal itu tidak cukup.
Kebiasaan berutang dapat membahayakan akhlak seseorang. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya seseorang apabila (sering) berutang, maka dia sering berkata lalu berdusta, dan berjanji lalu memungkiri.” (HR Al-Bukhari)
Hadis tersebut menyebutkan dua dosa akibat kebiasaan berutang, yaitu berdusta dan mengingkari janji. Hal ini masuk akal karena orang-orang yang sering berutang hingga terlilit utang biasanya akan suka berbohong dan mengingkari janjinya untuk menghindari utang-utangnya.
Teladan terbaik dalam menyambut dan menjalani Ramadan tampak pada kehidupan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka merayakan Ramadan dan Idulfitri dengan penuh kesederhanaan, tanpa berlebih-lebihan. Rasulullah ﷺ sering berbuka hanya dengan kurma dan air, bahkan dalam kondisi sangat sederhana. Para sahabat pun meneladani hal tersebut dengan lebih mengutamakan ibadah, sedekah, dan kepedulian terhadap sesama dibanding kemewahan materi.
Sebagai gantinya, Islam mendorong mekanisme ekonomi yang sehat, seperti perdagangan yang adil, zakat, infak, dan sedekah sebagai instrumen distribusi kekayaan. Negara dalam sistem Islam juga berkewajiban menyediakan lapangan kerja yang layak bagi masyarakat sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus bergantung pada utang. Selain itu, negara menjaga stabilitas harga dan nilai mata uang sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Lebih dari itu, Islam mengembalikan makna Ramadan dan Idulfitri sebagai momentum peningkatan ketakwaan, bukan ajang konsumtif yang berlebihan. Dalam suasana masyarakat yang sejahtera dan sistem yang mendukung, perayaan Lebaran akan kembali pada esensinya: kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur.
Dengan demikian, persoalan utang yang membelit keluarga saat Lebaran bukan sekadar masalah individu, melainkan akibat dari sistem yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan pun bukan parsial, melainkan menyeluruh. Sistem ekonomi Islam yang terintegrasi dengan sistem politik Islam menawarkan jalan keluar yang mampu mewujudkan kesejahteraan hakiki bagi seluruh masyarakat.
Oleh: Umma Hilmy
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 6










