Tinta Media – Idulfitri seharusnya menjadi hari kemenangan. Namun, bagi kaum Muslim di Gaza, ia hadir sebagai potret nestapa. Takbir berkumandang di antara reruntuhan, bersahut dengan tangis anak-anak yang kehilangan keluarga serta derita panjang akibat blokade dan serangan yang tak kunjung berhenti. Gaza hari ini bukan sekadar wilayah konflik, melainkan simbol luka yang terus menganga.
Sejak pecahnya perang pada Oktober 2023, jumlah korban terus meningkat dramatis. Hingga awal 2026, lebih dari 75.000 orang tewas, sekitar 80% di antaranya warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Kajian independen bahkan memperkirakan angka kematian bisa lebih dari 100.000 jiwa. Sekitar 280.000 warga kembali mengungsi dalam kondisi padat, tidak higienis, dan minim akses kebutuhan dasar. Blokade bantuan membuat layanan vital seperti rumah sakit, air bersih, dan pasokan makanan berada di ambang kolaps. Ribuan warga pun tewas saat berusaha mendapatkan bantuan makanan di tengah krisis kelaparan.
Di tengah realitas ini, perhatian dunia terseret pada eskalasi konflik yang lebih luas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Serangan balasan, perang bayangan, dan ancaman konflik regional menyita panggung global. Media internasional dipenuhi analisis geopolitik dan manuver militer. Namun, di balik gemuruh itu, Gaza kian tenggelam—terpinggirkan dan terlupakan.
Pertanyaannya, mengapa tragedi ini terus berulang? Jawabannya tidak cukup dicari pada level lokal. Gaza bukan sekadar konflik teritorial, melainkan bagian dari persoalan sistemis dalam tatanan dunia saat ini. Sistem internasional yang dikendalikan kepentingan negara besar sering menunjukkan standar ganda. Ketika kepentingan politik berbicara, nilai kemanusiaan kerap dikorbankan.
Berbagai upaya diplomasi dilakukan: resolusi dikeluarkan, bantuan dikirimkan, dan gencatan senjata diumumkan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan semua itu belum mampu menghentikan penderitaan. Bahkan, dalam periode “gencatan senjata”, serangan dan korban tetap terjadi, sementara bantuan masih terhambat.
Di sisi lain, dunia Islam yang seharusnya menjadi pelindung justru terpecah. Negara-negara Muslim lebih banyak berjalan sendiri dalam kepentingan nasional masing-masing. Tekanan politik global, ketergantungan ekonomi, serta konflik internal membuat mereka sulit tampil sebagai kekuatan kolektif yang efektif. Akibatnya, Gaza seolah berjuang sendirian.
Dalam ajaran Islam, kaum Muslim adalah satu umat. Rasulullah ﷺ menggambarkan umat Islam seperti satu tubuh—ketika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakannya. Namun, realitas hari ini menunjukkan hal yang berbeda: luka Gaza belum cukup menggerakkan kekuatan kolektif umat.
Absennya kepemimpinan politik yang mampu menyatukan dan melindungi umat Islam menjadi persoalan mendasar. Sejak runtuhnya Khilafah pada 1924, dunia Islam terfragmentasi menjadi negara-negara bangsa yang berdiri sendiri. Fragmentasi ini membuat kekuatan umat terpecah sehingga sulit menghadapi tekanan dan dominasi kekuatan global. Respons terhadap tragedi seperti Gaza cenderung terbatas pada kecaman dan bantuan, bukan tindakan strategis yang menghentikan agresi.
Sebagian pihak berpendapat solusi cukup melalui diplomasi, bantuan kemanusiaan, dan tekanan politik global. Namun, pengalaman bertahun-tahun menunjukkan pendekatan ini belum mampu menghentikan siklus kekerasan yang berulang. Karena itu, muncul gagasan perlunya sistem kepemimpinan yang lebih kuat dan terintegrasi di dunia Islam—yang bersifat nyata, bukan sekadar simbolis.
Dalam perspektif Islam, konsep Khilafah dipandang sebagai bentuk institusi pemersatu. Idealnya, sistem ini melindungi rakyat, menegakkan keadilan, dan menjaga kedaulatan wilayah. Tentu implementasi dalam dunia modern, sistem negara-bangsa, dan geopolitik global menghadirkan tantangan besar. Karena itu, pembahasan solusi perlu dilakukan secara mendalam, rasional, dan terbuka.
Yang jelas, Gaza hari ini adalah cermin kegagalan sistem global dalam menghentikan penderitaan manusia secara berkelanjutan. Ia bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga peringatan: tanpa persatuan yang kuat dan kepemimpinan efektif, penderitaan bisa terus berulang, tidak hanya di Gaza, tetapi juga di wilayah lain.
Idulfitri seharusnya menjadi momentum kemenangan. Namun, kemenangan macam apa yang dirayakan ketika sebagian umat masih hidup dalam ketakutan, penjajahan, dan kehilangan? Sudah saatnya umat tidak hanya berhenti pada empati dan solidaritas emosional, tetapi juga mengambil langkah strategis dan kolektif untuk perubahan nyata. Tanpa itu, Gaza akan terus tenggelam—dan dunia hanya menyaksikannya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Imma Kurniati
Pejuang Dakwah Muslimah Banyumas
![]()
Views: 1
















