Muharam, Momentum Hijrah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Alhamdulillah, kita sudah bertemu kembali dengan bulan Muharam. Tanpa terasa, tahun sudah berganti kembali. Umur angkanya bertambah lagi. Kita masih saja tetap begini.

Muharam merupakan salah satu bulan yang dikategorikan sebagai empat bulan haram, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Ada satu tanggal spesial di bulan Muharam, yaitu tanggal 10 Muharam, yang disampaikan di dalam hadis bahwa apabila berpuasa pada tanggal 10 Muharam, maka Allah akan mengampuni dosa setahun yang telah lalu.

Berbicara mengenai bulan Muharam tidak lepas dari kisah hijrahnya Rasulullah. Kita ketahui bersama bahwa Rasulullah adalah suri teladan kita dalam hidup, termasuk dalam berdakwah. Perjalanan dakwah Rasulullah dimulai ketika berada di Makkah. Rasulullah menerima wahyu yang pertama pada umur 40 tahun. Kemudian selama 13 tahun beliau mengemban dakwah di Makkah, dari yang sembunyi-sembunyi sampai terang-terangan. Hingga banyak suka duka dakwah yang Rasulullah hadapi, mulai dari cacian, makian, hinaan, dikatakan gila, dikatakan penyihir, dilempari kotoran, dilempari otak unta, diludahi, sampai pada kabar bahwa beliau akan dibunuh oleh kaum Quraisy. Sehingga, turunlah dalil perintah untuk berhijrah. Kemudian hijrahlah Rasulullah ke Madinah.

Lalu, kenapa hijrah dijadikan patokan awal tahun? Pada masa Umar bin Khaththab, berawal dari surat-surat yang dikirim oleh Abu Musa Al-Asy’ari, Gubernur Bashrah, tanpa tanggal dan bulan. Kemudian Umar mengajak para sahabat untuk berunding mengenai pembentukan kalender Hijriah. Ada empat pendapat:

1. Kalender dimulai dari masa kelahiran Rasulullah.
2. Kalender dimulai pada masa Rasulullah diangkat menjadi nabi.
3. Kalender dimulai ketika Rasulullah wafat.
4. Kalender dimulai dari Rasulullah hijrah.

Kemudian ditetapkanlah bahwa kalender Hijriah dimulai dari ketika Rasulullah hijrah, yaitu bulan Muharam.

Hijrah adalah asal kata dari hajara yang artinya berpindah. Dalam makna syar’i, hijrah adalah berpindah dari darul kufur kepada darul Islam, seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah, berpindah dari Makkah yang penuh dengan kejahiliahan kepada Madinah yang penuh dengan Islam.

Mengenai seputar jahiliah, ada empat tipe jahiliah dalam Al-Qur’an:

1. Jahiliah akidah dalam Surah Ali Imran ayat 154. Banyak terjadi penistaan agama, kemaksiatan seperti perzinaan, pembunuhan, perjudian, bahkan penyimpangan seperti LGBT.
2. Jahiliah penampilan dalam Surah Al-Ahzab ayat 33. Aurat dipertontonkan, muslimah berjoget ria di depan kamera, dan ikut-ikutan budaya kaum kafir.
3. Jahiliah fanatisme (kesukuan) dalam Surah Al-Fath ayat 26. Genosida Palestina sampai hari ini masih belum selesai, tetapi kita masih hanya sibuk dengan urusan negara masing-masing, padahal Palestina adalah saudara kita.
4. Jahiliah hukum dalam Surah Al-Maidah ayat 50. Tidak ada satu negara pun saat ini yang menetapkan hukum Allah, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahkan di negeri yang mayoritas muslim sekalipun, semua berhukum dengan buatan manusia.

Kekacauan yang terjadi di bumi saat ini karena tidak diterapkannya aturan Allah, syariat Allah, Al-Qur’an, dan hadis. Di momen Muharam ini, marilah sama-sama kita hijrah dari sistem buatan manusia ini kepada sistem Islam. Mari perjuangkan penerapan hukum Allah, syariat Al-Qur’an, dan As-Sunnah agar terciptanya negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dan negeri yang rahmatan lil-‘alamin.[]

Oleh: Indah Rangkuti
Guru Pekanbaru

Loading

Views: 15

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA