Korupsi: Luka Sistemik, Bukan Hanya Salah Individu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Tiap hari kita mendengar berita yang sama—korupsi lagi, korupsi lagi—seolah tidak ada hentinya.

Baru saja Kepala BGN ditangkap. Belum selesai proses hukumnya, banyak pejabat lain yang  ikut terseret.  Ada lagi Jampidsus yang tertangkap dengan emas dan uang dalam jumlah fantastis—uang rakyat.

Mengapa Bisa Terjadi?

Korupsi di negeri ini bukan lagi soal oknum. Ini adalah masalah sistemik. Selama proyek-proyek hanya menguntungkan segelintir orang, maka lingkaran ini tidak akan putus.

Untuk menjadi pejabat, tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan.  Akibatnya, setelah menjabat, mereka sibuk mengembalikan “modal”. Mereka mengatasnamakan rakyat untuk naik, lalu menyengsarakan rakyat setelah berkuasa, ditambah lagi lemahnya penegakan hukum. 

Allah mengingatkan, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil …” (QS. Al-Baqarah: 188)

Hukuman tidak membuat jera. Akhirnya, kasus korupsi makin bertambah.

Lalu di mana letak rusaknya? Budaya korupsi ini lahir dari sistem kapitalisme  yang berasaskan manfaat. Jadi, selama ada manfaatnya, tetaplah dipakai meskipun mantan koruptor. Hukumnya tidak berhukum dengan hukum Allah, sehingga pejabat meng halalkan segala cara untuk menjadi pejabat.
Pejabat tidak dipilih berdasarkan kemampuan dan keahlian dalam menyelesaikan masalah. Mereka tidak ditempatkan sesuai kapasitasnya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran.” Ditanya: Bagaimana menyia-nyiakannya? Beliau menjawab: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya.” (HR. Ahmad)

Hasilnya? Bukan menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru.

Ditambah lagi politik berbiaya tinggi.
Ini menormalisasi korupsi sebagai cara “mengembalikan modal”.

Lalu, bagaimana seharusnya? Dalam Islam, pejabat dipilih berdasarkan kemampuan dan keahlian. Tidak perlu mengeluarkan biaya apa pun, karena mereka adalah pelayan umat. 
Kinerja mereka diawasi masyarakat. Tidak ada celah untuk korupsi.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya …” (QS. An-Nisa: 58)

Gaji pejabat tidak sebesar sekarang. Bahkan, ada yang merelakan gajinya untuk kepentingan umat. Mereka menjabat karena amanah. Mereka yakin selalu diawasi Allah. 

Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya …” (HR. Bukhari & Muslim)

Tujuannya satu, menyejahterakan umat.
Lihatlah teladan Umar bin Khattab. Beliau takut jika ada jalan berlubang dan seekor keledai tergelincir. Beliau takut jika ada janda dan anaknya menangis karena lapar.

Umar sendiri yang memanggul karung beras, memasak, dan menyuapi anak-anak itu hingga kenyang.  Karena bagi beliau, kesejahteraan umat adalah amanah. Begitulah para sahabat menjaga amanah kepemimpinan. Dengan rasa takut akan tanggung jawab yang dipikul.

Penutup

Selama sistem tidak dibenahi, selama amanah tidak dikembalikan pada ahlinya,
maka korupsi akan terus menjadi luka yang menganga di negeri ini.

Oleh: Suparti
Pejuang Dakwah

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA