Tinta Media – Individu dengan tingkat financial maturity yang lebih baik cenderung mampu menyesuaikan gaya hidup dengan kapasitas pendapatan, mengelola risiko, serta membangun prioritas jangka panjang. Sebaliknya, tanpa kedewasaan finansial tersebut, tekanan ekonomi yang sudah berat dapat semakin diperparah oleh keputusan-keputusan yang emosional dan kurang terukur (Kompas.com, 3/5/2026).
Kondisi Gen-Z saat ini cukup memprihatinkan. Sebanyak 48% merasa tidak aman dalam hal finansial dan ekonomi. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga kebutuhan pokok, terbatasnya lapangan kerja, serta lambatnya kenaikan gaji atau pendapatan. Itulah tantangan berat yang harus dihadapi Gen-Z saat ini. Tuntutan hidup yang sering kali tidak sebanding dengan kondisi ekonomi membuat masa depan generasi makin tidak menentu.
Pengaruh gaya hidup hedonis di tengah problem ekonomi yang kian sulit membuat generasi mengambil langkah pendek dan emosional dalam memenuhi kebutuhan. Di tengah kepenatan, gaya hidup yang tidak sesuai harapan mendorong mereka menerima situasi serta menjalani dan mengelola pendapatan sesuai kemampuan. Hal-hal kecil seperti healing dan berbelanja cukup membuat mereka melepas penat setelah mendapatkan upah. Sementara itu, untuk memikirkan kebutuhan yang lebih besar, seperti memiliki rumah untuk masa depan, masih terasa berat dan bahkan sangat jauh dari harapan.
Penerapan sistem kapitalisme di negeri ini membuat kondisi ekonomi semakin sulit dan mengimpit. Kebutuhan hidup semakin mahal tanpa diimbangi kenaikan gaji atau pendapatan. Lapangan kerja pun tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja sehingga pengangguran terus menumpuk. Inilah problem besar bagi Gen-Z. Harga kebutuhan pokok yang melambung tanpa diimbangi kenaikan pendapatan menunjukkan sebagian potret kegagalan negara dalam mengatasi persoalan generasi. Mereka dipaksa berjuang sendiri, menciptakan lapangan kerja sendiri, atau tetap bertahan dengan menerima pekerjaan apa pun, meski jauh dari ekspektasi. Mereka dipaksa bertahan hidup dengan pendapatan yang tidak sesuai harapan.
Sistem kapitalisme-sekuler yang membuat beban ekonomi kian berat mendorong Gen-Z mencari pemuasan melalui self-reward, healing, dan budaya belanja. Peran media sosial yang gencar menyasar generasi dengan tren populer turut memicu FOMO dan perilaku belanja impulsif.
Sekularisme menjadikan kehidupan Gen-Z semakin jauh dari aturan agama. Apa yang mereka capai bukanlah mencari keridaan Allah Swt., melainkan sebatas capaian dunia sebagai pelampiasan hawa nafsu. Bagi mereka, kebahagiaan adalah berlimpahnya materi dan terpenuhinya segala keinginan, meski dengan cara yang tidak diridai Allah Swt. Gaya hidup hedonis terkadang membuat mereka menghalalkan segala cara; yang penting, keinginan tercapai.
Kondisi ini sangat berbeda ketika syariat Islam diterapkan dalam institusi negara, yaitu Khilafah. Dalam Islam, negara adalah raa’in (pengurus) kepentingan rakyatnya. Semua kebutuhan dasar publik, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan, dipastikan pemenuhannya oleh negara melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA). Air, padang rumput, dan bahan tambang merupakan milik umum yang harus dikelola oleh negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Negara juga menyediakan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki penanggung nafkah, termasuk Gen-Z, sehingga mereka tidak harus berjuang sendiri.
Dalam kitab Nizamul Islam, bab Sistem Ekonomi pasal 153, disebutkan, “Negara menjamin lapangan kerja bagi setiap warga negara” (Syekh Taqiyuddin An-Nabhani). Islam juga menutup pintu gaya hidup hedonis serta melindungi generasi dari ancaman konten yang merusak, seperti sekularisme, kapitalisme, HAM, dan turunannya. Media sosial di dalam negara Khilafah dibatasi pada konten yang tidak bertentangan dengan syariat, bahkan diarahkan untuk mengedukasi dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.
Negara Khilafah berdiri di atas asas akidah Islam. Akidah Islam menjadikan tujuan hidup manusia pasti, yaitu hanya beribadah kepada Allah Swt. Ketaatan dan penghambaan hanya kepada Allah semata tanpa keraguan sedikit pun. Dengan demikian, akan tercipta generasi hebat dan bertakwa yang hidup dengan kepribadian Islam yang kuat. Islam membawa manusia mewujudkan tujuan hidup yang benar. Mekanisme inilah yang menjadikan generasi Islam mampu mengukir peradaban dengan tinta emasnya. Sejarah akan berulang kembali. Islam, dengan izin Allah, akan berjaya kembali di muka bumi ini, menguasai dunia dengan peradabannya yang gemilang, dengan kembalinya Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah di tengah umat. Kabar gembira ini telah disampaikan Rasulullah kepada umat Islam. Wallahu a’lam.
Oleh: Finis
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 4
















