Taat pada Pemimpin, Bukan Taat pada Kezaliman

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Taat kepada _ulil amri_/pemimpin memang dianjurkan oleh Nabi ﷺ.  Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kamu …” (QS. An-Nisa: 59)

Namun, perlu kita cermati: pemimpin seperti apa yang harus kita taati? Apakah pemimpin yang menjalankan amanah dengan syariat Islam— sebagai pelayan umat?  Atau pemimpin yang hanya mengisi kekuasaan dengan orang-orang yang loyal kepada mereka?

Sebagian orang menganggap demonstrasi sebagai bentuk pembangkangan. 
Padahal, sebagai masyarakat, kita mempunyai kewajiban mengontrol setiap kebijakan yang dikeluarkan pemimpin. 

Rasulullah ﷺ bersabda, “Agama adalah nasihat.”  Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?” Beliau menjawab:  “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan umat Islam pada umumnya.”  (HR. Muslim)

Nasihat untuk pemimpin merupakan bagian dari agama. Kita wajib mendukungnya jika kebijakan itu untuk kemaslahatan umat dan sesuai syariat Islam.

Lalu, bagaimana jika pemimpin mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat? Apakah kita harus diam dan sabar menghadapi kezaliman?

Jika kita hanya diam, maka bukan hanya kebijakan jangka pendek yang rusak, tetapi juga kebijakan jangka panjang yang berdampak pada generasi selanjutnya.

Contohnya kebijakan tentang hutan, sumber daya alam, dan ekosistem laut. 
Itu semua harus kita jaga kelestariannya untuk anak cucu kita. Apa kita harus diam saja?

Belum lagi pajak yang terus membebani rakyat kecil. Akhirnya, dana sistem pendidikan dikurangi hanya untuk program yang tidak terlalu urgen, seperti MBG, Koperasi Merah Putih, dan program lain dengan dana fantastis, tetapi mudharatnya lebih banyak.

Ada juga “Sekolah Rakyat”, padahal masih banyak sekolah dengan gedung yang ada, tetapi muridnya tidak ada. 
Belum lagi riba yang seolah dinormalisasi. Padahal, Allah berfirman,

“Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba …” (QS. Al-Baqarah: 275)

Begitu juga dengan pajak. Allah hanya mewajibkan zakat 2,5%, sedangkan pajak pemimpin kita lebih dari 10%.  Apakah kebijakan seperti ini harus kita hadapi hanya dengan sabar dan doa, lalu tetap taat?

Bagaimana Islam Mengajarkan?

Dalam Islam, pemimpin adalah pelayan umat yang harus ditaati selama kebijakan dan aturannya sesuai syariat Islam. Lihatlah bagaimana umat sangat taat kepada para khalifah. Namun, ketika ada koreksi dari umat, khalifah berusaha memperbaiki. Bahkan, khalifah senantiasa meminta pendapat orang yang ahli.

Masih ingatkah kisah Khalifah Umar bin Khattab? Beliau pernah membatasi mahar wanita hanya 400 dirham. Lalu, ada seorang wanita yang mengingatkan beliau dengan surat An-Nisa ayat 20. Maka, Umar bin Khattab tidak marah. Beliau meminta maaf dan mengubah kebijakannya sesuai aturan Allah.

Penutup

Kebesaran hati seorang pemimpin bukan terletak pada seberapa kuat mempertahankan kebijakan meski merugikan, tetapi pada keberaniannya menerima kritik dan mau mengubahnya jika tidak sesuai dengan aturan Allah. Ia akan senantiasa menerapkan aturan yang jika dilanggar akan merugikan seluruh umat yang berlindung pada kepemimpinannya.

Penulis: Suparti
(Pejuang Dakwah)

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA