Tinta Media – Baru-baru ini, data HIV di Kabupaten Sidoarjo viral di media sosial. Kementerian Kesehatan menyampaikan kepada masyarakat agar tidak memberikan stigma negatif sebelum memahami informasi secara menyeluruh. Sejak 2001 hingga Juni 2026, data situasi HIV di Kabupaten Sidoarjo tercatat sebanyak 1.183 kasus pada kelompok usia 0–24 tahun (Detik.com, 26/7/2026).
Setiap tahun terjadi kenaikan jumlah kasus seiring dengan meluasnya layanan tes HIV di berbagai fasilitas kesehatan, seperti puskesmas, klinik, rumah sakit, hingga layanan berbasis komunitas. Sebanyak 117 kasus dari total 1.183 ODHIV terjadi pada kelompok usia 0–10 tahun yang penularannya melalui ibu ke anak. Kejadian tersebut menegaskan bahwa Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), mulai dari skrining HIV pada ibu hamil hingga memastikan keberlanjutan terapi bagi ibu dan bayi, harus diperkuat.
Tingginya kasus HIV sungguh sangat mengerikan. Generasi muda yang seharusnya menjadi tonggak peradaban justru terjangkit penyakit mematikan. Maraknya kasus HIV bukan sekadar masalah perilaku individu. Sering kali, anak tertular HIV ketika menjadi korban kekerasan seksual. Mirisnya, pelaku justru merupakan orang-orang terdekat. Bisa jadi, pelaku kekerasan seksual tersebut merupakan penderita HIV/AIDS. Namun, penularan HIV/AIDS juga dapat terjadi akibat gaya hidup sekuler, seperti melakukan hubungan seksual atas dasar “mau sama mau” tanpa status pernikahan atau karena perselingkuhan. Penularan HIV juga bisa terjadi secara tidak langsung, seperti seorang istri yang tertular HIV dari suaminya yang gemar berganti-ganti pasangan, baik perempuan maupun laki-laki.
Jika ditelaah lebih dalam, maraknya kasus HIV yang menimpa remaja merupakan masalah sistemik, bukan sekadar kelalaian perilaku individu. Akar penyebab tingginya kasus HIV adalah penerapan sistem demokrasi beserta turunannya, yaitu sekularisme, kapitalisme, dan liberalisme. Sekularisme menjadikan manusia hidup jauh dari nilai-nilai Islam. Islam hanya dipandang sebagai agama ritual semata dan dijauhkan dari kehidupan. Kondisi tersebut melahirkan kebebasan berperilaku dan menimbulkan berbagai kerusakan. Remaja bebas bergaul dengan siapa pun yang mereka sukai. Kebebasan ini dianggap wajar dengan alasan hak asasi manusia.
Inilah kesalahan fatal dari paradigma sekularisme. Kondisi ini merupakan persoalan sistematis yang harus diselesaikan secara sistemik pula. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan dengan solusi parsial. Di sinilah pentingnya membaca akar masalah secara mendasar: sebenarnya, apa yang menyebabkan kasus HIV makin meningkat saat ini?
Sementara itu, upaya pencegahannya hanya sebatas edukasi seksual (safe sex) yang tidak menyentuh akar masalah. Dalam edukasi seksual, hanya disampaikan tentang risiko gangguan kesehatan, seperti terjangkit penyakit menular hingga kehamilan yang tidak diinginkan. Bahkan, pemerintah justru menyediakan alat kontrasepsi, seperti kondom, yang dijual bebas.
Oleh sebab itu, jika ingin menyelamatkan generasi dan menghilangkan penyakit HIV, perlu dilakukan perubahan mendasar terkait aturan yang digunakan untuk mengatur kehidupan manusia. Untuk mengatasi kasus HIV yang terjadi pada pelajar, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah membangun sistem pergaulan Islam. Sistem pergaulan Islam akan menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan sehingga masing-masing dapat terjaga kehormatannya.
Dalam Islam, laki-laki dan perempuan sama-sama dituntut untuk menjaga pandangan. Islam juga melarang mendekati zina dengan mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan, kecuali dalam hal-hal yang dibolehkan syariat. Islam juga mengatur agar perempuan yang telah balig menutup aurat secara sempurna atau sesuai syariat.
Islam juga mengatur pernikahan. Jika seseorang telah memiliki rasa suka kepada lawan jenis, ia dianjurkan untuk menikah. Tidak boleh melakukan perbuatan yang melanggar aturan, seperti seks bebas, kumpul kebo, dan sebagainya. Namun, jika ada yang melanggar ketentuan syarak, hukum Islam akan menindak dengan tegas tanpa pandang bulu. Sanksi Islam menjadi penggugur dosa dan memberikan efek jera bagi para pelaku penyimpangan.
Begitu juga dengan penerapan sistem pendidikan Islam yang berbasis akidah Islam. Jika diterapkan, akan lahir para pelajar yang memiliki kepribadian Islam dan tidak mudah tergelincir ke dalam perbuatan yang melanggar syariat. Pendidikan Islam akan mengintegrasikan materi kesehatan reproduksi dengan ilmu tentang akhlak dan pergaulan.
Menjaga kesehatan tubuh dan organ reproduksi merupakan kewajiban dan bagian dari ibadah. Dengan demikian, akan tumbuh kesadaran bahwa semua yang ada pada diri manusia merupakan amanah yang harus dijaga. Begitu pula kesadaran bahwa segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Untuk menyelesaikan masalah HIV dan pergaulan bebas, diperlukan ketakwaan individu, kontrol masyarakat melalui amar makruf nahi mungkar, serta peran negara. Negara harus menerapkan syariat Islam secara kafah dalam setiap aspek kehidupan. Walhasil, Islam adalah pemecah problematika kehidupan, termasuk masalah HIV.
Untuk itulah penting adanya sekelompok orang yang terus melakukan dakwah Islam ideologis ke tengah masyarakat secara terus-menerus. Harapannya, masyarakat dapat memahami bahwa berbagai persoalan yang terjadi saat ini merupakan akibat dari penerapan sistem yang salah dan rusak serta mau menerima Islam sebagai aturan dalam kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Dartem
(Sahabat Tinta Media)
![]()
Views: 2
















