Tinta Media – Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, menyampaikan peringatan keras di hadapan Dewan Keamanan PBB terkait potensi ledakan konflik berskala besar di Tepi Barat. PBB melaporkan bahwa aksi brutal tentara dan pemukim ilegal Israel di wilayah tersebut telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hingga pertengahan Agustus 2026, sebanyak 76 warga Palestina dilaporkan syahid sepanjang tahun ini, 18 di antaranya merupakan anak-anak.
Kekejaman fisik ini diperparah dengan penggusuran massal yang menyebabkan sekitar 3.800 warga Palestina kehilangan tempat tinggal. PBB juga mencatat lebih dari 1.430 insiden serangan langsung yang meneror 260 komunitas di Tepi Barat. Fakta yang lebih mengerikan diungkapkan oleh perwakilan UNICEF. Sepanjang Januari 2024 hingga Juli 2026, terdapat 174 anak Palestina tewas, lebih dari 1.500 anak luka-luka akibat peluru tajam, dan setidaknya 355 anak saat ini mendekam di dalam tahanan militer Israel.
Angka-angka statistik yang dirilis badan dunia tersebut menyingkap tabir kegelapan yang sesungguhnya. Kejahatan entitas Zionis Israel terhadap anak-anak Palestina terbukti sangat biadab, menjijikkan, serta melampaui batas kemanusiaan. Serangan-serangan terstruktur ini sengaja dirancang untuk menimbulkan trauma psikologis yang mendalam, penderitaan fisik, serta kehancuran masa depan generasi muda Palestina.
Dari aspek geopolitik, lonjakan teror, ribuan serangan, pengusiran paksa, serta penahanan sepihak ini merupakan strategi “genosida dalam senyap” (silent genocide). Skenario ini dijalankan secara sistematis untuk mencengkeram dan menguasai wilayah Tepi Barat secara utuh. Zionis hendak mengulangi pola aneksasi berdarah yang sebelumnya telah mereka lakukan di Jalur Gaza.
Ironisnya, di tengah kekejaman yang begitu kasatmata, dunia internasional seolah mati rasa. Dewan Keamanan PBB hanya sibuk menggelar sidang demi sidang tanpa tindakan sanksi militer yang konkret. Lebih memilukan lagi, para penguasa di negeri-negeri Muslim di sekitar Palestina justru memilih bungkam. Mereka terjebak dalam sekat diplomasi meja bundar dan tidak memiliki keberanian politik maupun militer untuk mengerahkan pasukan demi memerangi entitas Zionis. Menghadapi situasi Tepi Barat yang berada di ujung tanduk, umat Islam harus kembali pada pandangan ideologis yang tegas sesuai dengan tuntunan syariat.
Dalam pandangan Islam, membiarkan kejahatan kemanusiaan dan pembantaian terhadap anak-anak serta kaum Muslimin hukumnya haram secara total. Diamnya para penguasa Muslim terhadap darah yang tertumpah di Palestina merupakan bentuk kelalaian syar’i yang besar.
Tragedi Palestina tidak akan dapat diselesaikan secara parsial atau melalui bantuan logistik semata. Ikatan ukhuah islamiah harus diwujudkan dalam bentuk persatuan politik yang riil. Penegakan kembali institusi Khilafah Islamiah merupakan urgensi utama demi menyatukan seluruh potensi pertahanan umat Islam global.
Pembebasan bumi Palestina secara nyata hanya dapat terwujud melalui pengerahan kekuatan bersenjata yang sah. Oleh karena itu, partai politik ideologis di tengah umat wajib terus-menerus menggaungkan seruan jihad dan mendesak pengiriman tentara-tentara Islam dari negeri-negeri Muslim ke medan pertempuran. Hanya melalui kepemimpinan global yang berdaulat dan komando militer yang independen, cengkeraman Zionis di Tepi Barat dan seluruh tanah Palestina dapat dihancurkan hingga ke akar-akarnya.
Oleh: Asyrofah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 2
















