Ketika Islam Hilang dari Dunia Kesehatan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Beberapa waktu lalu, dunia kesehatan digegerkan oleh berita yang sangat mencoreng nama baiknya. Bagaimana tidak, di tengah banyaknya masyarakat yang menggantungkan harapan pada BPJS untuk meringankan mahalnya biaya pemeriksaan dan pengobatan di rumah sakit, muncul sebuah unggahan di media sosial Threads milik Yurizal Tri Haerawan. Dalam utasnya, ia menulis, “Delapan jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS.” Unggahan tersebut kemudian direspons dengan komentar yang tidak pantas dari sejumlah tenaga medis yang justru menyudutkan pasien yang membutuhkan penanganan cepat. Pasien tersebut terlantar karena kurangnya penanganan selama delapan jam hingga akhirnya meninggal dunia.

Salah satu yang berkomentar adalah tenaga medis dengan kompetensi akademik yang mumpuni, dr. Elda Putri Rahardini, M.B., Ph.D. (atau M.D., Ph.D.), yang menyandang gelar doktor Ph.D. di bidang Cardiovascular Science dari Kobe University, Jepang. Ia menulis komentar, “PP-nya kayak orang have tapi aslinya haven’t kah? Haven’t some brain cells.” Sungguh ironis, seorang tenaga medis justru ikut mengejek pasien yang sedang membutuhkan pertolongan. Bukankah dengan segala pengaruh yang dimilikinya, ia seharusnya dapat sedikit membantu?

Dari kasus ini, kita dapat memahami bahwa masih terdapat ketidakstabilan dan kecacatan dalam program BPJS. Meskipun menggunakan BPJS, masyarakat tidak selalu merasa dimudahkan, tetapi justru dipersulit dengan berbagai prosedur. Padahal, sebagaimana kita ketahui, program ini memungut iuran dari hasil keringat setiap rakyat tanpa terkecuali, sesuai dengan kelas yang dibayarkan setiap bulan.

Sudahlah sakit, masyarakat masih harus memikirkan biaya pengobatan. Walaupun ada program BPJS, prosedurnya ternyata cukup rumit. Belum lagi penanganan terhadap pasien BPJS yang terkadang kurang maksimal.

Di sinilah umat harus mulai terbuka bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, bahkan dalam dunia medis sekalipun. Tidak akan ada lagi ketimpangan jika Islam hadir dalam dunia kesehatan masyarakat. Tidak ada lagi istilah si kaya dan si miskin; semua memiliki hak yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

Islam memandang bahwa masalah kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab negara. Negara membiayai pelayanan kesehatan bagi seluruh umat dengan menggunakan dana baitulmal yang bersumber dari kekayaan milik umum yang dikelola negara. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu memikirkan mahalnya biaya pemeriksaan dan pengobatan yang selama ini begitu membebani pasien. Keadilan, kenyamanan, dan kesejahteraan akan dirasakan oleh seluruh umat ketika semua aspek kehidupan diatur oleh Islam, termasuk aspek kesehatan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Resa
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA