Tinta Media – Curang dilakukan karena dianggap menguntungkan, sementara jujur tidak menjadi pilihan ketika dianggap merugikan. Dalam sistem kapitalisme, banyak orang berhitung untung rugi dengan meninggalkan ajaran Islam yang lurus dan mulia sehingga berdusta menjadi hal biasa. Tipu-menipu dalam bisnis dianggap sebagai cara logis untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Kita diingatkan untuk tidak berbuat curang dalam Al-Qur’an, surah Al-Mutaffifin ayat 1. Allah berfirman, “Celakalah bagi orang-orang yang curang.” Logika manusia yang tidak dilandasi iman dan takwa sering membawa kepada kehancuran tanpa disadari. Berbuat curang yang merugikan orang lain dianggap menguntungkan, padahal hal itu dapat membuat seseorang celaka dan menghancurkan dirinya sendiri.
Sebagai contoh, ketika membeli sesuatu, seseorang meminta timbangannya dipenuhi. Namun, saat menjual, timbangannya justru dikurangi. Allah berfirman, “Celakalah orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” Dalam surah Al-Mutaffifin, kita diingatkan untuk tidak berbuat curang agar hati tenang dengan rezeki yang halal dan berkah. Sebaliknya, mereka yang curang akan mendapatkan kecelakaan.
Begitu pula ketika menjual barang, kualitasnya harus disampaikan secara jujur dan tidak ada yang disembunyikan agar pembeli tidak kecewa dan tetap kembali membeli di kemudian hari. Sebaliknya, jika kita berbohong dengan menyebut barang berkualitas bagus sambil menyembunyikan kekurangannya, pelanggan akan kehilangan kepercayaan. Sungguh rugi jika kita curang karena hal itu dapat menjadi awal kehancuran usaha yang sedang kita bangun.
Jangan hanya menghitung keuntungan sesaat dengan berbuat curang, tetapi ingatlah bahwa dalam bisnis, kepercayaan sangat dibutuhkan. Perbuatan curang hanya akan membawa malapetaka dan menghancurkan usaha sendiri. Itu baru hukuman di dunia bagi mereka yang curang, terlebih lagi hukuman di akhirat jauh lebih berat karena telah merugikan banyak orang.
Saat merintis usaha, kita harus mengawalinya dengan membangun kepercayaan agar usaha dapat maju. Tidak hanya itu, hati akan terasa tenang dan rezeki yang dihasilkan menjadi berkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kejujuran dalam berusaha dan bekerja juga merupakan bentuk ibadah. Jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah, seseorang akan mendapatkan pahala sebagai bekal ketika kelak kembali kepada-Nya.
Terlebih jika menjadi pejabat atau penguasa yang curang, hukumannya jauh lebih berat karena telah merugikan banyak orang. Mereka bangga menggunakan uang negara dengan alasan demi rakyat, padahal hanya menguntungkan diri sendiri, para pejabat, dan para penjilat. Mereka merasa aman selama bisa mengambil hati penguasa karena hukum menjadi alat penguasa untuk melindungi kepentingan mereka dan para pejabat yang suka menjilat. Namun, tidak ada kekuasaan yang abadi karena Allah dapat mencabut kekuasaan dari siapa saja yang Dia kehendaki.
Dunia ini juga sementara. Sungguh rugi dan celaka bagi siapa saja yang berbuat curang. Apa pun profesi ataupun usaha kita, jujur dan amanah adalah pilihan hidup yang benar agar kita selamat, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Jangan mengejar keuntungan sesaat di dunia dengan mengorbankan keberkahan hidup dan menghadirkan banyak masalah. Jujurlah agar hidup kita terasa lebih mudah dan indah.
Oleh: Mochamad Efendi
(Sahabat Tinta Media, Sidoarjo)
![]()
Views: 2
















