Tinta Media – Ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan mengungkap dua pola bergabungnya pemilik modal dengan kekuasaan. “Nah, bagaimana pola bergabungnya pemilik modal dengan kekuasaan. Bergabungnya pemilik modal dengan kekuasaan itu bisa melalui dua cara,” tuturnya dalam video Dunia Ini Cuma Panggung Oligarki, Kamis (22/5/2025) di kanal YouTube Justice Monitor.
Ia menyebutkan bahwa pola pertama, yakni pemilik modal menanamkan bonekanya untuk menjadi penguasa. “Dengan cara ini pemodal misalnya memberikan dukungan modalnya kepada calonnya agar kemudian dia menang dalam kontestasi demokrasi,” bebernya.
Kedua, lanjutnya, jika tidak percaya dengan bonekanya itu maka tidak segan-segan pemilik modal ini terjun langsung dalam konteks demokrasi untuk memenangkan dan meraih kekuasaan. “Itulah oligarki,” tukasnya.
“Kemudian setelah dia memiliki kekuasaan politik, apa yang dilakukan? Yang dilakukan adalah memudahkan bisnisnya dengan jalan membuat aturan,” ungkapnya.
Menurutnya, kalau aturannya itu mempersulit maka dibuatlah aturan yang mempermudah supaya bisnisnya yang tadinya ilegal menjadi legal. Dengan di _cover_ dengan aturan, dengan rule yang dimainkan, yang dibuat oleh pemilik kekuasaan, yang didanai oleh pemilik modal atau pemilik modal itu sendiri, yang terjun langsung ke dalam kontestasi politik. “Itulah yang disebut oligarki,” ujarnya.
Ia lalu mempertanyakan, “Apakah di negeri kita ini ada? Saya tentu tidak bisa menyebutkan satu persatu, menunjuk hidungnya,” ucapnya.
“Tetapi kalau kita menganalisa berdasarkan Profesor Luke Winslaw, maka tentu saya secara yakin bahwa oligarki itu ada di negara kita. Siapa dia? Inilah yang kemudian saya tidak bisa menunjuk hidungnya,” terangnya.
Ia mengutip pendapat dari Profesor Luke Winslaw dalam bukunya Oligarchy in America: Power, Justice and the Rule of the Few, yang menyatakan bahwa oligarki itu adalah bergabungnya pemilik modal dengan pemilik kekuasaan untuk melancarkan bisnisnya. Bisnis itu tentu dilakukan agar mengumpulkan modal. Itu digunakan untuk mengatur bahkan kemudian membeli kekuasaan.
Ia mengingatkan bahwa setidaknya perlu mengkritisi, perlu kritis, berkaitan dengan oligarki ini. “Karena oligarki ini bahasa kasarnya adalah dia merampok kekayaan, mengumpulkan uangnya, modalnya, tetapi menggunakan cara-cara rule yang kemudian dibuat seolah-olah kemudian menjadi legal,” tandasnya.[] Ajira
Views: 78
















