Tinta Media – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menyebut dua peristiwa paling buruk yang menimpa dunia Islam sepanjang 2024.
“Terkait dengan pertanyaan peristiwa apa yang paling buruk sepanjang 2024 yang menimpa dunia Islam, pertama hal yang paling menonjol dan sangat perlu diperhatikan oleh umat Islam adalah apa yang terjadi di Palestina dan Suriah,” tuturnya kepada Tinta Media, Rabu (25/12/24).
Ia menjelaskan, kondisi umat Islam di Palestina sangat menyedihkan, sejak Oktober 2023 hingga sekarang, diperkirakan lebih dari 50.000 umat Islam di Palestina menjadi syuhada akibat kekejaman entitas penjajah Yahudi yang sebagian besar korbannya anak-anak dan para wanita.
”Miris, ini hanya hitungan dari 2023. Kalau kita menghitung sejak awal penjajahan Entitas Yahudi, lebih dari ratusan ribu kaum Muslimin yang menjadi syuhada. Entitas Penjajah Yahudi juga menghancurkan infrastruktur yang penting untuk kehidupan, seperti rumah sakit, camp-camp pengungsi juga dihancurkan. Perlu kita catat pembunuhan, pembantaian, bahkan genosida terhadap umat Islam di Palestina terus berlangsung hingga sekarang,” sedihnya.
Farid menyesalkan, genosida yang dilakukan entitas Yahudi terjadi di depan mata para penguasa negeri Islam, terutama negara-negara Arab, namun mereka malah menyandarkan solusi kepada PBB yang pro penjajah.
”Sesungguhnya, persoalan Palestina ini adalah persoalan penjajahan oleh entitas penjajah Yahudi yang didukung oleh negara-negara Barat terutama Amerika Serikat dan Inggris, kemudian dilegitimasi oleh PBB,” ulasnya.
Para penguasa itu, terang Farid, tidak melakukan apa pun untuk mencegah pembantaian ini. ”Yang mereka lakukan justru berupaya mengokohkan entitas penjajah Yahudi dengan diamnya mereka atau dengan berharapnya mereka kepada harapan palsu, dengan solusi-solusi perdamaian ala barat, solusi-solusi yang bergantung kepada PBB, apalagi bergantung kepada Amerika yang tidak akan menyelesaikan persoalan,” kesalnya.
Suriah
Menurut Farid, hal menonjol kedua di samping Palestina adalah perkembangan terbaru di Suriah, atas jatuhnya rezim Bashar Assad.
”Kediktatoran rezim Assad yang dimulai dari bapaknya Hafiz Assad, kalau dikalkulasi sudah hampir 50 tahun berkuasa di Suriah, dengan kekejaman dan bengis,” jelasnya.
Kekejaman itu, kata Farid, telah menimbulkan korban lebih dari 500 ribu umat Islam terbunuh yang notabene rakyatnya sendiri.
”Sejak 2011 saat munculnya Arab Spring, aspirasi damai dari rakyat Suriah disikapi dengan tindakan yang beringas dan keji, yang berakhir pada pembunuhan, pembantaian, penangkapan, dan penyiksaan,” bebernya.
Ia menambahkan, Bashar Assad menggunakan senjata kimia, bom barrel, dan menggunakan politik kelaparan untuk mengisolasi wilayah yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah.
“Sampai kemudian masyarakat di sana mengalami kelaparan, ini melanjutkan kekejaman yang dilakukan oleh bapaknya yang pernah melakukan pembantaian satu Kota Hama di Suriah, di mana lebih dari 20.000 yang menjadi syuhada,” pungkasnya.[] Novita Ratnasari
![]()
Views: 8
















