Tinta Media – Kita mengetahui bahwa kondisi saudara Muslim kita di Gaza sampai saat ini masih terus menderita. Kondisi yang seharusnya tidak perlu mereka rasakan sampai berpuluh-puluh tahun, seandainya saja umat Islam di seluruh dunia bersatu.
Sejak Oktober 2023, agresi Israel ke Gaza telah menewaskan setidaknya 72 ribu orang, banyak di antaranya perempuan dan anak-anak. Kondisi tersebut telah mengakibatkan krisis kemanusiaan yang ekstrem di Jalur Gaza. Serangan Zionis Israel terus berlangsung dengan intensitas tinggi, menyebabkan puluhan ribu korban jiwa dan kehancuran infrastruktur sipil secara masif.
Meskipun ada upaya gencatan senjata, hal itu tidak mengurangi penderitaan rakyat Palestina. Kondisi dan situasi rakyat Palestina makin kritis. Krisis kemanusiaan akibat kebiadaban Israel yang terus melakukan serangan dan pemblokadean bantuan kemanusiaan makin membuat rakyat Palestina menderita. Pelanggaran gencatan senjata oleh Israel terus berulang dan tidak ada sanksi yang tegas terhadap pelanggaran tersebut.
Pada Kamis (19/3) lalu, serangan drone menargetkan Kampung Zeitoun di Gaza City. Setidaknya tiga warga Palestina terbunuh dan banyak yang terluka akibat serangan itu.
Yang terbaru, mengutip dari Al Jazeera, serangan udara Israel pada Minggu (22/3) telah menewaskan setidaknya empat orang di sekitar kawasan kamp pengungsi Nuseirat, Gaza Tengah. Tiga korban tewas di antaranya adalah anggota polisi. Mereka tewas karena serangan udara Israel yang mengenai kendaraan di sekitar Nuseirat. Puluhan orang lainnya terluka akibat serangan itu.
Serangan juga terus terjadi di Tepi Barat yang dilakukan oleh pasukan dan kelompok pemukim Israel dengan serangkaian serangan ke desa-desa Palestina. Hal tersebut mengakibatkan kematian warga Palestina, perusakan properti, dan pembakaran rumah warga Palestina.
Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden AS Donald Trump pada awal 2026 nyatanya tidak berfungsi sama sekali. Ambisi Trump untuk memimpin upaya perdamaian, stabilisasi, dan rekonstruksi pascakonflik di Gaza justru hanya akan membuat penderitaan rakyat Palestina berlanjut. Kita tahu bahwa Amerika Serikat justru adalah negara yang selalu membantu Israel selama ini. Jadi, mana mungkin lembaga perdamaian bentukan negara yang membantu musuh dapat dipercaya? Dunia harus waspada terhadap kelicikan Amerika Serikat dan Israel yang mengatasnamakan perdamaian. Terbukti sampai saat ini belum ada poin dari BoP yang membebaskan rakyat Palestina dari penderitaan. BoP hanyalah lembaga perdamaian sandiwara Amerika Serikat dan Israel. Beberapa negeri Muslim justru menjalin hubungan resmi dengan Israel, bahkan mereka bergabung dengan BoP dengan alasan untuk menjaga stabilitas wilayah dan mencegah konflik yang lebih besar.
*Penutupan Masjid Al-Aqsa*
Kesemena-menaan Israel makin tidak bisa ditoleransi dengan penutupan Masjid Al-Aqsa yang merupakan salah satu situs suci umat Islam. Sejak awal Ramadan, tepatnya pada 28 Februari 2026, Israel telah menutup akses jemaah untuk masuk ke Masjid Al-Aqsa dengan alasan keamanan akibat situasi perang Amerika Serikat-Israel versus Iran. Tindakan Israel ini ilegal karena menghambat kebebasan beribadah dan mengancam ketegangan regional.
Pelarangan salat Jumat dan salat malam selama Ramadan di Masjid Al-Aqsa membuat warga Palestina melakukan ibadah di jalanan. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat menyedihkan dan menegangkan bagi rakyat Palestina dengan penutupan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem oleh otoritas Israel, terutama pada saat Idulfitri tahun ini. Mereka terpaksa menjalankan salat Idulfitri di luar situs Masjid Al-Aqsa. Banyak dari mereka melaksanakan salat Idulfitri di jalanan maupun di tempat-tempat darurat di antara reruntuhan rumah atau masjid yang hancur akibat serangan Israel.
Ketegangan dan penutupan akses ke Masjid Al-Aqsa membuat situasi keamanan menjadi mencekam karena hadirnya militer secara masif di lorong-lorong Kota Tua. Israel juga menangkap Imam Masjid Al-Aqsa, Syekh Mohammed al-Abbasi, pada Rabu, 18 Maret 2026, di halaman Masjid Al-Aqsa tanpa alasan yang jelas. Beberapa jam sebelum penangkapan, otoritas Israel melarang Syekh al-Abbasi memasuki kompleks masjid selama satu minggu, dan perintah tersebut dapat diperpanjang.
Selain ibadah yang terhambat akibat penutupan kompleks Al-Aqsa, hal tersebut juga menghantam situasi perekonomian warga setempat. Keadaan ekonomi akibat penutupan wilayah sekitar Masjid Al-Aqsa yang semena-mena ini telah mengakibatkan Kota Tua Yerusalem Timur bak kota hantu. Tempat yang biasa ramai pengunjung dan pasar itu kini berubah sunyi senyap. Banyak kecaman dari dunia atas penutupan Masjid Al-Aqsa karena Israel telah melanggar kebebasan umat Islam untuk beribadah dan melanggar kesucian tempat tersebut.
*Di Mana Perisai Umat Islam?*
Negara-negara dengan populasi Muslim yang mengalami penindasan atau konflik tinggi, baik karena perang maupun otoritarianisme, sering ditemukan di Timur Tengah dan sebagian Asia. Yaman, Suriah, dan Irak mengalami krisis akibat konflik bersenjata. Sementara itu, penindasan terhadap komunitas Muslim juga terjadi di wilayah minoritas, seperti Rohingya di Myanmar dan Uighur di China.
Di dalam negeri kita sendiri juga banyak permasalahan yang terjadi yang berhubungan dengan politik, ekonomi, SDM, dan oligarki yang semakin brutal sehingga berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, hukum, keamanan, dan juga perusakan lingkungan. Sistem kapitalisme dan sekularisme telah tumbuh subur di negeri kita.
Sampai saat ini persoalan saudara Muslim kita tidak ada solusi tuntasnya. Termasuk penutupan Masjid Al-Aqsa yang juga sangat menyakitkan hati umat Islam sebagai situs suci umat Islam. Hanya kecaman dan kutukan saja yang bisa dilontarkan oleh negara-negara lain terhadap situasi di Gaza, Palestina, bahkan yang lain diam seribu bahasa. Penguasa Muslim dan penguasa Arab justru banyak yang menjalin kerja sama dengan Zionis Yahudi dan Amerika Serikat, seperti Turki.
Di sinilah kita sebagai umat Muslim mempunyai tanggung jawab untuk membela saudara Muslim kita dengan cara jihad fi sabilillah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Berjaga-jaga satu jam di medan jihad fi sabilillah lebih baik daripada menghidupkan Lailatulqadar di dekat Hajar Aswad.” (HR Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
Umat Islam membutuhkan Daulah Khilafah Islamiah yang dipimpin oleh seorang khalifah sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi kaum Muslim dari berbagai bentuk kezaliman. Hukum-hukum syariat Islam dijalankan secara kafah sehingga diharapkan nilai peradaban Barat akan terkikis dan menghentikan hegemoni sistem liberalisme, kapitalisme, serta sekularisme.
Di sinilah kekuatan umat Islam untuk bersatu sangat diperlukan agar kepemimpinan Islam segera bisa tegak dalam kehidupan. Semoga kita segera bisa hidup dalam naungan Daulah Khilafah Islamiah, karena sesungguhnya perisai umat Islam sejatinya terletak dalam Daulah Khilafah yang menerapkan syariat Islam dan melindungi umat. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Pratiwi Sulistiowati
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 4
















