Hasbi Aswar: ART Khianati Prinsip Bebas Aktif dan Rugikan Indonesia

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pengamat Hubungan Internasional dari Geopolitical Institute, Hasbi Aswar, Ph.D. menilai bahwa perjanjian tarif resiprokal Indonesia-AS (Amerika Serikat) yang tertuang dalam Agreement of Reciprocal Trade (ART) mengkhianati prinsip politik bebas aktif dan merugikan Indonesia.

“Selain mengkhianati prinsip bebas aktif, ART juga merugikan Indonesia,” ujarnya dalam program Live Diskusi Media Umat bertema Perjanjian Indonesia-Amerika: Siapa Untung, Siapa Buntung? di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Ahad (1/3/2026).

Hasbi menjelaskan, jika melihat poin-poin ART, Indonesia betul-betul didikte bagaimana harus berdagang dengan AS dan bagaimana harus menyikapi barang-barang milik AS, termasuk masalah halal dan kebijakan digital.

“Judulnya kan ‘reciprocal trade’ atau perdagangan timbal balik, harapannya ya setara. Namun lihat! Pada halaman terakhir disebut sekian ribu bahkan juta ton harus diambil Indonesia dari Amerika, sementara tidak ada ketentuan berapa ton yang harus Indonesia beri ke Amerika. Ini tidak seimbang,” bebernya.

Dari perjanjian ini, menurutnya, ada beberapa hal krusial. Selain masalah kerja sama tarif Indonesia-AS, Indonesia juga akan ditarik dalam kepentingan politik dan ekonomi global AS.

“Disebutkan dalam poin 5.1, jika Amerika memberikan beban sanksi atau pembatasan pada negara lain atau pihak ketiga, maka atas nama kerja sama ekonomi dan keamanan, Indonesia harus ikut,” ungkapnya.

“Selain itu, jika Indonesia ingin melakukan kerja sama dengan pihak ketiga harus menyampaikan ke Amerika. Ini semakin memperjelas tidak bebas aktif dan mengarah semakin jauh ke dalam poros politik Amerika,” tandasnya.

Hasbi pun berujar bahwa Pemerintah Indonesia yang kerap kali menyebut Indonesia sebagai negara besar dan kuat hanyalah sebatas retorika, karena negara kuat tidak mungkin bergantung kepada negara lain karena justru akan menjadi negara boneka atau pengekor.

“Semakin bergantung kepada negara lain, kita tidak bisa ke mana-mana dan tidak bisa apa-apa. Jika mau menjadi negara besar, mental ketergantungan harus dihentikan walau konsekuensinya berat,” tutupnya.[] Erlina

Loading

Views: 22

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA