Tinta Media – Pakar Politik Prof. Chusnul Mar’iyah menilai Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia–Amerika Serikat (AS) merupakan bagian dari New World Order dengan Washington sebagai pusat imperiumnya (pusat kekuasaannya).
“Ini sebuah bagian dari proyek Barat di dalam New World Order yang Washington sebagainya sebagai pusat imperiumnya,” tuturnya dalam Diskusi Online: Perjanjian Indonesia-Amerika, Siapa Untung dan Siapa Buntung? di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Ahad (1/3/2026).
Chusnul menjelaskan, ART serupa dengan perjanjian yang dilakukan Presiden Soeharto dengan IMF pada tahun 1998.
Ketika Perang Dunia I dibentuknya United Nations, kemudian ada IMF dan World Bank, menurutnya itu semua sama di dalam konteks New World order.
“Ideologinya liberalisme, wajah politik demokrasi, wajah ekonominya kapitalisme, wajah sosialnya individualisme,” ulasnya.
Dalam pandangannya, New World Order bekerja melalui kombinasi kekuatan politik, ekonomi, dan regulasi internasional. Menurutnya, hal tersebut dilakukan melalui birokrasi, akademisi, TNI dan Polri, serta elite politik.
“Artinya Indonesia selama ini belum pernah bisa melepaskan diri dari jebakan-jebakan dari Barat,” tegasnya.
Indonesia Butuh Leadership Tauhid
Menurut Chusnul, negara ini membutuhkan kepemimpinan (leadership) yang bertauhid, bukan sekadar penjualan kepentingan (dealership).
“Kepemimpinan domestik (inward looking) itu penting supaya kita kuat dan tidak dihinakan. Namun kekuatan di tingkat global juga penting,” sebutnya.
Selain itu, lanjutnya, pemimpin juga harus punya daya juang dan punya keberpihakan ke rakyat. “Dan ditunjukkan pada kebijakan, baik dalam negeri maupun politik luar negerinya,” pungkas Chusnul.[] Muhammad Nur
![]()
Views: 19
















