Tinta Media – Perang AS-Israel vs Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 ini, dinilai oleh Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana, bukan sekadar konflik militer biasa, melainkan peristiwa “gempa bumi” geopolitik yang sedang merombak total peta kekuatan di Timur Tengah.
“Perang yang pecah sejak tanggal 28 Februari 2026 ini, bukan sekadar konflik militer biasa, melainkan peristiwa ‘gempa bumi’ geopolitik yang sedang merombak total peta kekuatan di Timur Tengah,” tuturnya kepada Tinta Media, Kamis (5/3/2026).
Budi memandang, dampaknya sangat luas, mulai dari runtuhnya struktur kekuasaan lama hingga terciptanya aliansi baru yang tidak terduga.
“Pengaruh utama terhadap peta politik Timur Tengah antara lain, pertama, Runtuhnya “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance). Selama puluhan tahun, Iran membangun jaringan proksi yang kuat (Hizbullah, Houthi, milisi Irak),” jelasnya.
Serangan langsung AS-Israel yang menargetkan pusat komando dan syahidnya Ayatollah Ali Khamenei, terang Budi, telah memutus rantai komando ini.
“Hizbullah dan Houthi, meskipun mereka melakukan serangan balasan, kehilangan dukungan logistik dan finansial langsung dari Teheran membuat posisi mereka sangat rentan,” ujarnya.
Kedua, ulas Budi, dilema dan polarisasi negara-negara Teluk (GCC). Negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, dan Qatar berada di posisi yang sangat sulit. Meskipun tidak terlibat langsung, pangkalan AS di negara-negara ini menjadi sasaran rudal Iran.
“Ini memaksa mereka untuk memilih sepenuhnya memihak blok Barat demi perlindungan militer, atau mencoba menjadi mediator demi menyelamatkan infrastruktur minyak mereka,” ucapnya.
Perang ini juga, sambungnya, mempercepat integrasi pertahanan antara Israel dan negara-negara Arab dalam sistem radar dan pertahanan udara bersama untuk menghalau drone/rudal Iran.
“Peta politik yang dulu terpisah antara “Dunia Arab vs Israel” kini bergeser menjadi “Koalisi Pro-Stabilitas vs Poros Iran,” tandasnya.
Dan ini, lanjutnya, bisa mendorong normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel.
“Ketiga, Munculnya “Iran Baru”. Jika tujuan regime change (perubahan rezim) AS berhasil, kita akan melihat munculnya pemerintahan baru di Teheran yang mungkin lebih sekuler atau nasionalis. Ini akan mengubah Iran dari “musuh kawasan” menjadi “mitra strategis” bagi Barat, yang secara otomatis akan mematikan konflik ideologis Syiah-Sunni yang selama ini membakar Timur Tengah. Dan Iran akan menjadi pengikut setianya Amerika Serikat,” pungkasnya.[] ‘Aziimatul Azka
![]()
Views: 16
















