Tinta Media – Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menilai, sistem Islam memiliki kemampuan membangun resiliensi sosial-ekologis di tengah krisis lingkungan dan ketimpangan sosial yang terjadi saat ini.
“Dalam bahasa ekologis, sistem Islam membangun resiliensi sosial-ekologis,” terangnya kepada Tinta Media.com, melalui pers rilis tertulis, Senin (3/11/2025).
Menurut HILMI, konsep tersebut menjelaskan kemampuan sistem Islam dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai yang menjadi dasar tatanan kehidupan Islam.
“Manusia boleh tumbuh jumlahnya, tetapi tidak boleh tumbuh keserakahannya. Bumi boleh dimanfaatkan, tetapi tidak boleh dieksploitasi tanpa batas,” tulisnya.
Keseimbangan itu, jelas HILMI, akan melahirkan keadilan dan keberlanjutan. Sebagaimana Allah SWT memperingatkan agar harta dan sumber daya tidak hanya berputar di tangan segelintir orang.
“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (QS. al-Hasyr [59]: 7),” kutipnya.
HILMI mengungkapkan bahwa di sinilah letak solusi sistemik Islam, yakni melalui penerapan zakat, wakaf, larangan monopoli, pengaturan kepemilikan lahan dan air, serta konsep hisbah (pengawasan pasar).
“Semua ini adalah mekanisme sosial untuk mengembalikan keseimbangan distribusi, yang pada gilirannya menjaga daya dukung bumi,” tutupnya.[] Novita Ratnasari
Views: 39
















