Tinta Media – Menanggapi wacana keinginan presiden dibuatkan kendaraan khusus berbahan kaca agar dirinya dapat terlihat berdiri saat menyapa masyarakat dinilai Jurnalis Senior Joko Prasetyo simbol cara kekuasaan membangun citra di hadapan rakyat.
“Simbol cara kekuasaan membangun citra di hadapan rakyat,” ujarnya kepada Tinta Media, Kamis (21/5/2026).
Om Joy menilai inilah ironi negeri hari ini: mobil kaca, sedangkan rakyat merana.
Ia menambahkan ketika banyak rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, penguasa justru sibuk dengan simbol-simbol visual kekuasaan.
“Padahal masalah utama umat bukan kurang melihat pemimpinnya. Rakyat setiap hari melihat wajah penguasa di televisi, media sosial, baliho, dan pemberitaan. Yang rakyat butuhkan bukan tontonan kekuasaan, melainkan keadilan dan pengurusan yang nyata,” jelasnya.
.
Ia melihat permasalahannya bukan semata pada pribadi pemimpin. “Akar persoalannya lebih dalam: sistem politik demokrasi kapitalistik memang melahirkan budaya pencitraan,” simpulnya.
.
Dalam sistem ini lanjut Om Joy, kekuasaan bergantung pada popularitas, elektabilitas, dan penguasaan opini publik.
“Akibatnya, pemimpin lebih terdorong membangun persepsi daripada menyelesaikan problem mendasar rakyat. Kamera menjadi lebih penting daripada kebijakan. Panggung lebih diprioritaskan daripada pelayanan. Konsultan citra lebih didengar daripada jeritan rakyat kecil,” ujarnya.
.
Sementara di saat yang sama menurutnya, kapitalisme membuat negara tunduk pada kepentingan oligarki dan pemilik modal.
“Kekayaan alam dikuasai korporasi, utang menjadi tulang punggung pembangunan, pajak terus membebani rakyat, dan kebijakan lebih sering berpihak kepada investor dibanding kebutuhan umat,” pungkasnya.[] Muhammad Nur
![]()
Views: 3
















