Tinta Media – Buletin dakwah remaja “Teman Surga” mengungkapkan bahwa fenomena hikikomori kini tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi juga mulai tampak di berbagai negara, termasuk Indonesia, khususnya di kalangan remaja.
“Pintu kamar tertutup. Lampu redup. Headset terpasang. Jari sibuk scroll layar tanpa henti. Di luar kamar, suara keluarga terdengar samar. Ada ayah. Ada ibu. Ada rumah. Tapi rasanya jauh. Hari-hari berjalan, tapi interaksi makin sedikit. Dunia digital terasa lebih nyaman dibanding dunia nyata. Fenomena seperti ini makin sering terlihat pada remaja hari ini. Inikah generasi hikikomori di Bumi Pertiwi? Bisa jadi,” ungkapnya dalam Edisi 308 berjudul “Generasi Hikikomori” melalui buletintemansurga.com, Ahad (17/5/2026).
Dijelaskan, dalam buletin tersebut, istilah hikikomori mulai populer pada akhir 1990-an di Jepang. Kata tersebut berasal dari bahasa Jepang, yakni hiku yang berarti menarik diri dan komoru yang berarti bersembunyi atau mengurung diri.
“Jadi secara harfiah, hikikomori menggambarkan seseorang yang memilih menjauh dari kehidupan sosial lalu tenggelam dalam dunianya sendiri,” sebutnya.
Teman Surga mengisahkan bahwa istilah tersebut pertama kali dipopulerkan oleh seorang psikiater Jepang bernama Tamaki Saito melalui bukunya yang membahas remaja yang mengisolasi diri dari masyarakat. Mereka mengurung diri di kamar atau rumah dalam waktu lama, bahkan hingga bertahun-tahun.
“Fenomena ini awalnya dianggap “aneh khas Jepang”. Tapi ternyata sekarang banyak negara mulai mengalami gejala serupa. Termasuk di negeri kita,” sesalnya.
Teman Surga mengemukakan, meski di Indonesia fenomenanya tidak seekstrem di Jepang, tanda-tandanya mulai terlihat di tengah kehidupan remaja saat ini.
“Mungkin, tidak seekstrem mengunci diri bertahun-tahun. Tapi coba lihat sekitar! Banyak remaja lebih nyaman di kamar daripada di ruang keluarga. Lebih betah ngobrol di grup chat daripada ngobrol dengan orang tua. Lebih terbuka kepada teman online daripada keluarga sendiri. Dan makin sulit diajak ngobrol dari hati ke hati.” ungkapnya.
“Pelan-pelan… terbentuk generasi yang dekat secara sinyal, tapi jauh secara emosional. Fatal!” imbuhnya.
Teman Surga kemudian menilai, fenomena tersebut tidak bisa sekadar dianggap sebagai sikap malas atau akibat terlalu sering bermain gawai. Menurutnya, remaja hari ini hidup di tengah tekanan zaman yang serba cepat, penuh perbandingan, dan haus validasi media sosial.
“Padahal jiwanya sebenarnya capek. capek menjadi “versi terbaik” setiap saat. Disaat yang sama mereka bingung menyampaikan isi hati, tidak ada yang benar-benar hadir untuk setidaknya memvalidasi lelahnya. alhasil kamar adalah tempat paling aman,” ulasnya.
Meski demikian, Teman Surga menegaskan bahwa menyendiri bukanlah dosa. Manusia terkadang membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran. Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika kesendirian membuat seseorang menjauh dari kehidupan dan kehilangan arah hidupnya.
Maka dari itu, Teman Surga menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan negara dalam mendampingi generasi muda agar tidak terjerumus dalam keterasingan sosial.
“Islam mendefenisikan manusia “versi terbaik” adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. maka generasi tidak boleh kehilangan arah, hubungan, dan tenggelam dalam kesendirian. Orang tua, tenaga pendidik, dan negara ini harus membimbing generasi menjadi generasi yang kuat mentalnya, hangat hubungan keluarganya, sehat interaksi sosialnya, dan aktif berkontribisi untuk umat.” jelasnya. [] Nasriani
![]()
Views: 5
















