UIY: Indonesia adalah Negeri Sekularistik

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Cendekiawan Muslim, Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai bahwa Indonesia adalah negeri yang sekularistik.
 
“Negeri kita ini diakui atau tidak adalah negeri yang sekularistik,” tuturnya dalam acara Diskusi Tabloid Media Umat: Refleksi 2025, Outlook 2026, di kanal YouTube Media Umat pada Ahad (28/12/2025).
 
“Apa bentuk nyatanya?” tanya UIY retoris. Ia melanjutkan, ketika Islam hanya ditempatkan sebagaimana agama dalam pengertian Barat. Hanya mengatur hubungan individu dengan Tuhannya saja. Dalam aspek ibadah atau al-af’alu syakhsiyah (ibadah, makanan/ minuman dan pakaian).
 
“Kalaupun masuk masalah keluarga yang menyangkut talak, nikah, rujuk cerai dan waris. Sebatas itu,” ulasnya.
 
Akan tetapi, sambungnya, tidak masuk kepada permasalahan ekonomi, politik, sosial, budaya dan seterusnya.
 
“Kalau dalam bahasa kita diartikan sebagai fashluddin ‘anil hayah. Memisahkan agama dalam hal ini Islam (syariah) dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” jelasnya.
 
“Nah itu yang terjadi hari ini. Sistem ekonominya kapitalis, sistem politiknya machiavelistik demokratik, sikap beragamanya sinkritistik, budayanya westernistik hedonistik, pendidikannya materialistik,” imbuhnya.
 
Jadi, terang UIY, ekonomi yang kapitalistik inilah yang terjadi, yang kemudian membuat ketimpangan yang luar biasa. “Yang kaya makin kaya, yang miskin semakin miskin,” sebutnya.
 
Ekonomi yang kapitalistik itu, kata UIY, pada intinya adalah mengunggulkan pemilik modal.
 
“Nah, pemilik modal ini yang mengatur semua-muanya, termasuk mengubah undang-undang, menyuap para pejabat, sehingga dia dapatkan area untuk macem-macem,” bebernya.
 
Tiga Ekstraktif Menonjol Kapitalisme yang Sekularistik
 
Lebih lanjut, UIY menyoroti tiga kegiatan ekstraktif yang paling menonjol dalam praktik kapitalisme yang sekularistik.
 
“Kegiatan ekstraktif ada tiga yang paling menonjol,” ujarnya.
 
Pertama, UIY memaparkan, yaitu pembalakan baik legal maupun ilegal. Kedua, perkebunan skala besar. Ketiga adalah pertambangan.
 
“Nah, ketika fungsi hutan itu bisa diubah sekehendak hati, mengikuti kemauan pemilik modal yang sudah berkolusi dengan para birokrat, maka yang terjadi pastilah kehancuran,” terangnya.
 
Jadi, ungkap UIY, sesungguhnya ini semua fasad. “Sehingga dinampakkan oleh Allah Ta’ala untuk apa? Untuk menyadarkan kita ke mana? Arjul Ilal Haq. Kembali kepada jalan yang benar,” tukasnya.
 
Terakhir, ia menegaskan bahwa hikmah dari berbagai persoalan yang menimpa adalah agar manusia kembali ke jalan yang benar.
 
“Hikmah terbesar dari semua persoalan yang ini hari kita hadapi mestinya segera kembali ke jalan yang benar yaitu jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Itulah jalan Islam atau syariah. Mestinya begitu,” tandasnya.[] Nur Salamah
 

Loading

Views: 19

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA