Tinta Media – Usulan kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana yang mengatakan belalang dan ulat sagu bisa menjadi salah satu menu dalam program makan bergizi gratis dinilai Direktur Siyasah Institute Iwan Januar sebagai usulan yang aneh dan absurd.
“Badan Gizi Nasional mengusulkan supaya belalang dan ulat sagu jadi alternatif makanan bergizi untuk anak-anak Indonesia. Ini usul yang luar biasa. Maksudnya luar biasa aneh, absurd banget begitu,” tuturnya dalam video di akun Tiktok iwanjanuar, Rabu (29/1/2025).
Menurutnya, yang mengajukan usulan ini sebenarnya tahu atau tidak, kalau sebetulnya belalang goreng itu sangat mahal. “Di market place kalau kita lihat, 1 kg belalang goreng, kalau kita lihat itu ada yang ngejual dengan harga Rp100-200 ribu. Artinya lebih mahal daripada ayam goreng pak. Lebih mahal daripada satu kilo ayam,” ujarnya.
“Nah, apa mungkin juga bagian ini berpikir tangkap belalang itu mudah dan banyak tersedia begitu. Dengan harganya yang mahal saja berarti menunjukkan, enggak gampang orang itu kemudian tangkap belalang,” imbuhnya.
“Jadi usulan supaya belalang dan ulat sagu ini menjadi alternatif makanan bergizi untuk anak Indonesia kok kayaknya absurd banget usulannya ya. Satu hal yang kayaknya khas, aneh tapi ya inilah Indonesia begitu,” mirisnya.
Ia mempertanyakan, apa tidak ada sumber protein lain yang lebih baik daripada belalang dengan ulat sagu? Diketahui bahwa memang banyak orang Indonesia, sebagian itu makan belalang dan juga makan ulat sagu, tapi kalau ada yang lain, ada ikan, misalkan ikan cakalang, ikan tuna, ikan tongkol misalnya. “Saya melihat mereka pasti akan milih itu daripada makan belalang dan makan ulat sagu,” terangnya.
Ia memandang bahwa usulan ini tidak sebanding dengan kekayaan protein hewani yang ada di Indonesia. Yang punya laut yang luas, yang nelayan tiongkok, nelayan Vietnam itu mencuri ikan di Indonesia, sementara ini anak-anak Indonesia diberi makan belalang dan ulat sagu yang harganya mahal dan yang kedua, alternatif yang anak-anak Indonesia lebih suka begitu. “Ini yang aneh. Ini usulan apa? Menunjukkan keputusasaan dari Badan Gizi Nasional dan pemerintah atau gimana? Saya enggak habis pikir ini,” tukasnya.
Kalau anak Indonesia, lanjutnya, disuruh makan belalang sama ulat sagu, apakah BGN mau bertanggung jawab kalau nanti ada anak SD yang komen tidak enak karena makanannya belalang? BGN mau tanggung jawab atau tidak kalau nanti anak-anak disikat sama buzzer yang sudah berani. “Buzzer mengatakan anak Indonesia yang bilang begitu itu enggak bersyukur begitu, kan rame tuh,” ingatnya.
“Ada buzzer yang biasa bela pemerintah yang kemudian marahin anak yang protes tentang makanan yang katanya enggak enak ini. Dikasih makan ayam saja, anak Indonesia masih ada yang protes apalagi disuruh makan sesuatu yang anak-anak kekinian, ini ga lazim. Ga biasa makan itu pak,” tuturnya.
“Apa bapak nanti mau tanggung jawab kalau nanti anak-anak Indonesia ini kemudian disikat sama buzzer karena mereka menolek makan belalang dan makan ulat sagu,” tanyanya.
Ia menyarankan bahwa sebelum memberikan usulan ke publik, sebaiknya dipikirkan dengan baik karena masih banyak sumber protein hewani juga nabati yang cocok untuk anak-anak Indonesia dan itu bisa diberikan untuk anak-anak. Dan kalaupun betul itu mau dijadikan usulan, mau diresmikan, orang Indonesia pasti mengusulkan agar bagaimana kalau para pejabat atau anak-anak kepala BGN atau Jan Etes misalnya diberikan suguhan belalang tiap hari. “Kira-kira mau enggak pak?” Tanyanya.
“Ini juga pertanyaan dari rakyat untuk bapak yang mengusulkan usulan seperti ini,” tandasnya.[] Ajira
![]()
Views: 20












