Tinta Media – Tuduhan yang dilontarkan oleh Akademisi Ken Setiawan terhadap buku ‘Indonesia Gelap’ sebagai proyek yang mengancam persatuan bangsa dinilai mengandung kelemahan serius.
“Pernyataan Ken Setiawan, Pendiri NII Center (bukan NII yang itu) dalam satu laman media, yang menuding buku ‘Indonesia Gelap’ sebagai proyek yang mengancam persatuan bangsa jelas mengandung kelemahan serius, baik secara metodologis, logis, maupun etis,” ujar Akademisi sekaligus salah satu penulis buku ‘Indonesia Gelap’ Ali Mustafa kepada Tintamedia.com Senin (18/8/2025).
Karena, pertama menurutnya, jika Ken menyebut buku ‘Indonesia Gelap’ sarat narasi pesimisme dan ancaman bangsa. Berarti argumennya bersifat ad hominem (menstigma para penulisnya), bukan membantah isi gagasan.
“Padahal, inti diskursus ilmiah adalah menguji argumen dengan argumen. Jika ada tesis dalam buku ini yang keliru, seharusnya dibantah dengan data, teori, atau analisis. Tetapi ketika kritik diganti dengan tuduhan radikal atau radikul, itu bukan lagi diskursus ilmiah, melainkan pembunuhan gagasan melalui labelisasi stigma politik,” bebernya.
Kedua, Ali menilai, Ken tampaknya gagal memahami hakikat literasi. Dalam tradisi ilmu, literasi adalah “proses pembebasan pikiran” dari kungkungan status quo.
“Para ahli menegaskan bahwa literasi yang sejati justru lahir dari kesadaran kritis untuk mengungkap ketidakadilan,” tuturnya.
Ketiga lanjutnya, Kritik terhadap demokrasi adalah sebuah hal yang lumrah terjadi, karena ia juga bukan harga mati yang lahir dari kitab suci.
“Perkataan Ken tentang buku ini juga tidak tepat. Kritik terhadap demokrasi sudah jamak dalam literatur akademik, dari Robert Dahl hingga Francis Fukuyama. Bahkan tokoh-tokoh Barat seperti Noam Chomsky dan David Held berulang kali menunjukkan cacat demokrasi yang penuh paradoks. Apalagi jika kita menengok literasi para ulama Islam,” bebernya.
Menurutnya, tuduhan bahwa Indonesia Gelap mengancam persatuan bangsa adalah premis yang justru berbahaya. Karena bila setiap kritik dianggap ancaman, maka itu seperti sedang “membunuh ruang intelektual” bangsa ini.
“Persatuan tidak dibangun di atas keseragaman semu yang tunduk pada kolonialisme gaya batu, melainkan dialektika sehat antara kritik dan solusi. Sebagai contoh; para ulama dan tokoh di masa awal kemerdekaan tidak layak disebut pengkhianat hanya karena mengkritik Pancasila dalam berbagai versinya,” tuturnya.
Dalam standar ilmiah, lanjutnya, tuduhan tanpa bukti disebut non sequitur atau kesimpulan yang tidak mengikuti premis.
“Jika literasi bisa dituduh berbahaya hanya karena penulisnya punya pandangan politik Islam, maka besok berbagai buku ekonomi Islam atau pendidikan Islam pun bisa dituding sebagai radikalisasi,” pungkasnya.[] Setiawan Dwi
Views: 58










