Tinta Media – Luapan protes rakyat atas kebijakan pemerintah kembali terjadi. Aksi ini tak hanya bergema di media sosial dengan tagar #IndonesiaGelap, tapi juga berwujud demo yang serentak dilakukan di lebih dari 10 wilayah. Benarkah ini suatu pertanda peringatan darurat?
Berdasarkan pantauan medsos Drone Emprit, didapati gambar Garuda hitam di akun X @BudiBukanIntel sejak tanggal 3 Februari 2025 malam, disusul tagar #IndonesiaGelap. Kedua tagar ini mengusung narasi soal kisruh LPG 3 Kg, reformasi Polri, program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemangkasan anggaran untuk program sosial dan kesejahteraan rakyat, masalah pendidikan, kesehatan, serta lapangan pekerjaan (Tirto.id, 18/2/2025).
Pada sumber yang sama, diwartakan bahwa aksi massa bertajuk “Indonesia gelap” ini digelar pada Senin (17/2/2025) di lebih 10 wilayah yang melibatkan mahasiswa dan anak muda kreatif mulai Universitas Indonesia (UI) Depok, Universitas Tulang Bawang (UTB) Bandar Lampung, hingga Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin (UNISKA).
Dikutip dari laman Beritasatu.com (18/2/2025), terdapat 1.623 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, TNI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta instansi terkait lainnya mengawal unjuk rasa yang digelar aliansi dan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Senin (17/2/2025) siang, di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat.
Aksi demo mahasiswa ini menurut beberapa pengamat jelas membuat “legitimasi pemerintahan Prabowo sudah goyang”. Krisis kepercayaan serta respon masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah dianggap merugikan dan mengancam masa depan generasi muda, salah satu contohnya seperti pemotongan anggaran di sejumlah sektor terutama pendidikan yang jelas menyulitkan rakyat (BBCNewsIndonesia, 21/2/2025).
Kebijakan pemerintah dinilai kurang efisiensi karena banyaknya gebrakan regulasi yang tak masuk akal. Salah satunya pembentukan kabinet gemuk yang menambah biaya APBN, pemerintah selalu bilang kalau semua kebijakan berpihak untuk rakyat, lantas rakyat mana yang sedang mereka perjuangkan?
Sejatinya aksi ini merupakan akumulasi dari kekecewaan masyarakat yang seharusnya diwakilkan suaranya oleh DPR. Rentetan aksi mahasiswa yang berorasi menyampaikan aspirasi di beberapa daerah menandakan ketidakpercayaannya kepada pemerintah. Masalah ini akan bertambah besar jika pemerintah tidak cepat merespon dan melakukan perubahan di dalam kebijakannya tersebut (BBC.com, 21/2/2025).
Aksi “Indonesia Gelap” dipandang sebagai perhatian bersama baik mahasiswa maupun warga sipil, agar Indonesia dapat menjadi lebih baik untuk semuanya. Masyarakat mengharapkan pemerintah mau mendengar dan menindak lanjuti protes publik, bukannya sibuk dengan proses kebijakan yang berpolemik, tanpa basis riset ilmiah dan tidak berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Indonesia yang katanya gelap, nyatanya pelanggaran hukumnya terang-terangan, yang terang hanya masa depan penguasa dan oligarki. Pemerintahan yang masih baru ini sudah menuai kontroversi, dari masalah anggaran pendidikan, penolakan undang-undang Minerba, program MBG dan lainnya. Belum lagi pajak 12 persen yang katanya untuk memfasilitasi kebutuhan rakyat, nyatanya tidak.
Seruan demo mahasiswa akhirnya ditanggapi Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan Presiden Prabowo menghormati 13 tuntutan mahasiswa, serta menerima aspirasi tersebut dengan tangan terbuka. Sayangnya tuntutan mahasiswa yang ditawarkan sejatinya tidak menyelesaikan masalah hingga ke akarnya, bahkan menawarkan kembali pada demokrasi yang mengutamakan kerakyatan, yang ujung-ujungnya untuk oligarki.
Sebenarnya, sistem demokrasi inilah yang menjadi sumber akar permasalahan. Dengan demokrasi, penguasa banyak memberikan izin atau hak kepada berbagai perusahaan, swasta ataupun asing. Contohnya pembukaan lahan tambang untuk menambang mineral juga sumber daya alam di wilayah tertentu serta penebangan hutan untuk pemanfaatan hasil hutan kayunya dengan penerapan kemitraan pemerintah atau swasta serta kontrak bagi hasil.
“Indonesia Gelap” memang tepat untuk menggambarkan kondisi negara ini yang suram, tak ada titik terang dari segala permasalahan. Ditambah penguasa yang tak menunjukkan sikap bijak saat mendapat kritikan dari berbagai pihak. “Indonesia Gelap” butuh cahaya Islam dengan menerapkan Syariat-Nya, agar tidak sekadar ganti rezim tapi juga ganti sistem pemerintahan yaitu Khilafah yang menerangi negeri ini hingga ke penjuru dunia.
Sudah saatnya generasi muda seperti mahasiswa melek politik dan kritis, sehingga mampu memberikan solusi yang tepat. Solusi yang benar hanyalah solusi Islam. Maka pentingnya mahasiswa untuk berpikir dan membedakan bahwa persoalan yang ada merupakan akar atau cabang dari suatu persoalan yang besar. Jika kita menginginkan negara ini semakin baik maka penyelesaian harus dari akarnya.
Dalam kacamata syarak, mahasiswa harus menjadi agen perubahan untuk mengemban risalah Islam dengan mengoreksi penguasa atas spirit amar makruf nahi mungkar dan menyuarakan solusi Islam. Hanya dengan penerapan sistem Islam meniscayakan masa depan masyarakat gemilang bukan gelap ataupun suram. Untuk itu, pemuda seharusnya bergabung bersama kelompok dakwah ideologis agar dapat mengawal perubahan sesuai dicontohkan Rasulullah SAW.
Harapan rakyat Indonesia ingin terjadinya perubahan, setelah pergantian kepemimpinan yang selalu berujung pada kezaliman bahkan kegelapan yang semakin pekat. Bukankah ini sudah cukup menegaskan kita bahwa sistem kapitalisme dengan politik demokrasi hanya menciptakan perubahan palsu belaka.
Wallahu ‘alam bishowab.
Oleh: Umi Kulsum
Penulis dan Pemerhati Publik
![]()
Views: 8
















