Tinta Media -“Kebenaran yang tidak terorganisir dengan baik, akan
dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan baik. Pepatah dari Khalifah
Ali bin Abi Thalib itu menemukan kebenarannya pada realitas bagaimana Zionis
Yahudi bisa mendirikan negara. Biadab! Tetapi terorganisir dengan baik sehingga
negara Yahudi berdiri.
Adalah Theodor Herzl (1860-1904) seorang Yahudi Hongaria
berkeinginan membangun negara sendiri yang dianggap menjadi solusi bagi masa
depan Yahudi agar memiliki pemerintahan sendiri. Dengan pemerintahan sendiri
itu antisemitisme yang sudah bertahun-tahun dirasakan Yahudi bisa dihindari.
Gagasan itu tertuang dalam bukunya yang berjudul _Der
Judenstaat_ (Negara Yahudi). Pada awalnya banyak orang Yahudi yang menganggap
gagasan Herzl utopia. Mereka juga tidak mendukung gerakan Zionisme yang saat
itu sudah diusahakan Herzl dan teman-temannya.
“If you will it, it is not dream, but if you do not
will it, a dream it is, and a dream it will stay (Jika Anda mau [mendirikan
negara Yahudi], ini bukanlah mimpi, tapi jika Anda tidak mau, ya ini hanyalah
mimpi, dan mimpi tinggallah mimpi),” tulis Herzl saat banyak orang menganggap
idenya utopia.
Faktanya, hanya setengah abad setelah buku itu ditulis,
David Ben-Gurion anak ideologis Herzl berhasil mendeklarasikan negara Yahudi
tepatnya pada 14 Mei 1948.
Berdirinya negara Yahudi dalam waktu relatif singkat tidak
lepas dari cara licik yang digunakan
hingga negara itu berdiri.
Perang Dunia Pertama menjadi gerbang bagi Zionis Yahudi
membayangkan cita-cita mendirikan negara akan terwujud ketika Inggris yang saat
itu menjadi negara adidaya membantu mengakomodir proses migrasi besar-besaran
Yahudi Eropa ke wilayah Palestina, satu tempat yang dicatat Herzl bahwa kelak
akan menjadi negara Yahudi yang mengalami masa keemasan.
Hasil Perang Dunia Pertama memungkinkan Yahudi bergerak
maju dalam proyek pembangunan negara di
bawah perlindungan negara-negara Eropa. Perlindungan itu tampak dalam deklarasi
Balfour saat Menteri Luar Negeri Inggris Lord Balfour mengeluarkan surat yang
ditujukan kepada, pemimpin Gerakan Zionis Lord Rothchild.
“Pemerintah Yang Mulia mendukung pendirian rumah nasional
bagi orang-orang Yahudi di Palestina, dan akan melakukan upaya terbaiknya untuk
memfasilitasi pencapaian tujuan ini….,” demikian bunyi penggalan surat itu.
Maka saat Palestina di bawah mandat Inggris (1922), Inggris
terus memberi kesempatan kepada Yahudi di luar Palestina untuk melakukan
migrasi ke wilayah Palestina. Dengan migrasi besar-besaran ini, pada 1946
populasi Yahudi di Palestina telah mencapai 31% dari keseluruhan jumlah
penduduk.
Secara internal, Yahudi juga melakukan segala upaya,
merapikan segala usaha dengan menyiapkan perekonomian, para militer, dan
rencana yang tertata rapi agar cita-cita mendirikan negara terwujud.
Diantara usaha itu
adalah melibatkan Organisasi Zionis Dunia. Organisasi ini banyak membantu pendanaan migrasi ke
Palestina, juga membantu mendirikan Jewish Agency yang bertindak sebagai bentuk
pemerintahan bagi orang Yahudi di Palestina.
_Jewish Agency_ membantu membangun bank, sistem pelayanan
kesehatan, sekolah, dan lembaga lain yang membantu menampung populasi Yahudi
yang terus bertambah di wilayah tersebut.
Organisasi lain seperti _Histadrut_ (Federasi Buruh Yahudi)
juga berusaha mengembangkan berbagai bisnis Yahudi, mendorong pertumbuhan
_kibbutzim_ yaitu pertanian yang dimiliki dan dioperasikan secara kolektif yang
menjadi basis pertanian Yahudi.
_Histadrut_ juga mengembangkan kekuatan pertahanan Yahudi
yang disebut _Haganah_ (cikal bakal IDF sekarang). Haganah berkembang menjadi
kekuatan paramiliter bersenjata yang terlatih dengan baik. Ada juga kekuatan
militer lain yang disebut _Irgun Zvai Leumi_ atau disingkat _Irgun_.
Ethnic Cleansing
Selain dukungan internasional, persiapan materi, Yahudi juga
menyusun skenario jahat dalam upaya mendirikan negara yaitu skenario
pembersihan etnis (_ethnic cleansing_). Pembersihan etnis dilakukan dengan cara
menguasai suatu wilayah, membunuh, atau mengusir penduduknya serta mengambil
seluruh harta kekayaannya.
Skenario ini tercantum dalam Rencana Dalet (D). Rencana Dalet (bahasa Ibrani) adalah rencana yang
telah disempurnakan dari rencana-rencana sebelumnya yaitu rencana Aleph (A),
Beth (B) dan Gimmel (C).
Rencana A, adalah rencana awal untuk menduduki Palestina
yang dirumuskan oleh komandan Haganah yang bertugas di Tel Aviv 1937. Rencana A
dilakukan, kemudian disempurnakan dengan rencana B pada September 1945, dan
pada 1946 disempurnakan lagi dengan rencana C.
Rencana C intinya mengatur strategi penyerangan, cara
menyerang, target menyerang, lokasi yang harus diduduki, siapa saja yang harus
ditangkap dan dijadikan tawanan, serta strategi _Haganah_ meneror masyarakat Palestina agar mereka
takut dengan pasukan _Haganah_ dan _Irgun_.
Ilan Pappe dalam bukunya _The Ethnic Cleansing of Palestine_
(2007) menyebut pembantaian adalah bagian dari strategi pembersihan etnis
secara sistematis yang diadopsi oleh para politikus dan komandan Yahudi untuk
mengusir penduduk Arab Palestina dari wilayah yang mereka impikan untuk menjadi
negara Yahudi.
Siang itu, (9-4-1948)
120 milisi dari _Irgun_ menyerbu Deir Yassin (salah satu desa di Palestina).
Penduduk desa yang terkejut dan ketakutan mencoba melarikan diri, namun milisi
Yahudi menghalangi dan menembaki.
“Seorang pria [menembak] peluru ke leher saudara perempuan
saya, Salhiyeh, yang sedang hamil sembilan bulan,” kenang Haleem Eid, salah
satu warga desa yang selamat dari peristiwa itu.
“Penduduk desa yang tersisa kemudian dikumpulkan di satu
tempat dan dibunuh dengan darah dingin. Tubuh mereka dianiaya sementara
sejumlah perempuan diperkosa kemudian dibunuh,” tulis Pappe.
Deir Yassin hancur berantakan. Rumah-rumah, masjid, sekolah,
dibakar. Penduduk desa yang selamat hanya bisa menyaksikan kehancuran.
Pembantaian Deir Yassin dipimpin oleh Menachem Begin yang
kelak menjadi Perdana Menteri Yahudi (1977-1983).
“….Tanpa Der Yassin tidak akan ada Israel,” tutur Begin
tanpa rasa bersalah setelah melakukan pembantaian
Demikianlah, sekitar 400 kota dan desa di Palestina
mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan Deir Yassin.
Deklarasi
Yahudi memang selalu memanfaatkan peluang apapun untuk
meraih impiannya. Saat PBB mengeluarkan resolusi 181 dan Inggris merencanakan
mundur dari Mandat Palestina, Yahudi mengambil peluang emas (1947) itu.
Sehari sebelum mundurnya Inggris dari wilayah Palestina, di
Tel Aviv David Ben-Gurion mengundang Badan Persiapan Kemerdekaan untuk
menandatangani kemerdekaan Zionis Yahudi yang akan dibacakan jam 4 sore waktu
setempat.
Zionis mampu memperhitungkan momen yang tepat dengan mencuri
star mendeklarasikan kemerdekaan pada 14 Mei 1948 tepat sehari sebelum PBB
mengumumkan mundurnya Inggris per 15 Mei 1948, sehingga saat Palestina kosong
negara Zionis sudah berdiri.
Beberapa menit setelah Ben-Gurion mendeklarasikan
kemerdekaan, Presiden Amerika Serikat
Harry S. Truman secara defacto langsung mengakui berdirinya negara
Yahudi, sehingga Yahudi menjadi negara berdaulat.
Yahudi terus mengamankan wilayahnya dengan
mengaktualisasikan rencana D. Tujuannya lebih spesifik yaitu mengontrol
daerah-daerah yang diberikan PBB untuk Yahudi dan daerah-daerah di luar batas
Resolusi 181 yang sudah menjadi pemukiman Yahudi serta menyiapkan pasukan untuk
mengantisipasi invasi tentara Arab.
Ya.. melalui Resolusi 181 PBB memang telah membagi wilayah
Palestina menjadi tiga wilayah. Zionis
Yahudi 56%, Palestina 44% , dan Yerusalem menjadi wilayah internasional.
Resolusi ini disetujui oleh 33 negara anggota.
Akhirnya Yahudi menguasai 78% wilayah Palestina yang
dirampok dari ratusan kota dan desa, serta mengakibatnya sedikitnya 750.000
penduduk Palestina telah diusir, sekitar 150.000 tetap berada di wilayah Yahudi
dan kemudian menjadi warga negara kelas rendah sampai hari ini.
Dengan demikian lebih dari 78% penduduk Palestina kehilangan
wilayah dan menjadi wilayah Yahudi. Tanah, bangunan, bisnis, perkebunan, dan
rekening bank, yang ditinggalkan oleh para pengungsi tidak bisa diambil lagi
tetapi diambil alih Yahudi tanpa kompensasi.
Pembersihan etnis itu terus berlangsung hingga kini. Sejak 7
Oktober 2023 lalu Yahudi kembali
melakukan genosida. Hingga September 2024 ini, korban tewas sudah mencapai
41.495 jiwa yang sebagian besar mereka adalah perempuan dan anak-anak.
Puluhan ribu terluka, dan 72% dari
seluruh bangunan sekolah, rumah sakit, perdagangan, tempat tinggal, warga
Palestina dihancurkan.
Tidak sampai di situ, Yahudi
sangat menyadari bahwa negaranya tegak di atas politik imperialisme yang
jahat. Karenanya politik paling utama Zionis Yahudi adalah mengamankan
negaranya dari serangan luar, dan bisa menyerang musuhnya di mana pun berada.
Tidak heran, riset militer menjadi prioritas utama. Diantara
kecanggihan hasil riset teknologinya adalah robot _artificial intelligence_
yang digunakan untuk menyerang ilmuwan nuklir utama di Iran 2020 lalu hingga
tewas.
Terbaru, pertengahan
September 2024 lalu Yahudi telah menyabotase ribuan alat komunikasi nirkabel
milik Hizbullah sehingga ratusan pager
dan walkie-talkie meledak, menewaskan 37 orang dan ratusan orang terluka.
Jika Yahudi sanggup
mengerahkan seluruh daya upaya yang dimiliki untuk mengejar cita-cita batil kemudian berhasil,
lalu belum tiba saatnya kah umat Islam bersatu mewujudkan cita-cita agung di
bawah bimbingan wahyu untuk menegakkan negara khilafah sebagai junnah agar umat
terbebas dari penjajah?
Rancaekek, 01102024/IA
Sumber tulisan:
1. Septian
AW. Mengerti Palestina, ILKI
2. Short
Course Sejarah Nakba sesi 2, September 2024
3. Dan
sumber-sumber lain.
Oleh: Irianti Aminatun, Sahabat Feature News
![]()
Views: 8





