Tinta Media – Air mata takkan mampu mengungkapkan kesedihan terhadap sebagian umat Islam lantaran ada di antara umat ini yang masih terluka, terhina, dan digenosida oleh penjajah Zionis Yahudi Israel.
Zionis Israel mematikan komunikasi berturut-turut. Para pemantau hak asasi manusia mengatakan pemadaman komunikasi bersifat sistemis, bertujuan untuk mengisolasi Gaza.
Untuk hari kedua berturut-turut pada Kamis (18/09), warga Kota Gaza kehilangan akses internet atau telepon rumah karena serangan Israel melumpuhkan jalur infrastruktur utama. Seperti dilansir Anadolu, hal ini memperburuk isolasi wilayah kantong tersebut saat genosida Israel sedang berlangsung. (Tempo.co, 18/09/2025)
Alat komunikasi ditutup Zionis Israel, sementara Gaza dalam keadaan memprihatinkan. Warga Palestina yang tewas di Jalur Gaza akibat agresi Zionis Israel sejak Oktober 2023 menembus angka 65.000 orang, dengan 165.000 lainnya mengalami luka luka ungkap kementerian kesehatan Gaza.
Kejahatan Zionis Israel telah berlangsung sejak lama, mengapa demikian? Sebab, kejahatan itu terus dipelihara oleh Amerika. Karena Trump, Presiden Amerika Serikat, negara adikuasa berpihak kepada Israel. Bahkan, secara terang-terangan mendukungnya dengan solusi dua negara. Namun, waktu berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, Trump makin meningkatkan dukungannya kepada Zionis Israel dengan merelokasi seluruh warga Gaza. Di tahun 2020, Trump mengikat kesepakatan antara Arab-Israel dengan perjanjian Abraham. Tujuannya untuk menormalisasi hubungan Arab-Israel.
Melihat begitu mirisnya keadaan warga Gaza dengan tulang berbungkus kulit akibat kelaparan massal, bangunan runtuh menjadi puing-puing batu. Bahkan, untuk menahan rasa lapar itu mereka mengikat tali di pinggangnya dan meletakkan batu di tengah-tengah perut mereka.
Hati siapa yang tidak tergugah melihat kejadian ini. Pasalnya, di dalam diri setiap manusia ada naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa‘) yang jika dirangsang akan timbul keinginan untuk mengakhiri kekejian ini. Seperti armada Kapal Global Sumud Flotilla yang berlayar dari Tunisia menuju wilayah Palestina. Diikuti 18 kapal dari armada Italia juga berangkat menuju Palestina. Mereka siap menembus Gaza untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga di sana dengan membawa aktivis, dokter, dan bahan makanan ke Gaza. (MetroTV, 14/09/2025)
Tidak Ada Pembelaan terhadap Palestina
Mirisnya, para penguasa Arab yang bersebelahan dengan wilayah Palestina —hanya terhalang tembok Raffah— tidak mampu mengulurkan bantuannya. Jangankan untuk membebaskan Palestina dari genosida, mereka justru berpangku tangan hanya sebagai penonton dengan menyaksikan kebiadaban ini. Para penguasa Arab takut campur tangan atas masalah Palestina karena mereka berpihak kepada Israel dengan normalisasi hubungan Arab-Israel melalui “Perjanjian Damai” (Abraham Accord). Mereka malah saling melempar senyuman, bertatap muka, berjabat tangan, dan bahkan membantu kaum kafir itu dengan kerja sama dan investasi.
Begitu juga dengan dunia Islam. Tidak ada satu pun yang memberikan aksi nyata untuk membebaskan Palestina dari kekejian Zionis Israel. Mereka lebih peduli kepada kondisi yang terjadi di wilayahnya saja. Mereka tersekat Nation State yang lahir dari ideologi sekuler (pemisahan agama dari kehidupan). Penjajahan pemikiran ini telah subur di dalam sanubari dunia Islam mengakibatkan rasa kemanusiaan itu seketika hilang dan berbalut kepentingan.
Islam: Solusi Palestina
Islam memandang warga di wilayah Palestina adalah saudara kita meski bukan hidup di wilayah yang sama. Selama satu akidah, di mana pun kaum Muslimin tinggal, tetaplah saudara bagi Muslim yang lain. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dalam kesulitan)…“ (HR Bukhari dan Muslim)
Genosida yang terjadi di Gaza hanya bisa dihentikan dengan jihad fi sabilillah. Allah Swt. berfirman yang artinya, “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.“ (QS al-Baqarah: 190)
Jihad tidak akan bisa dilaksanakan tanpa komando seorang Khalifah di dalam naungan Khilafah. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai, di mana orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung.”
(HR Al-Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi umat Islam seluruh dunia untuk bersatu mengembalikan kepemimpinan Islam (Khilafah) yang akan membebaskan Palestina dari penjajahan Israel dan mempererat ukhuwah islamiyyah seluruh dunia Islam. Wallahualam bissawab.
Oleh: Salmiah
Aktivis Dakwah
Views: 50
















