Tinta Media – Influencer Dakwah Aab El-Karimi mempertanyakan pendapat yang mengatakan bahwa manusia insaf karena testosteronnya turun.
”Benar enggak sih manusia itu insaf di usia 40 tahun itu bukan karena sadar tapi karena testosteronnya turun?” tanyanya retoris dalam video “Pemikiran Ryu Hasan Liar dan Kacau?” Kamis (18/12/2025) di kanal You Tube Khilafah News.
Menurutnya, pendapat itu terdengar ilmiah tetapi perlu dipertanyakan kebenarannya, sebab tidak selalu orang yang semakin tua akan bisa menambah pemaknaan hidup. “Gimana mungkin seluruh perjalanan hidup manusia itu bisa diringkas jadi semacam grafik hormon? Karena gini, kalau hormon itu penentu iman, maka suntik testosteron itu akan kembali kufur lagi dong. Itu jelas sangat absurd gitu loh. Ini yang disebut post hoc fallacy ketika dua hal itu datang berurutan lalu kita kira yang satu adalah penyebab dari yang lain,” ulasnya.
Ia mencontohkan, saat testosteron turun kemudian refleksi kehidupan mulai muncul dan bertaubat kemudian disimpulkan bahwa turunnya testosteron merupakan penyebab taubat. ” Padahal mungkin keduanya itu hanya datang bersamaan, tapi bukan saling menjelaskan,” terangnya.
Biologi Mempengaruhi Dorongan
Aab tidak menolak bahwa biologi memang mempengaruhi dorongan-dorongan manusia yang membuatnya lebih tenang. “ Tetapi mesti kita tahu ada jarak besar antara dorongan dan pemaknaan,” tegasnya.
Faktanya, kata Aab, pada usia tertentu yang berubah bukan hanya tubuh, tetapi juga sejumlah kegagalan yang dialami, orang-orang terdekat yang sudah meninggal, atau mimpi-mimpi muda yang tidak terealisasi. ”Itu bukan hormon tetapi pengalaman. Kalau semua itu cuma hormon, lalu apa artinya nasehat? Apa artinya perubahan? Seolah manusia itu tidak saling memahami. Kita dianggap cuman nunggu tubuh berubah, manusia jadi pasif,” kritiknya.
Ia menerangkan, jika taubat itu ditentukan hormon maka anak-anak muda yang testosteronnya masih tinggi lebih susah beriman, sedangkan orang tua yang testosteronnya sudah rendah lebih mudah beriman. ”Ini seolah-olah menuduh kalau Allah (na’udzubillah) menghukumi manusia itu berdasarkan usia dan biologis, bukan usaha, bukan amal perbuatan selama hidup. Ini termasuk reduksionisme yang absurd,” ulasnya.
Terakhir ia berpesan, untuk tidak tergoda mempercayai argumen yang terdengar ilmiah yang membikin ragu dalam beragama.
Sebelumnya beredar video dr. Roslan Yusni Hasan, Sp.BS (Ryu Hasan) dokter bedah saraf dan ahli neurosains yang mengatakan bahwa testosteron itu hormon agresivitas, sehingga ketika seseorang sudah mencapai usia 40 tahun dan testosteronnya turun gairah hidupnya juga turun, dan kelihatan seperti insaf.[] Irianti Aminatun
![]()
Views: 29
















