Islam, Solusi Tuntas Bullying

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kasus perundungan (bullying) di kalangan anak dan remaja kian meningkat, bahkan menjadi fenomena yang semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya berupa ejekan kecil di sekolah, tetapi juga kekerasan fisik, verbal, serta meninggalkan luka batin dan trauma yang mendalam.

Baru-baru ini, seorang santri di Aceh Besar membakar asrama pondok pesantren tempat ia belajar. Ia merasa sakit hati setelah lama menjadi korban perundungan oleh teman-temannya. (kumparan.com, 8/11/2025)

Di tempat berbeda, kasus serupa terjadi di Jakarta. Seorang siswa SMA Negeri 72 diduga melakukan ledakan di sekolah setelah mengalami trauma mendalam akibat bullying yang berlangsung terus-menerus. (cnnindonesia.com, 7/11/2025)

Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) juga menunjukkan bahwa kasus kekerasan di lembaga pendidikan meningkat drastis dari 285 kasus pada tahun 2023 menjadi 573 kasus pada tahun 2024. (detik.com, 27/12/2024)

Berbagai peristiwa tersebut menggambarkan wajah suram dunia pendidikan kita. Tindakan ekstrem para remaja korban bullying bukan semata-mata kenakalan atau gangguan mental, melainkan cerminan krisis sosial dan moral yang tengah melanda generasi muda.

Semua fakta ini menunjukkan bahwa perundungan bukan sekadar masalah kecil antarteman, tetapi fenomena yang menggerogoti masa depan anak bangsa. Luka batin yang mendalam berpotensi merusak hati dan jiwa mereka.

Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman untuk membentuk karakter, kini justru menjadi arena kekuasaan sosial di kalangan remaja. Kondisi ini diperparah oleh pengaruh media sosial yang melazimkan dan mempertontonkan perilaku kasar. Peristiwa bullying bahkan dijadikan tontonan hiburan. Konten berisi ejekan atau kekerasan dianggap lucu dan layak dinikmati.

Jika ditelusuri lebih jauh, maraknya perundungan tidak lepas dari dominasi sistem kapitalisme liberal dalam kehidupan modern. Kapitalisme menanamkan nilai bahwa kebebasan adalah hak individu tanpa batas. Manusia dinilai dari penampilan, kecantikan, popularitas, dan materi—bukan dari akhlak dan ketakwaannya.

Lebih miris lagi, sekolah sebagai lembaga pendidikan ikut memperkuat pola pikir bahwa untuk dihormati seseorang harus terkenal. Lahirlah budaya saling merendahkan dan hilangnya empati. Pendidikan pun berorientasi pada materi, prestasi akademik, dan reputasi lembaga, sehingga pembinaan moral terabaikan. Guru banyak terbebani administrasi dan target nilai sehingga fungsi mendidik akhlak kurang maksimal. Tak heran banyak peserta didik tumbuh dengan kepribadian rapuh, mudah putus asa, dan mengalami kerusakan mental.

Padahal, Islam dengan tegas mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan dan perasaan sesama. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat al-Hujurat ayat 11:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)…“

Ayat ini mengingatkan bahwa merendahkan orang lain merupakan perbuatan tercela. Semua manusia sama di hadapan Allah—yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Islam hadir dengan tuntunan untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas dan sehat, tetapi juga bertakwa. Pendidikan akhlak menjadi fondasi utama pembentukan karakter anak, bukan sekadar pelengkap kurikulum. Anak-anak dibekali ilmu yang mengaitkan mereka dengan Sang Pencipta sehingga standar halal haram menjadi pijakan mereka.

Islam mendorong generasi untuk mengembangkan kepribadian Islam, mengisi pemikiran dengan tsaqafah islamiah dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt.

Dengan demikian, terbentuklah cara pandang dan kebiasaan berperilaku islami. Islam juga memberikan solusi untuk mengontrol lingkungan media dan digital agar kebebasan tidak kebablasan, serta membentuk masyarakat yang aman dan menenangkan bagi remaja sehingga mereka merasa dihargai dan didengarkan.

Namun, selama sistem kapitalisme terus mendominasi dunia pendidikan dan media, fenomena bullying akan terus berulang dengan berbagai wajah dan cerita. Karena itu, sistem Islam perlu dijadikan solusi untuk menghentikan perundungan melalui penanaman keimanan, penguatan empati, dan kesadaran muraqabah—bahwa setiap saat manusia diawasi oleh Allah Swt.

Islam datang untuk mencegah kekerasan dan perundungan. Dalam pandangan Islam, kehormatan seorang Muslim harus dijaga karena sesama Muslim adalah saudara. Tidak menyakiti saudara seiman merupakan bentuk ibadah.

Jika kita ingin menyelamatkan generasi muda dari luka, trauma, dan kebencian, tentu kita harus mengubah sistem hari ini dengan sistem Islam—yang melahirkan rasa aman bagi para pemuda sehingga mereka tumbuh menjadi generasi pemimpin peradaban, bukan pelaku perundungan. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Neni Arini,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 35

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA