Tinta Media – Dinas BP2KB3A Kabupaten Bandung terus meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui program pemberdayaan. Mereka menyasar 123.063 perempuan berstatus janda di Kabupaten Bandung dengan tiga program utama: pengarusutamaan gender, perlindungan perempuan, dan peningkatan kualitas hidup. Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) menjadi salah satu kegiatan utama, membina perempuan termasuk janda dan mereka yang suaminya tidak bisa bekerja. Mereka diberikan pelatihan dan bantuan untuk meningkatkan ekonomi. Dari 123.063 janda, 56.604 berusia produktif dan menjadi sasaran program PEKKA. Saat ini, 932 anggota PEKKA tergabung dalam 81 kelompok. BP2KB3A juga membina kelompok industri rumahan dan organisasi perempuan untuk meningkatkan ekonomi perempuan (TribunJabar.id, 05/02/2026).
Pada dasarnya, program ini terlihat efektif dan mendukung perempuan. Statistik ini seharusnya menggugah kesadaran kita bahwa ada kesalahan dalam struktur kehidupan kita. Tingginya angka perceraian bukan hanya kegagalan individu dalam menjaga rumah tangga, tetapi juga mencerminkan kerusakan sistem sosial, ekonomi, dan nilai yang menopang masyarakat. Namun, jika dilihat lebih lanjut, ada paradigma besar yang menjadi dasar kebijakan ini, yaitu kapitalisme. Sistem ini mengukur kesejahteraan terutama dari produktivitas ekonomi sehingga perempuan didorong meninggalkan peran domestik untuk menjadi sumber ekonomi utama.
Dalam kapitalisme, ukuran kesejahteraan adalah kemampuan individu menghasilkan uang. Perempuan yang seharusnya fokus mendidik generasi kini dipaksa memikul beban ganda sebagai pencari nafkah dan pengurus rumah. Hal ini sering memicu tekanan mental, kelelahan, dan stres ekonomi, serta mengganggu peran keluarga sebagai pendidikan pertama anak. Kenyataan hidup menunjukkan tekanan hidup semakin berat. Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja terbatas, upah rendah, dan beban hidup meningkat sehingga keluarga menjadi pihak yang paling terdampak.
Program pemberdayaan ekonomi perempuan sebenarnya tidak salah jika bersifat pilihan, bukan keharusan. Namun, ketika negara gagal menyediakan lapangan kerja layak bagi laki-laki, perempuan menjadi “penyangga darurat” ekonomi. Ini bukan solusi jangka panjang, malah mengancam keharmonisan keluarga. Dampaknya panjang: anak kehilangan figur orang tua dan perempuan memikul beban berat. Sistem ini lebih seperti tambal sulam, bukan penyelesaian mendasar.
Negara hadir, tetapi belum menyelesaikan masalah pokok kesejahteraan rakyat. Negara hanya menjadi regulator dan fasilitator, sementara tanggung jawab ekonomi dibebankan kepada individu. Perempuan dari keluarga miskin dipaksa keluar rumah untuk bertahan hidup, bukan karena pilihan, tetapi karena sistem yang menekan. Selama ekonomi dikuasai elite, sumber daya dikelola korporasi, dan agama disisihkan, perceraian dan jumlah janda akan terus meningkat. Janda seharusnya dilindungi, bukan hanya disuruh kuat dan mandiri tanpa dukungan sistem. Ironisnya, mereka dituntut kuat tanpa diberi sistem yang menopang.
Islam memiliki perspektif yang berbeda tentang kesejahteraan jika dibandingkan dengan kapitalisme. Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab penuh untuk mengurusi urusan rakyat (ri’ayah syu’un al-ummah). Negara wajib memastikan bahwa setiap laki-laki, sebagai kepala keluarga, memperoleh pekerjaan yang layak sehingga mampu menafkahi keluarganya. Dengan demikian, perempuan dapat menjalankan peran utamanya secara optimal, yaitu sebagai pendidik generasi dan penjaga ketahanan keluarga tanpa tekanan ekonomi yang memaksa.
Islam tidak menomorduakan perempuan. Sebaliknya, Islam menghormati dan melindungi mereka dengan sistem yang komprehensif. Negara Islam (Khilafah) menyediakan lapangan kerja luas bagi laki-laki sehingga perempuan tidak perlu menjadi sumber ekonomi utama. Kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan disediakan gratis dan berkualitas. Sistem zakat, infak, sedekah, dan baitulmal memastikan perempuan janda, yatim, dan fakir miskin mendapat bantuan berkelanjutan. Perlindungan hukum dan sosial juga diberikan sehingga perempuan terbebas dari eksploitasi dan ketidakadilan.
Dengan sistem ini, perempuan dapat beraktivitas di ruang publik sesuai syariat tanpa kehilangan peran utama mereka dalam membina generasi. Namun, tanpa perubahan paradigma, kebijakan ini tidak akan menyelesaikan masalah pokok. Selama sistem ekonomi masih kapitalisme, perempuan akan terus menjadi penopang ekonomi karena negara gagal menjamin kesejahteraan rakyat. Islam menawarkan solusi menyeluruh, sistemis, dan adil. Dengan penerapan sistem Islam secara kafah, kesejahteraan perempuan dijamin negara melalui mekanisme yang sahih dan manusiawi. Sudah saatnya umat sadar bahwa kesejahteraan sejati lahir dari sistem Islam, bukan kapitalisme, dengan negara sebagai pelindung rakyat dan perempuan sebagai pilar peradaban. Wallahualam bissawab.
Oleh: Rukmini,
Ibu Rumah Tangga
![]()
Views: 35
















