Mengubah Citra Buruk Polisi dengan Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Polisi memiliki peran penting untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan. Mereka bertugas menjaga stabilitas sosial, mencegah kejahatan, dan menegakkan hukum demi ketertiban umum. Idealnya, polisi dicintai rakyat karena peran pentingnya dalam kehidupan bermasyarakat. Kehadirannya sangat dibutuhkan untuk menjamin keamanan dari berbagai bentuk kejahatan. Polisi yang dicintai masyarakat adalah mereka yang siap melayani dan membantu dengan cepat, ramah, dan menyenangkan. Semua orang akan merasa nyaman datang melapor ke kantor polisi saat menghadapi kasus hukum dan berbagai permasalahan di masyarakat. Kehadirannya membawa kebaikan serta mampu menyelesaikan masalah yang muncul di tengah masyarakat. Polisi idealnya sangat dirindukan dan dicintai masyarakat.

 

Semua profesi itu mulia jika bisa menjalankan tugasnya dengan penuh amanah, ikhlas hanya untuk mendapatkan rida Allah. Sangat disayangkan bahwa profesi polisi yang mulia dikotori oleh banyak oknum yang hanya bekerja bagi mereka yang mau membayar. Padahal, polisi seharusnya melayani dan membela yang lemah dari kejahatan serta menolak gratifikasi karena mereka sudah dibayar oleh negara dengan uang rakyat. Polisi harus berani menindak tegas penjahat, bukan malah membela pelaku kejahatan.

 

Dalam berita yang sedang viral, korban jambret yang mengejar penjambret divonis hukuman penjara karena dalam pengejaran itu menyebabkan penjambret terjatuh dan meninggal. Dalam kasus lain, ada seseorang yang ketahuan mencuri mesin penggilingan kopi. Untuk mempertahankan barang miliknya, korban pencurian terpaksa memukul pelaku karena pelaku melawan. Namun, korban justru divonis penjara karena dianggap main hakim sendiri. Aparat penegak hukum yang seharusnya melindungi masyarakat dari tindak kejahatan malah membela penjahat.

 

Miris saat mendengar berita di media sosial bahwa polisi yang seharusnya melindungi masyarakat malah menjadi pelaku kejahatan. Sebagai contoh, kasat narkoba di NTB ditangkap karena terlibat jaringan narkoba. Kasus ini sungguh merusak institusi Polri yang seharusnya memberantas narkoba yang dapat merusak generasi. Demi uang dan jabatan, polisi tergoda melakukan tindak kejahatan.

 

Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Faktanya di lapangan jauh dari harapan. Kasus es gabus yang sedang viral adalah salah satu contoh aparat yang bertindak tidak adil. Meskipun belum terbukti bersalah, pihak yang lemah ditindak keras dan dijadikan tersangka. Sebaliknya, kasus MBG yang telah menyebabkan banyak siswa keracunan tidak ditindak dan tidak ada yang dijadikan tersangka.

 

Katanya melindungi dan mengayomi, tetapi banyak masyarakat merasa tidak aman saat bertemu polisi di jalan. Mereka takut ditilang dan dicari-cari kesalahan. Banyak masyarakat berusaha menghindar saat ada operasi lalu lintas. Seharusnya polisi bisa menyapa dengan ramah dan tersenyum kepada pengguna jalan. Mereka yang salah harus diingatkan demi keselamatan mereka sendiri, bukan dicari-cari kesalahan agar bisa ditilang. Masyarakat harus dipahamkan, bukan disalahkan. Polisi harus mampu menggunakan bahasa yang menyenangkan agar masyarakat dengan kesadarannya mematuhi peraturan berlalu lintas.

 

Polisi ideal hanyalah impian belaka, bukan kenyataan. Kehadiran mereka ditakuti, bukan dicintai. Mereka tidak peduli dengan laporan masyarakat jika tidak ada uangnya. Dalam kapitalisme, semua dihargai saat ada uang. Banyak curhatan di media sosial dari masyarakat yang terpaksa mengikhlaskan barang atau kendaraan yang dicuri karena tidak ada tindakan dari aparat untuk menangkap penjahat. Namun, saat korban ingin mengejar dan menangkap pelaku kejahatan, justru dianggap main hakim sendiri dan bisa divonis pidana.

 

Citra buruk polisi dalam pandangan masyarakat bisa diubah jika polisi amanah menjalankan tugasnya karena Allah, bukan demi uang dan jabatan. Kapitalisme yang membentuk pemahaman kapitalistik—yang menganggap jabatan sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan—harus diganti dengan sistem terbaik dari Sang Pencipta. Sistem Islam yang diterapkan secara kafah akan mewujudkan kehidupan Islam yang mendorong setiap orang menjalankan tugasnya dengan penuh amanah karena takut kepada Allah Swt., termasuk mereka yang berprofesi sebagai polisi. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Mochamad Efendi,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 47

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA