Tinta Media – Ketua Komnas Haji Mustolih Siradj mengungkapkan bahwa calon jemaah haji reguler asal Bandung Heri Risdyanto bin warimin berangkat ke tanah suci bersama istri dan kedua orang tuanya. Namun, Heri dipulangkan ke Tanah air karena status visanya ada yang membatalkan. Anehnya, catatan Heri bersih. Terakhir, dia umroh tahun 2022 (Republika.com. Senin (2/6/2025).
Sungguh di luar nalar, dari indonesia pergi bersama istri dan kedua orang tuanya untuk pergi menunaikan ibadah haji, Heri dipulangkan sendiri tanpa diperbolehkan untuk mengganti kain ihram terlebih dahulu, sedangkan yang lainnya tidak. Alasannya, karena visanya ada yang membatalkan. Sungguh aneh, dokumen yang tadinya lengkap mendadak raib, padahal e-visa Heri aktif sejak 6 Mei 2025. Kegembiraan mereka mendadak berubah menjadi kesedihan dan duka mendalam. Kemenag pun tak bisa berbuat apa-apa. Hingga saat ini, pembatalaan visa Heri masih menjadi misteri.
Kisruh penyelenggaraan haji tahun ini tentu tak dapat dilepaskan dari peran negara dalam mengurus ibadah haji. Adanya kebijakan baru pemerintah Saudi dituding sebagai penyebab kekacauan ini. Namun, jika kita kaji lebih mendalam, masalah ini sebenarnya bukan sekadar teknis, tetapi paradigma sekularisme yang berpangkal dari kapitalisasi ibadah haji. Ironinya, negara lepas tanggung jawab akan masalah ini.
Islam adalah sebuah ideologi atau aturan hidup, bukan sekadar ibadah ritual saja. Islam menetapkan haji sebagai rukun Islam yang diwajibkan bagi muslim yang mampu dari segi fisik dan materi. Penyelenggara ibadah haji, yakni negara sudah seharusnya memudahkan para jemaah dalam beribadah, serta menyediakan berbagai fasilitas selama menjalankan ibadah haji, seperti penginapannya, kebutuhan konsumsi, dan sebagainya.
Negara menyiapkan berbagai fasilitas terbaik dalam menyiapkan dan melayani para tamu Allah secara birokrasi, tidak seperti di sistem sekarang yang gagal dalam meriayah (mengurusi) rakyat, termasuk penyelenggaraan ibadah haji yang merupakan salah satu tanggung jawab negara .
Dari sini jelas bahwa fakta yang dialami oleh Heri merupakan sebuah kelalaian akibat buruknya sistem yang diadopsi saat ini, yaitu tanpa memikirkan kesejahteraan dan keselamatan umat, yang ada hanya asas manfaat belaka .
Solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah ini hanyalah sistem Islam (Khilafah). Tak ada sistem lain yang mampu meriayah secara keseluruhan kecuali Khilafah di bawah kepemimpinan khalifah. Khilafah akan berdiri kokoh ketika seluruh rakyat paham tentang Islam dan menginginkan perubahan menuju kehidupan yang berdasarkan syariat Islam. Maka, di sinilah peran para pengemban dakwah untuk bisa memahamkan umat agar bisa kembali pada kehidupan Islam. Dengan begitu, Islam akan bangkit sebagai rahmatan lil’alamiin . Wallahu’alam bishshawab.
Oleh: Ummu Zaki
Sahabat Tinta Media
Views: 10
















