Tinta Media – Kabar duka kembali mengejutkan dunia. Seorang anak di Nusa Tenggara Timur ditemukan tidak bernyawa akibat gantung diri. Kepergiannya bukan sekadar duka, tetapi cerminan bagi kita bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan saat ini. Di balik usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan cita-cita akan masa depan, ia tumbuh dalam tekanan hidup dan keterbatasan dalam segala hal. Mirisnya lagi, hal seperti ini sering luput dari perhatian.
Di tempat kejadian perkara, aparat menemukan sepucuk surat terakhir berbahasa daerah Bajawa yang ditujukan kepada ibunya. Surat itu ditulis oleh seorang siswa berinisial YBR, kelas IV SD, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Di dalam surat tersebut berisi pesan tentang sikap pelit ibunya dan ia meminta agar tidak perlu menangisi kepergiannya (um-surabaya.ac.id/article, 11/02/2026).
Pada kejadian ini sudah jelas bahwa faktor ekonomi memicu tekanan psikologis dalam kehidupan anak, khususnya di wilayah NTT. Isi surat tersebut kurang lebih menjelaskan adanya keterbatasan penghasilan dalam keluarga sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan sekolah, tidak selalu dapat dipenuhi.
Bagi orang dewasa, situasi seperti ini harus diterima dan dihadapi bersama. Berbeda bagi anak; bagi mereka, keterbatasan ekonomi sering kali dipahami secara emosional atau bahkan personal sebagai bentuk penolakan dan dapat menyebabkan depresi. Ketika situasi ekonomi sulit, orang tua sering kali berada dalam tekanan hidup, mulai dari kelelahan fisik dan mental, sehingga komunikasi emosional dengan anak menjadi minim. Akibatnya, anak tumbuh dalam ruang yang sunyi, sering memendam perasaan kecewa dan sedih tanpa bisa diungkapkan secara akal sehat.
Peristiwa ini menyadarkan kita bahwa seharusnya negara hadir sebagai penyangga utama bagi masyarakat yang memerlukan bantuan. Namun, realitas di berbagai wilayah seperti NTT menunjukkan bahwa bantuan sosial belum sepenuhnya bekerja dengan baik dan belum merata. Akses yang terbatas mengakibatkan keluarga bertahan sendirian menghadapi kesulitan hidup.
Lebih miris lagi, ini bukan pertama kalinya terjadi. Sudah banyak kasus, terutama dalam hal ekonomi, tetapi negara belum juga peka. Ketika sistem yang diterapkan menggunakan kapitalisme sekuler, yang dikedepankan hanyalah keuntungan tanpa memedulikan rakyat yang sedang kesusahan.
Kondisi tersebut tentunya berbeda dalam pandangan Islam. Di dalam sistem Islam, negara diposisikan sebagai penanggung jawab utama atas pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, termasuk anak-anak. Islam memandang anak sebagai bagian dari amanah yang wajib dilindungi, bukan hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh negara.
Kekuasaan dalam Islam dipahami sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban sehingga akan ada rasa takut jika tidak menjalankan amanah dengan baik. Tanggung jawab negara tidak berhenti pada pengaturan administratif, tetapi mencakup pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu, terutama kelompok paling lemah seperti anak-anak. Anak-anak tidak dibiarkan menghadapi tekanan hidup sendirian karena negara hadir sebagai pelindung nyata, bukan sekadar simbol. Negara tersebut hanya ada ketika sistem yang diterapkan berbasis Islam kafah sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat setelahnya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Hamidatus S.,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 45
















