Tinta Media – Tidak terasa sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Artinya, Indonesia sudah tua, sudah sepuh. Seperti biasa, hari kemerdekaan diwarnai dengan nuansa serba merah putih. Mulai dari negara hingga pesta rakyat di jalan-jalan. Di tingkat RT, berbagai ragam perlombaan digelar. Ada jalan santai, tarik tambang, sepeda hias juga. Dari tua, muda, sampai anak-anak ikut merayakan gegap gempita kemerdekaan. Pertanyaannya, benarkah Indonesia sudah merdeka?
Di tengah-tengah euforia kemerdekaan Indonesia, nyatanya masih banyak masalah kemanusiaan, seperti konflik, ketidakadilan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan yang menyasar sebagian besar masyarakat Indonesia. Berbagai permasalahan, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang melanda industri tekstil, teknologi, dan sektor lain, pungutan pajak yang kian merajalela, dan kesenjangan ekonomi kian menguat terus mewarnai kehidupan rakyat.
Berdasarkan data BPS, terdapat 939.038 pekerja yang di-PHK, dan 523.383 orang diterima kembali kerja, sehingga total jumlah pekerja berkurang sebanyak 415.655 orang. (Metro TV, 08/08/2025)
Peringatan 80 tahun kemerdekaan RI dihiasi dengan berbagai persoalan kehidupan, baik keluarga, masyarakat juga di pemerintahan. Ada banyak masalah yang terjadi di berbagai lini kehidupan.
Pendapatan masyarakat stagnan atau justru turun. Sementara itu, pengeluaran meningkat karena harga barang yang naik dan banyaknya kewajiban dari pemerintah, seperti kenaikan pajak dan lain-lain, sehingga masyarakat terpaksa menggunakan tabungan. Kondisi ini berpotensi membuat kelas menengah terjatuh ke jurang kemiskinan.
Masalah lainnya adalah potensi generasi dimanfaatkan untuk memperkuat sistem kapitalisme. Selain itu, berbagai pemikiran yang merusak seperti deradikalisasi, Islam moderat, dan dialog antaragama dilemparkan. Ini membuat umat makin jauh dari pemahaman Islam sebagai agama yang benar. Pemikiran-pemikiran ini dianggap sebagai bentuk penjajahan mental saat ini sehingga masyarakat tidak lagi mampu berpikir secara jernih dan lurus.
Dalam kitab Mafahim Siyasiyah karangan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa penjajahan sesungguhnya belumlah berakhir. Kapitalisme akan terus menyebarkan paham dan mempertahankan pengaruhnya ke seluruh dunia. Thoriqoh (metode) yang diterapkan adalah penjajahan (isti’mar), pengendalian di bidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, pemerintah, politik, dan hukum. Semua dikendalikan atas dasar sekularisme.
Jadi, dari sisi mana Indonesia dikatakan merdeka? Sementara ekonomi masih ribawi, pendidikan anak bangsa masih sekuler, sumber daya alam masih dikuasai oleh asing, sampai tenaga kerja pun dari asing. Rakyat Indonesia, khususnya generasi muda kekurangan lapangan pekerjaan. Jadi, banyak pengangguran, pencurian, dan kejahatan lain merajalela.
Masalah negeri ini bukan cuma ekonomi, tetapi ideologinya juga bermasalah. Generasi muda seharusnya dipersiapkan untuk menjadi pemimpin peradaban, bukan memperkuat kapitalisme. Dijejali dengan ide-ide Barat yang menjauhkan generasi dari Islam, seperti paradigma Islam moderat, pluralisme, deradikalisasi, hingga dialog antaragama yang berlebihan.
Sejatinya, narasi yang dijejalkan membuat umat semakin asing dengan ajaran agamanya. Umat diarahkan untuk memandang Islam hanya sebatas agama ritual, bukan sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Ini semua bentuk penjajahan hakiki yang masih berlangsung, meski secara fisik bangsa ini sudah merdeka.
Kemerdekaan sesungguhnya seharusnya tampak pada kesejahteraan rakyat, yaitu terpenuhinya seluruh kebutuhan dasar tiap rakyat, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Selain itu ada penjagaan terhadap akal, jiwa, dan agama (Maqashid Syariah). Ketika rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka pemimpinlah yang bertanggung jawab.
Sebagaimana firman Allah Swt., βSupaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.β (QS al-Hasyr: 7)
Ayat ini menjelaskan bahwa Islam melarang harta hanya berputar di kalangan elite. Di dalam Islam, negara akan memastikan distribusi kekayaan berjalan adil dan menyejahterakan seluruh rakyat.
Jadi, kemerdekaan akan tampak apabila umat Islam bebas menerapkan aturan Islam secara kaffah, pola pikir dan sikapnya pun sesuai dengan Islam. Kondisi Indonesia hari ini merupakan akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat, tetapi malah melayani kepentingan korporat. Akibatnya, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Oleh karena itu, mari kita raih kemerdekaan hakiki dengan kembali menerapkan aturan Ilahi. Wallahualam bissawab.
Oleh: Ina Ariani
Aktivis Muslimah
Views: 59












