Tinta Media – Beberapa waktu terakhir, kabar duka datang berulang. Anak-anak dan remaja kehilangan nyawa akibat aksi freestyle—berkendara tanpa kendali, atraksi ekstrem di jalan, atau tantangan berbahaya demi konten. Video yang seharusnya menghibur berubah menjadi rekaman detik-detik terakhir. Jalan raya bukan lagi sekadar ruang mobilitas, tetapi panggung pembuktian diri. Yang lebih mengkhawatirkan, pelakunya bukan orang dewasa yang matang, melainkan generasi yang seharusnya masih dilindungi.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh di tengah budaya digital yang menormalisasi sensasi. Algoritma media sosial mendorong konten yang ekstrem, cepat viral, dan memicu adrenalin. Ukuran “berhasil” bergeser: bukan lagi tentang manfaat atau kebaikan, melainkan jumlah tayangan, komentar, dan pengikut. Dalam logika ini, semakin berisiko sebuah aksi, semakin besar peluangnya untuk dikenal. Anak-anak yang belum kokoh jati dirinya mudah terseret—mencari pengakuan di ruang yang salah.
Di sisi lain, pengawasan orang tua sering tertinggal. Banyak yang tidak benar-benar memahami dunia digital anaknya. Komunikasi berkurang, kedekatan merenggang. Sekolah pun lebih sibuk mengejar target akademik ketimbang membangun karakter dan ketahanan diri. Anak diajari mengerjakan soal, tetapi tidak diajari mengelola dorongan untuk diakui. Mereka tahu rumus, tetapi tidak dibekali kompas moral yang menuntun pilihan.
Lebih dalam lagi, ini adalah cermin dari krisis sistemis. Pendidikan kita cenderung memisahkan ilmu dari nilai. Pengetahuan dipandang netral, sementara pembentukan kepribadian dianggap pelengkap. Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi rapuh secara emosional dan spiritual. Keberanian tidak diarahkan, kebebasan tidak dibatasi oleh tanggung jawab, dan teknologi tidak diimbangi dengan kesadaran etis.
Dalam perspektif Islam, nyawa memiliki kedudukan yang sangat mulia. Menjaga jiwa (hifzh an-nafs) adalah salah satu tujuan utama syariat. Kehidupan bukan sekadar kesempatan untuk bersenang-senang, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ketika seorang anak memahami bahwa setiap detik hidupnya bernilai di hadapan Allah, ia tidak akan mudah menukar keselamatan dengan sensasi sesaat. Di sinilah letak perbedaan mendasar: Islam tidak hanya melarang, tetapi membangun kesadaran.
Namun, kesadaran tidak lahir dari ruang hampa. Ia dibentuk oleh lingkungan dan sistem yang konsisten. Jika sejak kecil anak dijejali standar popularitas, bukan kemuliaan akhlak, maka yang tumbuh adalah keinginan untuk dilihat, bukan untuk menjadi baik. Jika ruang publik dipenuhi konten tanpa nilai, maka yang dianggap normal pun bergeser. Karena itu, solusi tidak bisa parsial.
Islam kafah menawarkan pendekatan menyeluruh:
Pertama, pada level individu, Islam membangun pola pikir yang lurus: bahwa tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah, bukan mencari validasi manusia. Ini melahirkan kontrol diri—anak mampu berkata “tidak” pada hal yang membahayakan, meski sedang tren.
Kedua, pada level keluarga, orang tua diposisikan sebagai pendidik utama. Bukan sekadar penyedia fasilitas, tetapi penanam nilai. Kedekatan emosional, keteladanan, dan komunikasi menjadi benteng pertama yang melindungi anak dari pengaruh buruk.
Ketiga, pada level pendidikan, kurikulum tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi membentuk kepribadian Islam. Sekolah menjadi tempat lahirnya generasi yang berani, tetapi terarah; kreatif, tetapi bertanggung jawab.
Keempat, pada level masyarakat dan negara, diperlukan regulasi dan budaya yang memuliakan keselamatan dan akhlak. Konten berbahaya tidak dibiarkan bebas. Ruang publik diarahkan untuk mendukung tumbuhnya generasi yang sehat, bukan sekadar ramai.
Inilah yang dimaksud dengan Islam kafah—bukan sekadar ajaran ritual, tetapi sistem hidup yang menjaga manusia dari hulu ke hilir. Ketika seluruh elemen berjalan selaras, anak tidak lagi dibiarkan sendirian menghadapi arus zaman.
Freestyle yang merenggut nyawa adalah alarm keras. Ia mengingatkan bahwa ada yang keliru dalam cara kita membentuk generasi. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah, tetapi apakah kita mau memperbaiki arah.
Saatnya kembali pada sistem yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menjaga. Saatnya Islam kafah menjadi penjaga generasi. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Oleh: Imma Kurniati
Aktivis Dakwah Muslimah Banyumas
![]()
Views: 23





