Tinta Media – Bersekolah atau menuntut ilmu merupakan dambaan setiap manusia, harapan semua masyarakat baik kalangan menengah ke bawah atau atas. Tak sedikit di bidang ini, orang berlomba-lomba memberikan yang terbaik, apalagi bila ada fasilitas negeri, sekolah favorit, internasional atau dengan iming-iming biaya murah, bahkan gratis sampai ada beasiswa, dan masih banyak kisah lainnya. Itu adalah cerita singkat dari sekian fenomena yang ada. Namun, kondisi ekonomi yang makin sulit membuat segalanya harus dipertimbangkan.
Sempitnya kehidupan ini bukan semata-mata karena rakyat kurang rajin/giat atau tekun, tetapi memang keadaan dibuat makin mengimpit rakyat, mulai dari harga listrik naik, BBM terus menjulang, lapangan pekerjaan langka, pengangguran bertambah, dan tontonan koruptor yang makan uang negara melenggang luput dari meja hijau. Adakah yang dengan cuma-cuma membantu? Mustahil, di era sekarang ini semuanya harus ada timbal balik, meminta balasan atau ganjaran setimpal dengan apa yang sudah dikeluarkan.
Sekuat tenaga rakyat berusaha agar bisa mengenyam pendidikan, walau pulang sekolah harus berjualan asongan di pinggir-pinggir jalanan protokol untuk mengais rejeki. Ada juga yang berbohong pada Guru atau staf TU, mengatakan tidak mampu agar bisa mendapatkan KJP (kartu jakarta pintar). Ada yang membeli bangku kosong di sekolah-sekolah negeri, agar mengurangi pengeluaran, atau ingin nilai tinggi, dengan jalan tidak baik (mencontek saat ujian misalnya dll).
Berita lain ketika membaca situs/web resmi penerimaan siswa, membuat kita terkaget-kaget. Bayangkan, baru dibuka pendaftaran, tetapi pada pukul 00.02 di sistemnya sudah banyak terisi nama-nama pada list/deretan yang tertera. Ini aneh bin ajaib, kan? Mau mengadu pada siapa kira-kira terkait hal ini? Semua menganggap bahwa hal itu tahu sama tahu, tetap semua tutup mata dan telinganya masing-masing, pura-pura tidak paham.
Sebagaimana marak di media saat ini, terjadi praktik jual beli kursi PPDB di Depok. Penerimaan peserta didik titipan dilakukan karena merasa tidak kuat menghadapi tekanan dari beberapa oknum kelompok masyarakat, pewarta, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga pejabat pemerintah daerah. (mediaindonesia.com 12/6)2024).
Bagaimanapun, kecurangan yang terjadi di masyarakat diawali dengan contoh para pejabat yang melakukan tindakan tidak jujur, sehingga tidak ada lagi kepercayaan yang menjadi ujung tombak tegaknya suatu institusi. Suguhan televisi diisi oleh kekerasan, pembunuhan, hiburan yang banyak mengumbar aurat atau adu kemolekan, makanan beracun diperdagangkan, dakwah kebaikan dibatasi atau dipersekusi, sistem pendidikan berganti sesuai kepemimpinan saat itu, belum lagi standar KKM (kriteria ketuntasan minimum) atau KKTP (kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran) yang berubah-ubah karena harus di-mark up (dongkrak nilai) dan lain-lain.
Dari pemaparan di atas, kita jadi sangat prihatin. Pemegang kendali kebijakan justru disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Pendidikan seharusnya dinikmati oleh semua kalangan, baik yang menengah ke atas atau bawah. Tidak ada cerita bahwasanya orang yang tidak mampu tidak dapat merasakan pendidikan jalur negeri karena “ga ada orang dalem” atau semacamnya.
Sistem yang diterapkan di tengah bermasyarakat seharusnya berpihak pada rakyat. Yang dilihat seharusnya bukan yang membawa uang atau tidak, pejabat atau orang biasa, dll. Namun, bagaimana manusia secara berkesinambungan bisa membangun ketaatan kepada Ilahi sebagai bentuk syukur. Dari lahir taat, maka tidak akan ada bentuk kolusi, korupsi, atau negatif lainnya. Yang ada adalah rasa takut terhadap dosa bila melakukan kesalahan. Karena itu, penanaman akidah harus yatatajasad (menyatu dengan jasad)
Tatanan kehidupan pun bukan menggunakan aturan oleh-oleh penjajah yang merampas rempah-rempah, bahkan sekarang lebih parah, mengeruk semua kekayaan alam kita dengan alasan eksploitasi. Aturan yang diterapkan harusnya taat kepada Ilahi Robbi, yaitu bersumber pada Al-Qur’an dan hadis dengan menghamba secara totalitas kepada Allah.
Dalam sejarah, 2/3 dunia pernah menggunakan konsep ini. Masyaallah, luar biasa! Bila kita lihat sekarang, peninggalan sejarah berupa penemuan arkeologi, matematika, atau bidang pendidikan sangat pesat. Para cendekia dan pelajar dari berbagai negara berlomba-lomba datang ke peradaban cemerlang kaum muslimin. Kejayaan emas lahir dari Nabi hingga penerusnya, yaitu sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin.
Ingin rasanya bisa kembali seperti dahulu kala. Bekas atau jejak itu masih ada bila kita napak tilas ke tanah penuh keberkahan. Dalam risalah Rasul, jelas akan ada kebangkitan kembali ala minhajin nubuwwah, sesuai penerapan sewaktu Nabi menjadi pemimpin dan para sahabat berikutnya. Sistem penerapan mengikuti jejak kenabian.
Penerapan Islam diterapkan secara menyeluruh, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Mulai aturan untuk diri sendiri, keluarga, RT, RW sampai negara, semua tunduk pada aturan Sang Khalik, Pencipta alam semesta. Yang pasti, aturan lahir dari kebenaran yang hak. Tidak akan diragukan lagi, keadilan serta tatanan yang _rahmatan lill’alamin_ akan dirasakan. Hal itu muncul dari keinginan masyarakat yang kuat akan tegaknya panji Rasul, dengan pemahaman betapa pentingnya menerapkan Islam secara kaffah.
Mari bersama-sama berjuang untuk mewujudkannya dengan ikhlas, untuk mencari rida Illahi Robbi, dengan jiwa-jiwa bersih, tanpa noda kesombongan dan keangkuhan. Wallahu ‘alam.
Oleh: Tjandra Sari Sutisno, M. Pd
(Pemerhati pendidikan)
Views: 32
















