Sistem Pendidikan Islam Penyelamat Generasi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Saat ini banyak generasi yang terjebak dalam perbuatan yang melanggar aturan, terutama aturan Allah Swt. Fakta menunjukkan, dua warga Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), berinisial SH (26) dan KF, ditangkap polisi saat akan mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. Salah satu dari mereka masih berstatus pelajar berdasarkan pernyataan Resnarkoba AKP Jahyadi Sibawaih (detikBali, 2/4/2026). Masih banyak lagi fakta lainnya, seperti perzinaan pelajar, murid melawan gurunya, minum-minuman keras, dan sebagainya.

Memang, tidak dimungkiri, sistem pendidikan yang berjalan di negara saat ini adalah sistem pendidikan sekuler-materialistik. Sistem ini telah terbukti gagal mengantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh, yakni seorang yang bersyahsiah Islam, cerdas, dan peduli terhadap bangsanya. Mengapa bisa demikian? Hal ini disebabkan oleh dua hal.

Pertama, paradigma pendidikan yang menjadikan sistem sekuler sebagai asas penyelenggara pendidikan. Tujuan pendidikan yang ditetapkan merupakan buah dari paham sekuler, yakni sekadar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan serba individualistik.

Kedua, kelemahan fungsional dalam tiga unsur pelaksana pendidikan.

1. Kelemahan pada lembaga pendidikan formal. Hal ini tercermin dari kacaunya kurikulum, serta tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya.

2. Kehidupan keluarga yang tidak mendukung.

3. Keadaan masyarakat yang tidak kondusif.

Kacaunya kurikulum yang berawal dari asas sekuler tadi kemudian memengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya kepada proses penguasaan tsaqafah Islam dan pembentukan kepribadian Islam. Pendidikan yang sekuler-materialistik hanya bisa melahirkan orang yang menguasai sains dan teknologi melalui pendidikan umum yang diikuti. Itu pun terbatas dan lamban. Problem pendidikan ini perlu penyelesaian yang fundamental yang hanya bisa diwujudkan melalui perbaikan menyeluruh dan diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekuler menjadi paradigma Islam.

Gambaran Sistem Pendidikan Islam

1. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan adalah suatu kondisi ideal dari objek didik yang akan dicapai dan ke arah mana seluruh kegiatan dalam sistem pendidikan diarahkan. Maka, sebagaimana pengertiannya, pendidikan dalam Islam merupakan upaya sadar yang terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni:

a. Berkepribadian Islam

Cara dalam membentuk dan mengembangkan kepribadian Islam dalam diri seseorang harus sebagaimana yang pernah diterapkan Rasulullah saw., yakni:

Pertama, menanamkan akidah Islam kepada yang bersangkutan dengan metode yang tepat sesuai dengan kategori akidah sebagai akidah aqliyah (akidah yang keyakinannya dicapai melalui proses berpikir).

Kedua, mengajaknya bertekad bulat untuk senantiasa menegakkan bangunan cara berpikir dan berperilaku di atas fondasi ajaran Islam semata.

Ketiga, mengembangkan kepribadian dengan membakar semangat untuk bersungguh-sungguh dalam mengisi pemikiran dengan tsaqafah Islamiah, mengamalkannya, dan memperjuangkannya dalam seluruh aspek kehidupan sebagai wujud ketaatan kepada Allah Swt.

Semua komponen yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, termasuk semua kegiatan dan interaksi di antara komponen di atas, harus diarahkan bagi tercapainya tujuan yang pertama ini.

b. Menguasai Tsaqafah Islam

Islam mendorong manusia untuk menjadi pribadi yang berilmu dengan cara mentaklifnya (memberi beban hukum) kewajiban menuntut ilmu. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi ilmu dalam dua kategori dilihat dari sisi kewajiban menuntutnya.

Pertama, ilmu yang dikategorikan sebagai fardu ain, yakni ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu muslim. Ilmu itu ialah ilmu-ilmu tsaqafah Islam, yakni pemikiran, ide, dan hukum-hukum (fikih) Islam, bahasa Arab, Sirah Nabawiyah, Ulumul Al-Qur’an, Ulumul Al-Hadis, dan sebagainya.

Kedua, ilmu yang dikategorikan sebagai fardu kifayah, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian dari umat Islam. Ilmu itu adalah sains dan teknologi serta berbagai keahlian, seperti kedokteran, pertanian, teknik, dan sebagainya yang sangat diperlukan bagi kemajuan material masyarakat.

Dorongan kuat yang diberikan Islam agar setiap muslim mempelajari tsaqafah Islamiah di samping sains dan teknologi membuktikan bahwa Islam membentengi manusia dengan menjadikan akidah Islam sebagai satu-satunya asas bagi kehidupan seorang muslim, termasuk dalam tata cara berpikir dan berkehendak. Dengan demikian, setiap tindakan terlebih dahulu diukur dengan standar ajaran Islam. Hanya dengan itu, setiap muslim memiliki pijakan yang sangat kuat untuk maju sesuai arahan Islam.

c. Menguasai Ilmu Kehidupan (IPTEK dan Keahlian)

Kewajiban untuk menguasai ilmu kehidupan (IPTEK dan keahlian) diperlukan agar umat Islam dapat meraih kemajuan materiel sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah dengan baik di muka bumi ini. Pada hakikatnya, ilmu pengetahuan terdiri atas dua hal. Di antaranya ada pengetahuan yang mengembangkan akal pikiran manusia sehingga dapat menentukan suatu tindakan (aksi) tertentu dan pengetahuan mengenai perbuatan itu sendiri.

Allah Swt. telah memuliakan manusia dengan akalnya. Akal inilah yang akan membimbing manusia ke jalan yang benar.

2. Unsur Pelaksana Pendidikan

Berdasarkan pengorganisasiannya, proses pendidikan dibagi menjadi dua, yaitu formal di sekolah dan nonformal.

a. Sekolah

Berdasarkan sirah Rasul dan tarikh Daulah Khilafah, pendidikan formal dapat dideskripsikan sebagai berikut.

Kurikulum pendidikan, mata ajaran, dan metodologi pendidikan disusun berdasarkan akidah Islam.

Tujuan penyelenggaraan pendidikan Islam merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan Islam yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan.

Waktu belajar untuk ilmu-ilmu Islam (tsaqafah Islamiah) diberikan dengan proporsi yang disesuaikan dengan pengajaran ilmu-ilmu kehidupan (IPTEK dan keahlian).

Pelajaran ilmu-ilmu kehidupan (IPTEK dan keahlian) dibedakan dari pelajaran lain guna membentuk syahsiah Islamiah dan tsaqafah Islamiah. Materi pembentuk syahsiah Islamiah mulai diberikan di tingkat dasar sebagai materi pengenalan, lalu meningkat pada materi pembentukan dan peningkatan setelah usia anak didik menginjak balig (dewasa). Sementara materi tsaqafah Islamiah dan ilmu-ilmu kehidupan diajarkan secara bertingkat mulai tingkat dasar hingga pendidikan tinggi.

Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar di seluruh jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta.

Materi pelajaran yang bermuatan pemikiran, ide, dan hukum yang bertentangan dengan Islam, seperti sosialis/komunis, liberal/kapitalis, akidah ahli kitab, sejarah asing, bahasa maupun sastra asing, dan lainnya, hanya diberikan di tingkat pendidikan tinggi. Tujuannya hanya untuk pengetahuan, bukan diyakini dan diamalkan.

Pendidikan sekolah tidak membatasi usia. Yang ada hanyalah batas usia mulai wajib belajar bagi anak-anak, yakni tujuh tahun.

Penyelenggaraan kegiatan olahraga dilangsungkan secara terpisah bagi murid laki-laki dan perempuan.

Pendidikan diselenggarakan oleh negara secara gratis atau murah. Swasta bisa menyelenggarakan pendidikan asalkan visi, misi, dan sistem pendidikan yang dikembangkan tidak keluar dari ajaran Islam.

b. Keluarga

Keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama. Pembinaan kepribadian dan penguasaan dasar-dasar tsaqafah Islam dilakukan melalui pendidikan dan pengalaman hidup sehari-hari. Semuanya dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada di keluarga, utamanya orang tua.

c. Masyarakat

Pendidikan di tengah masyarakat juga merupakan proses pendidikan sepanjang hayat, khususnya berkenaan dengan praktik kehidupan sehari-hari yang dipengaruhi sumber belajar yang ada di masyarakat, seperti tetangga, teman pergaulan, lingkungan, serta sistem nilai yang berjalan. Dalam sistem Islam, masyarakat merupakan salah satu elemen penting penyangga tegaknya sistem selain ketakwaan individu dan keberadaan negara sebagai pelaksana syariat Islam.

3. Asas Pendidikan

Islam mewajibkan setiap muslim untuk memegang teguh ajaran Islam sebagai dasar dalam berpikir dan berbuat, asas dalam hubungan antarsesama manusia, asas bagi aturan masyarakat dan bernegara, termasuk dalam menyusun sistem pendidikan. Maka, ditetapkanlah akidah Islam sebagai asas dalam pendidikan.

4. Struktur Kurikulum

Kurikulum pendidikan Islam di sekolah dijabarkan dalam tiga komponen utama, yaitu pembentukan syahsiah Islamiah (kepribadian Islami), tsaqafah Islam, dan ilmu kehidupan (IPTEK dan keahlian).

Proses pembentukan syahsiah Islamiah diberikan terus-menerus mulai tingkat TK, SD, SMP, SMU, hingga perguruan tinggi. Sedangkan muatan tsaqafah Islam dan ilmu kehidupan (IPTEK dan keahlian) diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing. Termasuk materi dasar antara lain pengenalan Al-Qur’an dari segi hafalan dan bacaan, prinsip-prinsip agama, membaca, menulis, berhitung, prinsip bahasa Arab, menulis halus, sirah Rasul dan Khulafaur Rasyidin, serta berlatih berenang dan menunggang kuda.

5. Dana, Sarana, dan Prasarana

Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah sebagaimana disarikan oleh Al-Baghdadi dalam buku Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, negara memberikan pelayanan pendidikan cuma-cuma (bebas biaya). Begitu pula diberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) sebaik mungkin. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Dana pendidikan ditanggung negara yang diambil dari Baitulmal. Sistem pendidikan bebas biaya dilakukan oleh para sahabat (ijmak), termasuk pemberian gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar yang diambil dari Baitulmal.

Inilah gambaran sistem pendidikan dalam Islam yang akan bisa menyelesaikan problematika pendidikan, anak didik, serta generasi pada umumnya. Wallahu a‘lam bish-shawab.

Oleh: Rodlifatul Jannah
Ibu Rumah Tangga

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA