Kapitalisme dan Rusaknya Dunia Pendidikan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Hari Pendidikan Nasional setiap tahun diperingati dengan berbagai seremoni dan slogan tentang pentingnya menuntut ilmu. Namun, di balik perayaan tersebut, masih banyak persoalan pendidikan yang belum benar-benar dibenahi. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi berilmu dan berakhlak justru terus diwarnai berbagai krisis moral dan kekerasan.

Sistem pembelajaran hari ini lebih banyak menekankan capaian akademik dibandingkan pembentukan karakter. Pelajar didorong mengejar angka, peringkat, tugas, dan prestasi tanpa dibarengi pembinaan kepribadian yang kuat. Akibatnya, sekolah maupun kampus hanya menjadi tempat menjalani rutinitas belajar demi memperoleh ijazah dan pekerjaan, bukan tempat membangun pola pikir serta akhlak yang benar. Kondisi ini akhirnya melahirkan banyak persoalan sosial di lingkungan pendidikan yang terus berulang.

Salah satu kasus yang ramai diperbincangkan ialah dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Kasus tersebut kembali membuka mata publik bahwa lingkungan pendidikan belum sepenuhnya aman bagi peserta didik. Ironisnya, banyak kasus serupa baru mendapat perhatian ketika telah viral di media sosial. Jika tidak menjadi sorotan publik, tidak sedikit persoalan kekerasan atau pelecehan yang akhirnya mengendap tanpa penyelesaian yang jelas dan tegas.

Lemahnya sanksi terhadap pelaku juga memperlihatkan bahwa penanganan kasus di dunia pendidikan masih jauh dari kata serius. Hukuman sering kali hanya berupa teguran, pembinaan internal, atau sanksi administratif yang tidak menimbulkan efek jera. Sementara itu, korban harus menghadapi trauma berkepanjangan akibat peristiwa yang dialaminya. Situasi ini membuat pelaku tidak takut mengulangi perbuatannya dan menunjukkan bahwa perlindungan terhadap korban masih sangat lemah.

Maraknya kekerasan dan pelecehan di lingkungan pendidikan menjadi gambaran kegagalan sistem pendidikan kapitalisme dalam membentuk kepribadian generasi. Pendidikan dalam sistem ini lebih diarahkan untuk mencetak individu yang siap bersaing di dunia kerja dan mengejar keberhasilan materi. Tolak ukur keberhasilan akhirnya hanya sebatas nilai, gelar, dan karier. Pelajar diposisikan sebagai alat produksi bagi kebutuhan industri, sementara pembinaan moral dan akhlak tidak menjadi fokus utama.

Padahal, kecerdasan tanpa pondasi moral hanya akan melahirkan kerusakan baru di tengah masyarakat. Ketika agama dipinggirkan dari kehidupan dan pendidikan hanya berorientasi pada keuntungan duniawi, lahirlah generasi yang mungkin unggul secara akademik, tetapi lemah dalam menjaga adab, kehormatan, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Islam memandang pendidikan sebagai sarana membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Pendidikan tidak sekadar diarahkan untuk memperoleh pekerjaan atau kedudukan, melainkan untuk membangun kepribadian Islam dalam diri setiap individu. Karena itu, negara memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam agar lahir generasi yang cerdas sekaligus bertakwa.

Melalui pendidikan Islam, peserta didik dibina agar memiliki keselarasan antara pola pikir dan perilaku sesuai syariat. Ilmu tidak hanya digunakan untuk meraih keuntungan pribadi, tetapi juga untuk membentuk kepribadian Islam (syahsiah islamiah) yang mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan jauh dari kerusakan moral. Dengan dasar keimanan yang kuat, berbagai penyimpangan moral dapat dicegah sejak awal.

Selain itu, Islam juga menerapkan sanksi tegas bagi pelaku kejahatan sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat sekaligus untuk menimbulkan efek jera. Negara turut menciptakan lingkungan yang mendukung ketakwaan melalui sinergi keluarga dan masyarakat.

Oleh: Shira Tara
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA