Menggugat Tanggung Jawab Negara dalam Menjamin Keamanan Obat dan Pangan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Terhitung 73 jenis jajanan berasal dari Cina ditarik dari
pasaran oleh BPOM. Terjadinya penarikan ini dikarenakan laporan kejadian luar
biasa keracunan pangan (KLBKP) yang terjadi di 7 wilayah di Indonesia.
Wonosobo, Pamekasan, Bandung Barat, Sukabumi, Tangerang Selatan, Riau, dan
Lampung, itulah wilayah yang terdampak KLBKP. Mirisnya, yang menjadi korban
keracunan pangan ini adalah anak-anak sekolah dasar.

Taruna Ikrar, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
mengatakan bahwa pihaknya menerima laporan terkait keracunan yang diduga imbas
dari konsumsi jajanan La Tiao. Jajanan ini berbahan dasar tepung, dengan rasa
pedas gurih, bertekstur kenyal. Jajanan jenis ini terdaftar di BPOM sebagai
produk impor dari Cina.

Karena laporan tersebut, BPOM melakukan uji laboratorium,
dan terdeteksi mengandung bakteri Bacillus cereus. Bakteri tersebut terdeteksi
di 4 jenis jajanan La Tiao. Yang terdampak bakteri tersebut akan merasakan
gejala seperti sesak napas, mual, muntah, hingga diare.

Kasus keracunan makanan yang menimpa banyak siswa
mengingatkan kita akan kasus gagal ginjal akut karena obat yang mengandung zat
berbahaya beberapa tahun lalu. Hal ini menunjukkan lemahnya jaminan keamanan
pangan dan obat.

Memastikan keamanan pangan dan obat yang beredar adalah
tanggung jawab negara, termasuk produk yang berasal dari luar negeri. Namun,
dalam negara yang menjalankan sistem sekuler kapitalis, hal ini bisa
terabaikan, mengingat peran negara bukan sebagai pengurus rakyat.

Inilah buah dari sistem kapitalis. Negara berasas pada
ideologi kapitalisme sekuler, tidak berasaskan syariat Islam. Negara bukan
hanya lemah menangani problematika rakyat. Pemerintah sering menjadi pemeran
utama dalam berbagai kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil dan
berkolaborasi dengan oligarki, memfasilitasi untuk menekan pihak yang lemah,
dengan berbagai kebijakan dan UU yang merugikan rakyat dan menguntungkan para
oligarki.

Seperti fakta di dua periode masa pemerintahan kemarin yang
baru lengser, keran impor dibuka lebar-lebar. Inilah pemicu maraknya jajanan
impor. Alih-alih berinovasi, kebijakan impor malah jadi solusi instan mengatasi
stok pangan dalam negeri.

Kejadian KLBKP ini menjadi bukti kelalaian pemerintah.
Lemahnya pengawasan dan tidak adanya antisipasi akan kejadian seperti ini
disebabkan karena aturan mereka tidak berlandaskan pada paradigma aturan agama.
Standar mereka bukan halal dan haram, atau thayyib dan tidak thayyibnya suatu
makanan. Akan tetapi, acuan mereka hanya materi, berfokus pada percepatan
ekonomi.

Lain halnya dengan sistem Islam, yang memiliki mafhum ra’awiyah
dalam semua urusan, termasuk dalam obat dan pangan, baik dalam produksi maupun
peredaran. Prinsip halal dan thayyib akan menjadi panduan negara dalam
memastikan keamanan pangan dan obat. Negara Islam memiliki berbagai mekanisme
dalam memastikan keamanan pangan dan obat, di antaranya dengan adanya Kadi
Hisbah.

Kadi Hisbah berperan sebagai pengontrol ketertiban umum dan
mengawasi perdagangan serta peredaran produk di pasaran di wilayah seorang Kadi
Hisbah bertugas. Jika terjadi satu kecurangan, seperti produk haram masuk ke
wilayah tempat Kadi Hisbah bertugas, maka akan dijatuhkan sanksi sesuai aturan
saat itu juga, misalnya dengan dimusnahkannya produk haram tersebut.

Sistem Islam akan menyatukan pengaturan urusan kehidupan
dengan sisi ruhiyah. Keduniawian selalu lekat dengan keakhiratan. Kepemimpinan
adalah amanah yang memiliki fungsi pelindung (junnah) dan pengurusan (riayah)
untuk rakyatnya.

Dalam Islam, kepemimpinan sepaket dengan semua aturan yang
dijalankan. Tidak bisa dimungkiri bahwa aturan Islam begitu sempurna mengatur
seluruh aspek kehidupan, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya, politik,
hukum, dan sebagainya. Problem ekonomi dalam pandangan Islam bukanlah
kelangkaan suatu barang, tetapi sejatinya persoalan dari pendistribusian
kekayaan. Maka, jika pelaksanaannya secara sempurna, sudah bisa dipastikan
keberkahan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, termasuk alam semesta
akan terwujud. Wallahualam bishawab.

Oleh: Yuli Yana Nurhasanah, Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA