Tinta Media – Bulan Muharram 1447 H telah menyapa kita, bulan yang dimuliakan, pembuka tahun baru Islam. Bulan ini dikenal sebagai syahrullah, (bulannya Allah). Muharram bukan sekadar momentum seremonial atau rutinitas tahunan, melainkan panggilan spiritual untuk merenungkan arah hidup umat Islam hari ini.
Di tengah semarak puasa sunah Tasua dan Asyura, umat Islam di berbagai belahan dunia menghadapi kenyataan getir. Tahun baru Islam kali ini datang saat luka umat belum juga mengering. Genosida di Palestina masih berlangsung tanpa henti, sementara sebagian besar pemimpin negeri-negeri muslim justru bungkam, bahkan memilih bekerja sama dengan penjajah. Ketika saudara-saudara kita di bumi para nabi dibombardir dan kelaparan, para penguasa justru sibuk menjalin kesepakatan politik dan dagang dengan musuh umat.
Padahal, hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah yang menjadi awal kalender Hijriah adalah simbol awal lahirnya tatanan kehidupan Islam. Dari peristiwa itu berdiri Daulah Islam pertama, sebuah negara yang menyatukan umat di bawah naungan hukum Allah, membawa kesejahteraan, persatuan, dan kemuliaan. Islam pun menyebar luas, membawa rahmat dan keadilan bagi seluruh umat manusia.
Namun, kini kita menyaksikan keterpurukan yang menyedihkan. Umat yang dahulu menjadi pemimpin peradaban dunia, kini justru berada dalam kondisi lemah, terpecah, dan kehilangan arah perjuangan. Umat Islam hidup dalam sistem yang jauh dari wahyu Ilahi. Sebagaimana diperingatkan dalam QS Thaha: 124, yang artinya:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit ….”
Inilah yang terjadi, hidup sempit, tertindas, dan tak bermartabat, karena jauh dari hukum Allah.
Oleh sebab itu, Muharram harus menjadi titik balik kesadaran umat. Kita harus bertanya secara jujur, mengapa kita kehilangan kemuliaan sebagai ummatan wahidah? Jawabannya jelas karena kita meninggalkan aturan Allah dan menerima sistem sekuler buatan manusia. Solusinya pun jelas, yaitu kembali kepada Islam sebagai sistem hidup yang menyeluruh (kaffah), dengan menjadikan syariat sebagai sumber hukum, dan mewujudkan institusi pelindung umat, yakni Khilafah Islamiyah.
Khilafah bukan mimpi kosong. Ia adalah realitas sejarah yang pernah menyatukan kaum muslimin, menjaga kehormatan mereka, dan membela kaum tertindas. Akan tetapi, untuk mewujudkannya, dibutuhkan gerakan dakwah yang ikhlas dan Istikamah yang membina umat, membangkitkan kesadaran politik Islam, dan memimpin perubahan sejati menuju sistem Ilahi.
Tahun baru Islam bukan hanya soal niat dan doa. Ia harus menjadi momen hijrah, dari sistem jahiliah menuju tatanan Islam, dari ketergantungan terhadap solusi buatan Barat, menuju perjuangan menegakkan sistem Islam yang akan memuliakan umat dan menyelamatkan dunia.
Kini saatnya umat Islam bangkit. Bukan dengan nostalgia, tetapi dengan perjuangan. Mari, jadikan Muharram sebagai awal langkah menuju tegaknya kembali peradaban Islam yang mulia di bawah naungan Khilafah ala minhaj an-nubuwwah.
Oleh: Luthfia Rifaah, S.T., M.Pd,
Pemerhati Remaja
Views: 12









