Peristiwa Rafah Harusnya Meneguhkan Perjuangan Syariah Kaffah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kebiadaban Zionis Yahudi sepertinya belum berakhir dan makin menjadi-jadi. Warga Gaza makin terpuruk dan tersudut di wilayah Rafah, sebuah
kota kecil di sebelah selatan jalur Gaza.

Rafah merupakan tempat berlindung terakhir umat Islam
setelah kota-kota lain habis dibombardir Zionis Yahudi. Akan tetapi, kebiadaban
kaum Zionis makin menyengsarakan warga Gaza dengan serangan brutal yang mereka
arahkan ke kamp pengungsian di Rafah pada Ahad, 26 Mei yang lalu.

Serangan ini menyebabkan kamp pengungsian terbakar dan 50
orang tewas dengan kondisi terbakar hidup-hidup. Kengerian yang mereka alami
seakan tak kunjung usai.

Dimulai dari peristiwa Nakba tahun 1948, rakyat Palestina
menyebutkan bahwa Nakba adalah petaka dan bencana bagi rakyat Palestina.
Serangan pembersihan etnis tersebut menewaskan 15.000 orang warga Palestina.
Artinya, sudah 76 tahun teror yang dilakukan oleh Zionis kepada rakyat
Palestina hingga hari ini terjadi.

Yang makin memuakkan adalah pernyataan orang-orang bodoh
yang menyalahkan rakyat Palestina atas genosida yang menimpa mereka hari ini.
Mereka mengatakan bahwa genosida ini adalah serangan balasan atas serangan
Hamas 7 Oktober silam. Padahal, kalau melihat peristiwa sejarah, gerakan
antisemit atau gerakan anti-Yahudi di Eropa telah ada sekitar tahun 1879 hingga
1930an. Gerakan ini menyebabkan orang-orang Yahudi tidak diterima di Eropa.

Kini, bantuan-bantuan kemanusiaan tercegat di pintu Rafah.
Sebagian ada yang dihancurkan oleh penduduk Yahudi. Kelaparan, kehausan, dan
ketakutan menyelimuti kaum muslimin di Rafah hari ini. Bunyi dentuman bom sudah
menjadi hal biasa bagi mereka. Mereka berharap bisa mati menjadi syuhada.

Bagaimana tidak? Mereka hidup dengan kengerian yang hebat.
Bahkan, minum pun dengan menggunakan air laut dan makan dengan rumput. Mereka
berharap bisa segera berada di surga, sehingga tidak ada lagi kesedihan yang
tak terperikan.

Yang lebih menyedihkan lagi, ketika bom melanda wilayah
mereka, kemudian mereka selamat, satu kalimat yang mereka katakan, “Dosa
apa yang telah aku lakukan, sehingga Allah tidak rida aku mati?”

Saking mereka lebih merindukan mati daripada hidup di tengah
‘neraka’ dunia hingga kalimat itu terucap.

Sebanyak 1,5 juta warga Gaza yang kini berada di jalur Rafah
tinggal menanti kematiannya. Akan tetapi, negeri muslim hanya menikmatinya.
Inilah bukti lemahnya kekuatan kebangsaan yang tidak mampu menolong warga Gaza
karena takut dengan kebijakan-kebijakan yang diatur oleh negara besar terhadap
negeri-negeri muslim lainnya.

Pembantaian yang dilakukan zionis hari ini lebih mengerikan
dari peristiwa Nakba yang menewaskan 15 ribu jiwa. Hari ini, sudah lebih dari
32 ribu rakyat Palestina tewas dan 7 ribu lainnya masih tertimbun runtuhan.
Sebagian korbannya adalah perempuan dan anak-anak.

Untuk apa mengharapkan kemerdekaan Palestina dengan
menciptakan negara bangsa, sedangkan negara bangsa di sekitar Gaza pun tidak
mampu membantu Palestina karena di bawah bayang-bayang negara adidaya?

Penguasa dunia Islam, terutama para pemimpin negeri muslim
hari ini masih menjadi alas kaki kepentingan Barat dan kebangsaan mereka. Maka,
sebenarnya merekalah penjaga eksistensi negara Zionis di jantung kaum muslimin.

Kita harusnya belajar dari sejarah ketika Islam memimpin
dunia dengan segala syariat yang diterapkan. Syariat dijadikan sebagai standar
bagi perbuatan, sehingga tercipta keamanan. Tidak ada satu pun peristiwa
pembantaian, genosida ataupun bentuk kezaliman lainnya yang menghancurkan
kehidupan dan menimbulkan kesengsaraan. Bahkan, seperti penulis ceritakan di
atas bahwa orang-orang Yahudi pun ditampung di wilayah kaum muslimin di bawah
pemerintahan Khilafah Utsmani.

Ketika seorang Zionis Yahudi bernegosiasi ingin membeli
sejengkal tanah Palestina dengan iming-iming uang yang tidak sedikit, Khalifah
menolak dengan sangat keras. Itulah bentuk independensi negara Islam. Khalifah
tidak sedikit pun memberi celah bagi masuknya orang-orang kafir yang akan
mengekang mengintervensi kaum muslimin.

Inilah PR besar bagi umat hari. Diamnya mereka terhadap
penderitaan kaum muslimin di Rafah membuktikan pengkhianatan terbesar terhadap
kaum muslimin. Karena itu, berharap pada penguasa muslim ataupun merdeka ala
nasional state sama saja omong kosong.

Peristiwa Rafah harusnya membuka mata kita, bahwa tanpa
penerapan syariah kaffah, Palestina masih terus merana. Hanya penerapan syariah
kaffah yang akan menghentikan merananya Palestina.

Syariah kaffah hanya bisa diterapkan jikalau pemimpin negeri
muslim menerima kepemimpinan independen tanpa campur tangan orang kafir.
Kepemimpinan itu bentuknya khas, karena dialah yang akan menyelesaikan masalah
demi masalah, termasuk membebaskan Palestina dengan panduan Al-Qur’an dan
hadis.

Allah Swt. Berfirman,

وَقَٰتِلُوا۟
فِى سَبِيلِ
ٱللَّهِ
ٱلَّذِينَ
يُقَٰتِلُونَكُمْ
وَلَا تَعْتَدُوٓا۟
ۚ إِنَّ ٱللَّهَ
لَا يُحِبُّ
ٱلْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang
memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 190)

Tidak ada solusi yang tepat untuk menghapus kesedihan warga
Gaza dan kaum muslimin di seluruh dunia kecuali dengan hukum syariah. Syariat
memerintahkan untuk mengirimkan pasukan militer dan membebaskan Baitul Maqdis.
Gaza membutuhkan militer, bukan sekadar bantuan logistik.

Serangan militer tidak bisa dilawan dengan gandum dan minyak
samin. Selain itu, hentikan semua kerja sama dengan Zionis di semua sektor.
Pada faktanya, negara Zionis adalah negara lemah yang amat bergantung pada
pasokan negara tetangganya.

Untuk itu, kaum muslimin harus bersatu dalam satu kepimpinan
umat Islam, yaitu Khilafah Islamiyah yang akan membebaskan Palestina dari cengkeraman
Zionis Yahudi selamanya. Dengan begitu, Palestina akan mendapatkan kemerdekaan
hakiki, bukan kebebasan yang terbatas dalam balutan nasionalisme.

Inilah kabar yang disampaikan oleh Rasulullah sebagai
teladan kita, pengingat dan penguat keimanan kita sebagai seorang muslim dan
hamba yang tunduk kepada Allah Swt. dan segala firman yang diturunkan-Nya.

Oleh: Hexa Hidayat, Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 16

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA