Tinta Media – Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei selalu membuka harapan baru bagi perbaikan pendidikan negeri. Program-program baru senantiasa ditawarkan oleh pemimpin negeri. Kali ini, presiden meluncurkan program pembangunan gedung sekolah dan bantuan untuk guru. Sejauh apa program tersebut dilaksanakan?
Kenyataannya, kondisi pendidikan di Indonesia masih suram. Banyak bangunan sekolah yang sudah tidak layak, tetapi masih saja digunakan. Sarana dan prasarana pendidikan juga jauh dari kata memadai. Belum lagi para guru, terutama honorer, mendapatkan gaji yang sangat rendah.
Kondisi tersebut tidak lepas dari kecilnya anggaran pendidikan yang disediakan pemerintah.
Efisiensi anggaran yang dilakukan presiden sangat bertolak belakang dengan kebutuhan rakyat, khususnya di bidang pendidikan. Mestinya, anggaran untuk pendidikan ditingkatkan mengingat begitu pentingnya peran pendidikan dalam kemajuan negeri.
Kondisi tersebut diperparah dengan korupsi yang masih menggurita. Mirisnya lagi, sistem ekonomi kapitalisme yang diemban Indonesia menjadikan utang sebagai andalan untuk pembangunan, termasuk pendidikan.
Ini berbeda dengan sistem Islam. Islam memandang pendidikan sebagai tanggung jawab negara dengan kualitas yang memadai. Dengan sistem ekonomi Islam, negara mampu menyediakan sarana dan prasarana pendidikan secara lengkap.
Selain itu, sistem Islam akan menghargai setiap jasa guru dengan penghargaan yang tinggi. Islam memiliki visi pendidikan, yaitu membangun generasi unggul berkepribadian Islam untuk kemajuan serta kejayaan umat dan peradaban.
Oleh: Raras, Jember
Raras4699@gmail.com
Sahabat Tinta Media
Views: 33
















