Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Tahun ajaran baru, semangat baru! Secara resmi jam pelajaran di Kota Bekasi akan dimulai pukul 06.30 WIB sesuai arahan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hayo, siapa yang masih suka telat?

Duh, semangat baru kita terancam terkikis, nih! Kalau lihat berita mundur ke belakang, ada perasaan was-was buat para pelajar di Kota Bekasi. Bekasi bukan kota kecil lagi. Mal ada di mana-mana. Anak SMP sudah pegang HP canggih, tetapi ironisnya, makin banyak kasus tawuran, pelecehan, dan kenakalan remaja yang justru muncul dari lingkungan sekolah.

Baru-baru ini, Bekasi lagi-lagi viral. Namun, bukan karena prestasi siswa, melainkan karena sistem pendidikannya makin absurd. Sekolah El-Kareem Bekasi disegel karena operasionalnya tanpa izin yang sah dan tenaga pengajarnya tidak layak (megapolitan.kompas.com, 18/06/2025). Mereka mengaku pakai kurikulum internasional (Cambridge), padahal zonk.

SMAN 3 Cikarang Utara digeruduk warga gara-gara penerimaan siswa baru dinilai tidak adil dan transparan (radarbekasi.id, 10/02025).

Guru-guru di Bekasi mengeluh karena gaji dipotong secara sepihak, ditambah lagi pungli yang makin brutal (radarbekasi.id, 18/06/2025). Sekolah keren tidak menjamin sistemnya waras. Halo … pendidikan kita, tuh, lagi kenapa?

Sekolah Hanya Formalitas?

Sekarang sekolah lebih sibuk mengejar nilai, target, dan akreditasi. Apakah membentuk karakter? Tentu tidak semua serius. Hanya segelintir guru yang peduli soal akhlak anak, sementara yang lain, yang penting tugas dikumpulkan dan tidak berisik di kelas.

Sekolah menjadi tempat formalitas. Kurikulum padat, tetapi jiwa siswa kosong. Mereka diberi pelajaran agama, tetapi di luar, jam pelajaran bebas tanpa arah. Padahal, sekolah harusnya menjadi benteng terakhir generasi. Nyatanya, sekarang seperti pintu tol, semua bebas lewat, tidak ada palang moral.

Teknologi makin maju, tetapi akhlak menurun. Kalau boleh jujur, siswa sekarang lebih hafal trending TikTok daripada ayat atau pepatah. Mereka lebih mengerti “filter Instagram” daripada filter pergaulan. Gadget makin canggih, tetapi mental tidak diperhatikan. Anak dibiarkan mengakses apa saja tanpa pendampingan dan bimbingan. Ketika sudah menjadi korban atau pelaku, barulah ramai. Akan tetapi, ya … nasi sudah menjadi bubur sambal balado.

Kalau Sistemnya Gagal, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Kita tidak bisa hanya menyalahkan murid dan menuntut guru jadi pahlawan. Yang salah itu adalah sistem pendidikan yang hanya memikirkan output untuk lulus UN, dapat ijazah, dan lanjut kuliah, tetapi melupakan input, apakah anak ini paham terhadap mana yang benar dan salah, mengerti batas pergaulan atau tidak, mengetahui cara menjaga diri di dunia nyata dan maya atau tidak. Kalau sistemnya asal-asalan, jangan heran hasilnya kacau.

Yang menjadi masalah bukan hanya oknum, tetapi sistem sekularisme dan kapitalisme yang merajalela. Sekolah hari ini bukan lagi tempat mencari ilmu, tetapi lahan bisnis. Kurikulum gonta-ganti, tetapi isinya makin menjauh dari nilai agama dan moral. Guru menjadi korban, murid menjadi alat, orang tua hanya bisa gigit jari. Semua ini terjadi karena pendidikan dijalankan dengan sistem kapitalis yang berorientasi pada keuntungan, bukan pencerdasan akhlak.

Akar masalahnya adalah kapitalisasi pendidikan. Kurikulum internasional digandrungi, karena kurikulum nasional dinilai tak relevan. Akan tetapi, sayangnya kurikulum asing makin jauh dari nilai Islam.

Selain itu, penerimaan siswa tiap tahun bikin kisruh karena prosesnya tidak adil, transparansi minim, dan sering menjadi ajang titip-menitip.

Guru hanya digaji pas-pasan, masih harus bayar pungli. Bagaimana mau total mengajar kalau mental dan finansial terus ditekan?

Islam punya blueprint pendidikan yang tidak hanya mengajar. Dalam Islam, pendidikan dibangun dari fondasi tauhid, akhlak, dan kontrol diri. Tidak hanya mengajari supaya cerdas, tetapi juga mengerti tujuan hidup, tahu mana halal-haram, dan sadar dengan tanggung jawabnya di masyarakat.

Sekolah dalam sistem Islam tidak hanya memiliki guru akademik, tetapi juga pembimbing akhlak. Kurikulum tidak hanya sains dan matematika, tetapi juga pembentukan kepribadian yang lurus. Media, medsos, dan lingkungan sekolah dijaga agar tidak menjadi tempat tumbuhnya konten dan kebiasaan rusak. Islam tidak menyekat kreativitas, tetapi mengarahkan potensi ke arah yang benar.

Islam Punya Jawaban Total

Islam memandang pendidikan sebagai amanah, bukan bisnis. Dalam sistem Islam, pendidikan gratis dan berkualitas dijamin negara. Negara wajib menyediakan fasilitas, guru, dan kurikulum yang berbasis akidah Islam. Guru dihormati dan dijamin kesejahteraannya. Di masa Khilafah, guru menjadi profesi mulia, bukan sekadar profesi numpang hidup. Kurikulum dibangun untuk mencetak kepribadian Islam, bukan sekadar pintar di atas kertas, tetapi juga kuat iman, akhlak, dan kontribusinya ke masyarakat. Negara bertanggung jawab langsung dalam pendanaan pendidikan yang berasal dari pos kepemilikan umum dan negara, bukan hasil pungutan liar atau subsidi setengah hati.

Sudah waktunya revolusi, bukan kompromi. Pendidikan kita bukan sekadar butuh revisi, tetapi butuh revolusi sistem. Selama kapitalisme masih jadi fondasi dan pendidikan dibiarkan menjadi bisnis, maka kasus seperti El-Kareem, SMAN 3, dan potongan gaji guru akan terus berulang. Islam tidak hanya mengajarkan tauhid dan fiqih, tetapi juga memiliki sistem pendidikan yang menyeluruh dan sudah terbukti di masa kejayaan Islam.

Kita adalah generasi masa depan, jangan ikut arus yang salah. Boleh melek teknologi, tetapi jangan buta akhlak. Boleh update tren, tetapi jangan downgrade iman. Boleh jadi Gen Z, tapi yang punya visi.[]

Oleh: Najdah Nashita Alfajri
Pelajar di Kota Bekasi

Views: 26

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA