Tinta Media – Guyonan dengan umpatan, umpatan dinormalisasi menjadi guyonan. Ironis, bullying verbal diberi panggung, diklaim menjadi guyonan biasa, berkedok pengajian.
Jagad maya dihebohkan, dengan potongan video umpatan, yang dilakukan Gus Miftah terhadap penjual es teh dalam acara Magelang Bersholawat. Memilih diksi gobl*k sangat tidak pantas dilakukan oleh manusia, terlebih tokoh publik utusan khusus presiden, dalam bidang kerukunan beragama dan pembinaan sarana beragama, sekaligus pendakwah kondang (Liputan6 Rabu, 4/12/2024) .
Tidak Mendidik!
Perlu ditelisik lebih dalam lagi, ketika merujuk kepada KBBI, esensi dari kata gobl*k adalah bodoh sekali. Tentu, tidak sepantasnya kata tersebut dilontarkan kepada orang lain. Apalagi yang direndahkan merupakan seseorang yang sedang mencari nafkah, dengan berjualan es teh di tengah-tengah keramaian acara Magelang Bershalawat.
Realitas, ternyata umpatan yang didapatkan, bahkan yang menyayat hati warganet berjamaah, ketika respon mayoritas jamaah menertawakan umpatan tersebut. Bahkan sosok kiai, habib, dan tokoh-tokoh lain, yang ada di atas panggung kompak tertawa lebar.
Umpatan Berkedok Pengajian!
Momen yang seharusnya jamaah mendapatkan keberkahan ilmu dari sang guru, dengan bershalawat bisa mendapat syafaat Rasulullah, bahkan mampu up grade diri menjadi lebih baik. Namun, justru sebaliknya, mendapatkan kalimat umpatan, dan menginstal bullying berkedok syiar.
Pada umumnya, manusia memiliki kemampuan merekam suatu informasi. Artinya ketika kalimat umpatan dari gus tersebut dianggap sebagai gaya syiar, tentu jamaah akan memiliki informasi bahwa pemilihan diksi menggunakan kalimat kasar sekalipun dalam konteks dakwah diperbolehkan, berujung lelucon dengan menggunakan kalimat umpatan menjadi hal lumrah dan dinormalisasi.
Pernahkah terlintas di dalam benak temah-teman, bahwasanya kejadian tersebut bisa saja di copy paste? Anak-anak mendengar lalu menjiplak guyonan tersebut di lingkungan rumah, lingkungan bermain, bahkan di sekolah. Bukankah itu merupakan rangkaian memberi contoh pendidikan yang buruk? Bukankah membahayakan generasi peradaban?
Darurat Bullying
Umpatan terhadap orang lain, merupakan bagian dari bullying verbal. Dilansir dari laman indopos.co.id (Agustus 2024), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membeberkan data, sebanyak 3.800 kasus bullying, sepanjang tahun 2023. Lebih spesifik, menunjukkan 55,5 persen bullying fisik, sedangkan bullying verbal mencapai 29,3 persen, dan 15,2 persen bullying psikologis.
Sedangkan kasus bullying mengalami peningkatan secara signifikan, sepanjang awal tahun 2024, KPAI sudah mendapatkan 141 pengaduan kasus bullying (Tempo, 12/03/2024).
Merujuk kepada data, ternyata bullying nampak benang kusut yang belum mampu diuraikan dan terselesaikan dengan tuntas. Lantas, ketika dalam sebuah forum besar seperti pengajian, seorang pendakwah menggunakan umpatan sebagai cara dalam berdakwah, masih pantaskah dijadikan rujukan? Alih-alih melahirkan kerukunan umat beragama, justru menyuburkan budaya bullying.
Harus dipahami secara mendalam, bahwa perkataan dan tingkah laku seseorang merupakan refleksi dari sebuah kepribadian. Berangkat dari informasi yang diadopsi, melahirkan sebuah pemahaman, dan menjadi pemicu manusia, untuk bertingkah laku serta bertutur kata.
Artinya, untuk mengetahui kepribadian seseorang itu baik atau buruk, atau tutur katanya baik atau kasar, hal utama yang harus dipastikan adalah memastikan informasi seperti apa yang masuk ke dalam otak seseorang. Berhubung, otak manusia didesain sempurna, sehingga mampu mengasosiasikan antara fakta dengan informasi sebelumnya, yang melahirkan sebuah pemahaman seseorang.
Paradigma Sekularisme
Informasi menjadi salah satu faktor untuk menentukan kepribadian seseorang. Menarik, ketika hari ini, manusia hidup dalam kubangan paradigma bahwa agama tidak relevan dijadikan standar amal perbuatan manusia. Sederhananya, paradigma seseorang, perihal agama tidak boleh ikut campur dalam mengatur kehidupan manusia. Paradigma ini, terkenal dengan sekularisme, dan menjadi pemantik seseorang berpikir liberal.
Manusia ketika eksis dengan paradigma sekulerisme, tentu melakukan segala sesuatu tidak mempertimbangkan benar dan salah berdasarkan Standarisasi Sang Pencipta (SSP). Misalnya seseorang melakukan umpatan dengan dalih guyonan, tidak akan mempertimbangkan perasaan orang lain atau keridhaan Sang Pencipta, karena standarisasi perbuatan seseorang ada pada budaya masyarakat, atau suara mayoritas.
Tentu di era gempuran paradigma sekulerisme, apalagi ditunjang dengan era teknologi semakin canggih, membuat seseorang dengan mudah melihat budaya asing, mengikuti life style yang lagi kekinian, guyonan yang asyik versi manusia, bahkan menjiplak sesuatu yang dianggap menyenangkan dan benar sesuai Standarisasi Aturan Manusia (SAM).
Kesenjangan Sosial Kontras
Ketika menyoroti maraknya pedagang es teh dan lain sebagainya, di tengah-tengah pengajian, bahkan rela desak-desakan, dengan harapan mendapatkan rezeki. Sungguh, sejatinya keadaan ini menunjukkan terjadinya kesenjangan sosial yang sangat kontras. Misalnya fenomena klaster menengah kian tergerus. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) terjadinya penurunan klaster menengah secara signifikan selama lima tahun terakhir. Mencapai 9,5 juta orang, selama kurun waktu 2019 sampai 2024.
Di sisi lain, BPS menunjukkan data 54,97 juta orang yang masuk ke dalam klaster rentan miskin pada tahun 2019 atau setara 20,56 persen dari jumlah penduduk. Grafiknya naik menjadi 67,69 juta orang selama tahun 2024, atau setara 24,23 persen dari jumlah penduduk.
Di sisi lain, kelompok miskin cenderung stabil dari 25,15 juta orang atau 9,41 persen pada 2019 menjadi 25,22 juta orang atau 9,03 persen penduduk (Kompas.com, 30/9/2024).
Dalam waktu bersamaan, jumlah orang kaya kian bertambah, bahkan menempati posisi ke 13 dengan jumlah orang kaya terbanyak, setelah Australia. Sedangkan penjual es teh yang mendapat umpatan, bisa saja tergolong klaster menengah, atau bahkan mungkin klaster rentan miskin, bahkan miskin.
Artinya, apabila kita tarik benang merah, menyikapi problema ini, merupakan persoalan kompleks dan sistemik. Merujuk kepada sistem ekonomi yang diadopsi negeri ini adalah sistem ekonomi Pancasila. Ironis, ketika menyelami pemikiran Prabowo, ternyata sistem ekonomi ini didesain ala Tiongkok, yaitu bernuansa Kapitalisme.
Kapitalisme dianggap sangat relevan untuk mengentas kemiskinan, karena ketika melihat Tiongkok mampu stabil dalam perekonomian. Namun, perlu digarisbawahi bahwa Kapitalisme berasas profit. Barometernya adalah laba rugi, bukan lagi standar Sang Pencipta. Sehingga relate, kenapa marak dijumpai penjual di tengah-tengah pengajian. Bisa saja, karena maindset seorang penjual, akan mendapatkan keuntungan fantastis, bahkan mampu menjual produk dagangannya lebih banyak dari biasanya, dengan price cenderung lebih mahal seperti biasa, karena produk menjadi langka di tengah-tengah maraknya jamaah kajian.
Apabila melihat berdasarkan view helikopter, sudah sangat jelas bahwa akar permasalahan yang membuat kegaduhan ini, ada pada penerapan aturan-aturan dengan standarisasi manusia, bukan standarisasi Sang Pencipta.
Islam bukan Hanya Agama
Memahami bahwasanya Sang Pencipta sekaligus Sang Mudzabir (pembuat aturan) langkah awal manusia akan sadar kenapa kemaksiatan makin berkembang dan terus beragam. Langkah selanjutnya, memahami bahwa Islam bukan hanya agama, akan tetapi sebuah pemikiran atas dasar aqidah Islam, yang memancarkan peraturan kehidupan.
Perlu dipahami, bahwa Islam memiliki aturan kehidupan yang sangat relevan dan sempurna, dari aturan pendidikan, pergaulan, ekonomi, sampai peraturan dalam hal bernegara.
Ketika bercermin dari sistem pemerintahan Islam, tingkat kriminalitas sangat minim, karena Islam sendiri memuaskan akal, sesuai fitrah manusia, dan menentramkan jiwa. Ditunjuang dengan adanya sistem pidana Islam yang sangat adil dan memberikan efek jera.
Allah berfirman, “janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain, karena bisa jadi kaum yang di olok-olok lebih baik dari pada kita,…” (TQS. Hujurat ayat 11), karena kedudukan manusia di hadapan Allah sama, yang membedakan bukan kelas sosial, jabatan, dan lain sebagainya. Akan tetapi pembeda manusia satu dengan yang lainnya ialah ketakwaan kepada Allah.
Seberapa jauh tunduk kepada perintah Allah, dan menerapkan Islam secara keseluruhan, seperti firman Allah dalam QS al- Baqarah ayat 208.
Ketika Islam diterapkan sebagai aturan hidup, kesejahteraan itu nyata, kerukunan itu terealisasi. Bahkan Baitul Maqdis yang sekarang dijajah oleh Isrewel, dulu pernah mengalami kegemilangan dalam bingkai Islam. Kerukunan antar umat beragama bukan hanya retorika belaka, baik Nasrani, Yahudi, dan Islam semua rukun, sejahtera, dan tidak ada bullying bahkan penindasan terhadap minoritas.
Saatnya transformasi total dan menyeluruh, mencabut akar masalah, dan mengganti aturan kehidupan versi Sang Pencipta (Allah).
Wallahu’alam Bissowab.
Oleh: Novita Ratnasari, S. Ak.
Penulis Ideologis
![]()
Views: 6
















