Tinta Media – Wacana demiliterisasi Gaza kembali mencuat. BoP mendesak Hamas untuk melucuti senjatanya sebagai syarat rencana perdamaian Gaza. Setelah selesai pelucutan senjata, tentara Zionis Israel diminta mundur dari Gaza dan pasukan stabilitas Internasional akan bekerja sama dengan Palestina yang baru untuk mengambil alih tanggung jawab atas Gaza.
Di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan bahwa meskipun pelucutan senjata telah disepakati oleh Hamas, serangan oleh Israel masih terus berlanjut hingga menelan korban warga Gaza. Jelas, pernyataan ini tidak bisa dipercaya karena BoP bukan mediator global, tetapi jebakan kapitalisme global yang condong pada kepentingan Barat dan Zionis. Contohnya, sudah berapa kali setelah berlangsungnya pembantaian di Gaza diumumkan gencatan senjata oleh Zionis, tetapi hanyalah pernyataan palsu karena pembantaian tersebut masih berlanjut sampai detik ini.
Pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata di Gaza sejatinya merupakan rencana AS dan Zionis Israel melalui BoP. Karena itu, pelucutan senjata bukan solusi bagi perdamaian, justru ini adalah upaya untuk melemahkan rakyat Palestina.
Pemikiran tolak BoP kini sudah mulai hilang. kyarena itu, umat harus diingatkan kembali mengenai BoP yang justru menyerahkan Gaza pada mulut harimau (Zionis Israel dan AS), sementara Hamas dan kelompok bersenjata dilucuti.
Jelas, pelucutan senjata bukanlah solusi bagi perdamaian, keamanan, dan pembebasan Gaza. Penjajahan, perampasan tanah, dan genosida atas Gaza akan terus dilakukan oleh Zionis Israel.
Banyak pihak memandang bahwa dorongan tersebut bukanlah langkah netral, melainkan bagian dari tekanan politik yang cenderung menguntungkan kepentingan Barat. Ketika satu pihak diminta melucuti senjata, sementara pihak lain tetap memiliki kekuatan militer penuh, muncul pertanyaan besar tentang keadilan dan keseimbangan dalam proses perdamaian itu sendiri. Dari situasi konflik yang benar-benar belum berhenti, hal ini juga bisa dipersepsikan sebagai upaya melemahkan posisi tawar suatu pihak. Di sinilah terjadi pertarungan narasi, apakah perlawanan dianggap sebagai hak mempertahankan diri atau justru dilabeli sebagai ancaman yang harus dihentikan.
Di sisi lain, penderitaan warga sipil Gaza yang terus berlanjut menunjukkan bahwa akar persoalan belum tersentuh secara mendasar. Gencatan senjata yang berulang kali dilanggar memperlihatkan rapuhnya solusi berbasis kesepakatan politik semata tanpa adanya jaminan perlindungan yang nyata bagi masyarakat.
Bagaimana menghadirkan keadilan yang nyata dan menghentikan kekerasan? Umat harus disadarkan melalui dakwah agar memahami bahwa persatuan kaum muslimin adalah salah satu kekuatan untuk melawan.
Solusi Gaza bukan diplomasi, tetapi dengan membebaskan Palestina yang merupakan wilayah Islam melalui kekuatan militer. Dalam Daulah Khilafah, khalifah akan menggerakkan kekuatan militer seluruh negeri muslim untuk mengusir penjajah Zionis.
Khalifah adalah raa’in (pengatur dan pemelihara) dan junnah (perisai) yang akan melindungi nyawa kaum muslimin. Maka dari itu, kaum muslimin harus diingatkan dan disadarkan tentang bahaya Zionis Israel dan AS yang menggunakan siasat liciknya untuk melanggengkan penderitaan saudara kita di Palestina. Umat harus didorong untuk melakukan kritik dan koreksi atas pengkhianatan pemimpin negeri-negeri muslim, serta berjuang untuk menyatukan umat. Seluruh umat Islam harus yakin bahwa Palestina akan bebas ketika tentara kaum muslimin di bawah komando Khilafah memerangi dan melawan bengisnya Zionis Israel.
Hanya Islam yang mampu mengatasi berbagai persoalan yang menimpa umat. Maka, jangan lelah untuk berdakwah dan mengingatkan seluruh umat mengenai pentingnya persatuan.
Oleh: Wina Audina
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 2





