Tinta Media – Menjadi pemimpin memiliki tanggung jawab yang sangat besar, karena urusannya bukan hanya dunia, tetapi akhirat juga.
Pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya …” (HR. Bukhari & Muslim)
Pemimpin harus cakap dalam segala hal—mulai dari ibadah, kepribadian, akhlak, dan kemampuannya untuk menyelesaikan suatu masalah. Apalagi, yang dipimpin bukan hanya satu agama, tetapi berbagai macam agama, suku, ras, kebiasaan, dan tempat.
Ada dua sikap ekstrem umat terhadap pemimpin, antara lain:
Pertama, sikap taat tanpa batas. Banyak umat berpikir bahwa selama pemimpin itu muslim, maka wajib untuk ditaati tanpa batas.
Ketaatan pada pemimpin dianggap sudah final. Apa pun yang dilakukan pemimpin, maka harus ditaati meskipun banyak terdapat kezaliman. Mereka berpikir bahwa umat harus sabar, sementara pemimpin tidak boleh dikritik dan diprotes setiap mengeluarkan kebijakan. Jika tidak, maka umat akan dianggap membangkang pada pemimpin.
Padahal, setiap kritikan bisa menjadi pelajaran agar pemimpin bisa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan untuk kepentingan umat.
Kedua, sikap kritis, tetapi dituduh ingin menjatuhkan. Ada juga sebagian umat yang kritis terhadap setiap kebijakan pemimpin, tetapi sering dianggap ingin menjatuhkan. Padahal, kita wajib mengkritik pemimpin jika ada kebijakan yang tidak sesuai dan merugikan umat.
Pemimpin juga manusia yang pasti memiliki kesalahan. Sebagai orang yang peduli, kita harus mengingatkan dan nendukung setiap kebijakannya yang tidak zalim. Kita juga harus tahu bagaimana kriteria seorang pemimpin.
Pentingnya Pemimpin dalam Islam
Dalam Islam, pemilihan seorang pemimpin sangatlah penting. Begitu pentingnya sampai-sampai para sahabat menunda pemakaman Rasulullah ﷺ hanya untuk mengangkat seorang pemimpin.
Ini karena pemimpin adalah pengambil keputusan yang paling final. Jika keputusannya salah, maka akan timbul kehancuran dan ketidakadilan pada umat.
Maka, seorang pemimpin harus diingatkan dan dikritik agar setiap kebijakannya adil dan sesuai dengan aturan Allah Swt.
Seorang pemimpin memegang kendali terhadap setiap kebijakannya, baik urusan pendidikan, ekonomi, sosial, ataupun keagamaan. Semuanya harus diatur sesuai dengan syariat Islam. Jika tidak, maka akan menimbulkan berbagai dampak negatif di berbagai urusan, di antaranya:
Urusan Ekonomi. Jika kebijakan pemimpin salah, maka dalam setiap aspek, umat akan terjerat pada kesalahan, seperti riba misalnya. Padahal, riba sudah jelas keharamnya, tetapi tumbuh subur dan merajalela, seolah mereka tidak bisa lepas dari itu.
Urusan Pendidikan. Banyak kebijakan yang tujuannya bukan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas generasi cemerlang. Namun, kebijakan-kebijakan itu dijadikan sebagai proyek. Secara kasat mata, hal itu ditujukan untuk kepentingan pendidikan, tetapi secara real, tidak ada pengaruhnya bagi perbaikan pendidikan.
Urusan Sosial. Pergaulan bebas generasi sekarang sangat mengerikan. Banyak perzinaan yang dilakukan kaum pelajar. Selain itu, banyak sekali kebijakan yang jika tidak sesuai dengan aturan Allah, sehingga menimbulkan.
Penutup
Pemimpin harus sadar bahwa setiap kritikan merupakan bentuk kecintaan, agar tidak salah langkah dan menjadi mimpi buruk bagi umat dan generasi selanjutnya.
Pemimpin yang benar adalah orang yang siap menerima kritikan, agar kepemimpinannya selalu dikoreksi. Apabila ada kesalahan, maka langsung diperbaiki agar tidak terjadi kesalahan yang sama.
Pemimpin memang pengambil keputusan. Tetapi ingat, umat adalah pengontrol setiap kebijakan. Jika ada kesalahan, maka wajib hukumnya untuk mengingatkan. Dengan begitu, pemimpin akan sadar bahwa apa yang dilakukan selalu diawasi, sehingga dalam mengambil kebijakan, mereka akan lebih bijaksana.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar…” (QS. Ali Imran: 104)
Oleh: Suparti
Pejuang Dakwah
![]()
Views: 2
















