Tinta Media – Dunia sedang gelisah. Kapitalisme telah gagal menghadirkan keadilan. Sekularisme menciptakan kehampaan moral dan spiritual. Peradaban Barat mengalami krisis identitas dan orientasi. Dalam kekosongan global ini, muncul peluang sejarah bagi umat Islam. Umat Islam bukan hanya untuk bangkit, tetapi untuk memimpin dunia dengan nilai, sistem, dan pandangan hidup Islam yang adil dan rahmatan lil ‘alamin. Inilah momentum yang tidak boleh disia-siakan.
Dunia kini sedang kehilangan kompas. Mulai dari krisis iklim, krisis pangan, krisis utang, disintegrasi sosial, hingga konflik antarnegara menunjukkan bahwa dunia berada di titik jenuh sistem global saat ini. Tak ada lagi solusi dari Barat selain tambalan sementara dan narasi kosong.
Masyarakat global mulai mencari alternatif:
• Alternatif sistem ekonomi berbasis nilai,
• Alternatif tatanan keluarga dan sosial yang stabil,
• Alternatif kepemimpinan dunia yang bukan berdasarkan hegemoni kekuasaan. Dan Islam memiliki semua elemen itu.
Islam memiliki warisan untuk memimpin peradaban. Sejarah membuktikan bahwa umat Islam pernah menjadi mercusuar dunia. Kegemilangan Islam bukan hanya dalam kekuatan militer, tapi juga ilmu pengetahuan dan teknologi (mulai dari Al-Khwarizmi hingga Ibnu Sina).
Ketika Islam berjaya, keadilan sosial benar-benar nyata dirasakan oleh Muslim dan non-Muslim. Saat Islam memimpin dunia, sistem pemerintahan dan ekonomi Islam, memadukan syariah dengan maslahat umat.
Dunia pernah menyaksikan bagaimana Andalusia, Baghdad, Kordoba, Kairo, dan Istanbul sebagai pusat-pusat cahaya intelektual dunia. Kepemimpinan itu bukan utopia, tapi sejarah nyata.
Saat ini, meskipun umat Islam terfragmentasi secara politik, namun potensi kekuatan mereka luar biasa besar. Di seluruh dunia, umat Islam berjumlah lebih dari 2 miliar yang tersebar di lebih dari 50 negara.
Negeri-negeri Muslim pun dikaruniai Allah SWT kaya sumber daya alam seperti minyak, gas, emas. Memiliki lahan pertanian yang luas dan sumber daya manusia yang berlimpah.
Saat ini, peningkatan kesadaran ideologis di kalangan generasi muda Muslim terus menanjak. Teknologi dan media pun turut mempercepat pertukaran ide dan perlawanan terhadap dominasi pemikiran Barat. Yang kurang hanyalah visi politik bersama dan keberanian strategis.
Tanda-tanda kebangkitan Islam sebagai kekuatan global pun mulai tampak terlihat. Kebangkitan identitas Islam di Timur Tengah, Asia, Afrika, hingga Eropa adalah fakta yang tak terbantahkan. Demikian juga, meningkatnya gerakan pemikiran yang menyerukan penerapan syariah secara kaffah dan kritik terhadap sistem sekuler.
Inilah saatnya umat Islam tampil, bukan hanya sebagai pengikut tren global, tapi sebagai penentu arah dunia.
Agar umat Islam benar-benar mampu memimpin dunia, ada beberapa prasyarat mendesak yang harus dipenuhi:
• Persatuan politik di bawah satu kepemimpinan Islam global (Khilafah). Bukan sekadar forum negara Muslim seperti OKI yang tak bertaji.
• Penerapan syariah Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam sistem hukum, pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik.
• Kebangkitan intelektual dan spiritual untuk melahirkan generasi pemikir dan pemimpin berjiwa mujahid dan mujtahid.
• Kemandirian teknologi dan ekonomi agar tidak terus berada dalam jeratan sistem kapitalisme global.
• Kesadaran dakwah global bahwa Islam datang untuk seluruh umat manusia, bukan hanya untuk kaum Muslimin.
Waktunya umat Islam memimpin, bukan sekadar bertahan. Apalagi menjadi bebek negeri kafir Barat. Umat Islam telah lama menjadi korban kolonialisme, terpecah belah oleh batas negara, dan dilemahkan oleh narasi bahwa Islam tidak relevan untuk zaman modern. Tapi kini, angin sejarah mulai berbalik. Dunia haus akan sistem yang adil, dan Islam memiliki jawabannya.
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (QS Ali ‘Imran: 110)
Inilah saatnya umat Islam tidak hanya bangkit, tapi memimpin. Bukan untuk menguasai, tapi untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.[] Achmad Mu’it
Views: 75
















