Mengapa Liburan Bisa Terasa Hampa?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Liburan bukan hanya kebutuhan sekunder, tapi juga merupakan bentuk syukur atas kesehatan yang diberikan Allah. Dengan tubuh yang sehat, kita bisa menikmati kegiatan yang diinginkan, seperti menjelajahi pegunungan, mengunjungi kebun binatang, atau menikmati keindahan alam terbuka, yang semuanya membawa rasa bahagia dan kepuasan.

Sebagai manusia, kita memiliki naluri untuk menikmati keindahan yang Allah Azza wa Jalla ciptakan. Liburan dari rutinitas padat menjadi kebutuhan untuk mencari kesegaran dan ketenangan. Melihat keindahan alam, seperti hijaunya pepohonan atau deburan ombak di pantai, dapat membuat pikiran cerah dan membawa rasa damai yang tak ternilai harganya.

Setiap individu memiliki cara sendiri untuk mempersiapkan liburan, mulai dari baju ganti, makanan, minuman, hingga alat mandi. Dengan persiapan yang matang, liburan menjadi lebih menyenangkan. Namun, tak lama kemudian, waktu liburan akan berakhir dan kita harus kembali ke rutinitas sehari-hari.

Setelah liburan panjang, banyak orang mengalami “Holiday Paradox”, fenomena psikologis yang membuat waktu liburan terasa singkat, tetapi kembali ke rutinitas kerja terasa berat dan membuat kita merasa malas (30-1-2025, https://www.rri.co.id).

Fenomena di atas menunjukkan bahwa liburan tanpa arah membuat orang terombang-ambing mengikuti keinginan semata, tanpa mempertimbangkan aturan dan hukum yang telah ditetapkan Sang Pencipta. Bahkan, banyak pembenaran yang dijadikan dalih untuk melanggar ketentuan, padahal Allah telah menciptakan aturan untuk kebaikan manusia.

Seorang muslim seharusnya berpegang pada norma agama berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah. Dengan sistem nilai yang bersumber dari institusi Ilahi, lahirlah generasi mulia yang menjaga nilai-nilai izzah dalam setiap aktivitas, termasuk saat berlibur. Namun, di zaman sekarang, banyak yang lebih mengutamakan nilai duniawi dan materialistik.

Perlu diingat bahwa menjalankan syariat Islam, seperti mengenakan pakaian syar’i atau gamis dan khimar bagi perempuan bukanlah penghalang dalam beraktivitas, termasuk saat liburan. Yang terpenting adalah niat untuk taat kepada Allah, bukan sekadar mengikuti tren atau gaya. Semoga kita semua dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh. amiin allahuma amiiin. Wallahu’alam.

Oleh: Tjandra Sari Sutisno, M.Pd.
Aktivis Muslimah

Views: 38

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA