Dunia Bisu Terhadap Penderitaan Rakyat Gaza

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Sudah 28 bulan penjajahan Israel terhadap Gaza berlangsung. Selama itu pula warga Gaza hidup dalam ketakutan yang nyaris tak berujung. Dentuman bom, raungan pesawat tempur, dan runtuhan bangunan bukan lagi peristiwa luar biasa, melainkan rutinitas yang menghantui jiwa, terutama jiwa anak-anak Gaza. Dunia seakan telah terbiasa dengan berita kematian anak-anak Palestina. Tragedi kemanusiaan ini perlahan direduksi menjadi sekadar angka statistik, bukan lagi jeritan nurani.

 

Meski para pejuang kemanusiaan tak henti berjuang, Gaza tetap membara. Bukan karena dunia tak tahu, melainkan karena dunia memilih menutup mata. Israel terus menunjukkan arogansinya, seolah tak memiliki alasan untuk mundur. Keberanian semu itu tidak lahir dari kekuatan internal semata, melainkan dari dukungan penuh sekutu utamanya, Amerika Serikat (AS), sang tangan besi penguasa dunia.

 

Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden AS Donald Trump resmi diperkenalkan di panggung internasional pada hari Kamis (22/01/2026), di Davos, Swiss. Bertepatan berlangsungnya World Economic Forum 2026, upacara penandatanganan piagam BoP dihadiri Trump beserta 19 delegasi negara yang tergabung.

 

Beberapa di antaranya adalah Argentina, Qatar, Azerbaijan, Indonesia, Hungaria, Moroko, Bahrain, Pakistan, dan Saudi Arabia. Pihak Gedung Putih menyampaikan pada Associated Press bahwa ada 50 negara yang diundang untuk bergabung dalam BoP. Namun sejauh ini, belum semua negara memberikan keputusan, meski sudah ada puluhan negara yang menyatakan ikut bergabung dan ada pula yang menolak. (www.Beautynesia.com, 23/01/2026).

 

Ironisnya, forum yang diklaim sebagai jalan menuju perdamaian justru berada di bawah kendali negara yang menjadi sponsor utama penjajahan dan genosida di Palestina. Fakta ini menunjukkan bahwa perdamaian versi kapitalisme global bukanlah perdamaian yang adil, melainkan perdamaian yang tunduk pada kepentingan politik dan ekonomi negara adidaya. Dunia hari ini berada di bawah hegemoni Amerika Serikat dan ideologi kapitalisme sekulernya. Akibatnya, umat Islam terus berada dalam posisi terjajah, lemah, menderita, dan dipaksa menjauh dari identitas ideologis Islam. Berbagai konflik dan kerusakan yang terjadi di belahan dunia saat ini tidak bisa dilepaskan dari keserakahan kepemimpinan kapitalisme global. AS semakin menampakkan wajah aslinya melalui serangan, ancaman, dan intervensi ke berbagai negara.

 

Dengan dalih demokrasi, keamanan, dan stabilitas global, AS melakukan aneksasi, menguasai sumber daya alam, serta mencampuri urusan internal negara lain tanpa memedulikan hukum internasional maupun kecaman masyarakat dunia. Ideologi kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam, mulai dari akidah, muamalah, akhlak, hingga sistem ekonomi, politik, sosial budaya, dan pendidikan.

 

Umat dipaksa menerima sistem hidup yang memisahkan agama dari kehidupan, sementara kezaliman global terus dilegitimasi. Inilah bentuk nyata penjajahan modern, bukan hanya merampas tanah, tetapi juga merampas cara berpikir dan cara hidup.

 

Dalam kondisi inilah umat Islam perlu kembali diingatkan akan keberadaan ideologi (mabda) Islam yang paripurna sebagai modal kebangkitan. Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem kehidupan yang mampu melahirkan kepemimpinan global yang adil dan membawa rahmat bagi seluruh alam, yakni Khilafah. Khilafah inilah yang menjadi satu-satunya harapan realistis untuk melawan hegemoni AS dan kapitalisme global.

 

Khilafah bukan hanya melindungi umat Islam, tetapi juga seluruh manusia dari kezaliman, kemungkaran, kemaksiatan, dan berbagai kerusakan serta bencana yang ditimbulkan oleh sistem buatan manusia. Sejarah telah membuktikan bahwa di bawah kepemimpinan Islam, keadilan ditegakkan tanpa pandang agama, ras, maupun bangsa.

 

Allah Swt. telah mengingatkan dalam firman-Nya, “Wahai Rasul (Muhammad)! Janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya…” (QS Al-Maidah [5]: 41)

 

Ayat ini menegaskan bahwa kebohongan, manipulasi kebenaran, dan pengkhianatan terhadap keadilan adalah karakter tetap dari kekuatan kufur yang enggan tunduk pada hukum Allah. Maka berharap keadilan dari sistem yang dibangun di atas kekufuran adalah ilusi.

 

Gaza hari ini bukan hanya persoalan Palestina. Gaza adalah cermin kegagalan kepemimpinan global kapitalisme. Selama umat Islam tidak bangkit dengan ideologinya sendiri dan memperjuangkan tegaknya kepemimpinan Islam, penderitaan seperti di Gaza akan terus berulang. Dunia membutuhkan kepemimpinan global yang membawa rahmat dan itu hanya bisa lahir dari Islam yang diterapkan secara kafah. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Rini Aisy,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 35

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA