Pemerhati Remaja Ajak Muslimah Ambil Peran

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Pemerhati Remaja Ajak Muslimah Ambil Peran

Tinta Media – Pemerhati
Remaja Kak Fathiyah Khairiyah, S.Li. mengajak muslimah Karawang untuk mengambil
peran, dan bukan hanya sebagai penonton.

“Jadi
membuat visi misi agar menuju goals seorang muslimah menuju surga-Nya, tentu
harus mengenali diri kita sendiri, agar tidak salah langkah untuk menentukan
peran kita mau berkiprah seperti apa? Prestasi seperti apa yang mau
dipersembahkan kepada Rasulullah nanti?” tuturnya dalam MTR (Majelis Taklim
Bulanan) untuk Muslimah Karawang: Aku Kira Mental Illnes, Ternyata Kebanyakan
Screen Time” di Aula Asrama Haji, Karangpawitan, Karawang, Ahad (18/8/24) yang
diselenggarakan oleh Komunitas SWI (Smart With Islam).

Kak Fathia
mengajak sahabat smart untuk fokus menentukan peran yang diambil. Peran di
depan layar, di belakang layar, pemain, atau bahkan mencukupkan sebagai
penonton. “Realitas hari ini, kita dipaparkan dengan era digital native, ketika
salah mengaplikasikan, tidak bisa mengendalikan nafsu, kita akan screen time.
Dan berangkat dari screen time itu langkah awal penyebab mental illnes,”
tuturnya.

Ia mengajak
sahabat smart untuk menggunakan gadget dengan benar. “Bingung mau cari apa? Mau
ngapain? Itu udah ciri-ciri orang terpapar screen time. Makanya manfaatkan
fitur mute di sosial media, biar lebih fokus terhadap penggunaan gadget,”
sambungnya dengan lugas.

Ia
mengingatkan ketika habits dengan lifestyle bebas seperti halnya screen time,
menjadikan standar hidup orang mudah berubah. Dulu pakaian sopan itu,
standarnya tertutup, malu jika mengenakan pakaian terbuka. Tapi sekarang,
mayoritas orang terbiasa dengan kostum terbuka, atau bikini dianggap sopan jika
rapi dan bersih. “Bukti bahwa standar orang berubah selaras mengikuti
perkembangan zaman, sehingga melahirkan tren-tren unfaedah seperti fomo, flexing,
manusia nggak gerak, dsb,”  tuturnya.

Kak Fathia merespons
kasus yang tengah viral, 18 anak paskib dipaksa melepaskan hijab saat
pengukuhan. Nah, seperti itu jika orang kebanyakan screen time, akan melahirkan
manusia dengan banyak ide. Ironisnya, ide-ide yang muncul malah tuai
kontroversial karena hot, terlalu bebas. “Dalam agama Islam memakai hijab
hukumnya wajib ya bukan sebatas ingin terlihat sopan semata,”  sesalnya.

Berangkat
dari screen time, banyak sekali orang berorientasi pada hasil, mengingat
banyaknya konten-konten dengan lifestyle bebas, menjadi pemicu orang harus
memiliki pencapaian seperti orang lain. “Padahal bisa saja, pencapaian orang
lain tidak sesuai passion kita, bakatnya beda, situasi, dan keadaan berbeda.
Sehingga ketika terlalu berorientasi pada hasil, dengan standar hidup rawan
berubah, tidak sedikit orang banyak tersesat dengan cara instan dan cenderung
kotor. Misalnya, membuat konten porno, meskipun tidak sesuai norma-norma yang
ada, karena dianggap menghasilkan cuan cepat, bisa kaya instan, sehingga cara
kotor dikerjakan. “Itulah yang sekarang sedang terjadi,” bebernya.

Kak Fathia
juga memberikan tips and trik agar muslimah hari ini tidak tersesat dengan
maraknya gaya hidup yang aneh bin nggak masuk akal, seperti screen time yang
bisa menyebabkan mental illnes. “Proud to be Muslim, kalau kita sudah PD
(percaya diri) dengan agama Islam, orang mau jungkir balik seperti apapun, mau
make lifestyle tren ala-ala kece bin ngehits pun, pikiran kita tidak akan
teracuni oleh virus sampah itu. Tetap istiqomah dengan apa yang memang
seharusnya kita kerjakan dan perjuangkan” ungkapnya.

Ia
menjelaskan, meskipun pemahaman orang sekarang banyak keliru mengenai Islam.
Banyak yang beranggapan bahwa Islam hanya mengatur ibadah dengan Sang Pencipta
saja, selebihnya urusan masing-masing aja. “Realitas yang nggak make sanse
dengan penalaran dari mana manusia berasal, banyak orang yang paham terkait
penciptaan manusia itu dari Allah Swt, namun sedikit pula yang istiqomah dengan
seperangkat aturan hidup seluruhnya yang ditetapkan oleh Sang Pencipta,”
pungkasnya.

Menurutnya,
memahami Islam sebagai problem solving dari kerusakan hari ini, harus dimulai
belajar dan memahami esensi Qadha dan Qadar. “Mempelajari manusia berada dalam
dua circle, pertama circle di luar ranah kita, atau bagian dari hak preogratif
Allah. Kedua, circle di dalam ranah manusia. Tugas manusia fokus terhadap
circle kedua. Jangan fokus terhadap respons kita dengan apa yang terjadi,
tetapi fokus dengan apa yang bisa kita kerjakan setelah ujian datang
menghampiri. Karna rasa kecewa berangkat dari ekspektasi yang tidak terpenuhi,
jadi sandarkan standar hidup, hanya kepada Sang Pencipta agar tidak kecewa,” pungkasnya.[]
Novita Ratnasari, S.Ak.

Loading

Views: 17

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA